Kupang, NTT — Direktur PDAM Kota Kupang Isidorus Lilijawa memaparkan berbagai capaian perusahaan selama satu tahun kepemimpinannya dalam Press Conference “Setahun di Jalan Kolaborasi: Kinerja Nyata Perumda Air Minum Kota Kupang”.
Kegiatan yang berlangsung Selasa, (29/9/2026) tersebut memaparkan perkembangan PDAM Kota Kupang dari berbagai sisi, mulai dari kinerja keuangan, pertumbuhan pelanggan, peningkatan jam layanan, pengembangan jaringan, pengendalian kehilangan air, pelayanan pelanggan, kerja sama dengan berbagai pihak, hingga rencana pengembangan perusahaan dalam empat tahun mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Isidorus menegaskan bahwa capaian satu tahun bukan hasil kerja seorang direktur semata, melainkan kerja bersama seluruh jajaran perusahaan.
“Perjalanan setahun ini tidak berjalan sendiri. Karena itu, proyek kita adalah setahun di dalam korporasi. Kita berjalan bersama-sama.”
Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan perusahaan.
“Kalau mau jalan cepat, jalan sendiri-sendiri. Tapi kalau mau jalan jauh, mari kita jalan sama-sama.”
Salah satu capaian yang disoroti dalam kegiatan adalah pertumbuhan pelanggan.
Jumlah sambungan rumah (SR) yang pada akhir 2025 tercatat 17.991 SR meningkat menjadi 19.155 SR pada Agustus 2026.
Artinya, terjadi penambahan 1.164 SR hanya sampai Agustus 2026.
Isidorus mengatakan angka tersebut cukup signifikan dibandingkan pola penambahan pelanggan pada periode sebelumnya.
“Selama ini kita paling, paling 390. Itu pun kalau misalnya ada penambahan dari PUPR baik Kota Kupang maupun Provinsi NTT baru bisa kita naik secara signifikan. Tapi ternyata baru sampai dengan Agustus kita sudah ada di peningkatan seribu SR lebih.”
Pertumbuhan sambungan rumah tersebut menjadi salah satu indikator perluasan cakupan pelayanan air minum kepada masyarakat.
Selain jumlah pelanggan, PDAM Kota Kupang mencatat peningkatan jam pelayanan.
Berdasarkan evaluasi kinerja 2025, rata-rata jam pelayanan berada pada 11,39 jam. Sementara pada Agustus 2026, jam pelayanan telah mencapai 16 jam.
Isidorus mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pelayanan dari aspek 3K, yakni kualitas, kuantitas dan kontinuitas.
“Berdasarkan hasil evaluasi kinerja tahun 2025, jumlah jam pelayanan kita ada di 11 jam. Sedangkan sekarang ini kita sudah ada di 16 jam pelayanan. Artinya semakin baik pelayanan kita dari sisi 3K, kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pelayanan.”
Dalam paparan tersebut, PDAM Kota Kupang juga menyampaikan perkembangan kondisi finansial perusahaan dari akhir 2025 hingga Agustus 2026.
Laba/rugi perusahaan pada akhir 2025 tercatat minus Rp25.822.644, sedangkan hingga Agustus 2026 berubah menjadi laba Rp137.603.657,88.
Sementara itu, arus kas bersih pada akhir 2025 sebesar Rp788.750.003 meningkat menjadi Rp1.058.813.074,57 hingga Agustus 2026.
Isidorus menjelaskan, arus kas merupakan salah satu indikator kemampuan operasional perusahaan.
“Kalau dari sisi arus kas, arus kas ini kemampuan operasional dari Perumda Air Minum Kota Kupang. Jadi ketika kita meningkatkan kinerja keuangan secara otomatis kemampuan operasional kita akan meningkat dan juga akan meningkatkan kinerja kita pada akhirnya.” ujarnya.
Dengan meningkatnya arus kas, ia menilai kemampuan perusahaan untuk memperbaiki pelayanan juga semakin kuat.
Dari sisi kinerja keseluruhan, SPI mencatat nilai kesehatan perusahaan 2,88 pada 2025 dengan kategori SEHAT, kemudian meningkat menjadi 2,90 pada Semester I 2026, juga dalam kategori SEHAT.
Namun, beberapa aspek masih akan mengalami evaluasi kembali pada akhir tahun karena data 2026 yang digunakan dalam penilaian SPI baru mencakup satu semester.
Paparan yang disampaikan juga menunjukkan perkembangan dari sisi teknik.
Jumlah unit produksi meningkat dari 33 unit pada Januari menjadi 43 unit pada Agustus 2026.
Panjang jaringan pipa mencapai sekitar 423.670 meter, sementara cakupan wilayah layanan meningkat menjadi 20,61 persen.
Rata-rata jam layanan juga meningkat dari 13 jam pada Januari menjadi 16 jam pada periode Juni hingga Agustus.
Volume produksi air disebut meningkat 45,5 persen dari Januari hingga Agustus 2026.
Namun, perusahaan masih menghadapi tantangan kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW). Tingkat NRW dalam data yang dipaparkan berada pada kisaran 28–43 persen, dengan titik tertinggi pada Juli 2026 sebesar 43 persen atau sekitar 121.559 meter kubik.
PDAM menargetkan NRW turun secara bertahap menjadi di bawah 25 persen pada 2026, di bawah 22 persen pada 2027, dan di bawah 20 persen pada 2028.
Strategi yang disiapkan antara lain perbaikan kebocoran, penggantian meter bermasalah, manajemen tekanan jaringan, peremajaan pipa, digitalisasi pembacaan meter serta peningkatan kapasitas SDM.
Dari bagian pelayanan, dipaparkan bahwa total penambahan sambungan rumah pada periode Oktober 2025 hingga September 2026 mencapai 2.017 SR.
Jumlah tersebut terdiri dari 504 SR reguler dan 1.513 SR hibah.
Pada 2025, realisasi penambahan SR mencapai 1.493 SR, atau 100,40 persen dari target 1.487 SR.
Perusahaan juga menjalankan program promo pemasangan baru yang mencatat 650 peminat, dengan 650 calon pelanggan terdaftar dan 475 SR yang merealisasikan pembayaran harga promo.
Selain itu, pengaduan pelanggan yang masuk selama Oktober 2025 hingga September 2026 tercatat 1.327 pengaduan, dengan 1.284 pengaduan telah ditangani, atau sekitar 97 persen.
PDAM juga membentuk Satgas Ganti Meter untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan ketepatan pencatatan penggunaan air pelanggan.
Selama periode Oktober 2025 hingga September 2026, tercatat 887 unit meter air telah diganti dengan rata-rata sekitar 73 unit per bulan.
Perusahaan juga melakukan pengadaan alat tera meter serta pelatihan akurasi meter bagi staf.
Sementara itu, penggunaan Water Meter Tester telah dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Manulai, Fatukoa, Bello, Oesapa Selatan, Lasiana, Kelapa Lima, Fatululi, Alak dan Penkase.
Sebanyak 35 unit meter telah ditera pada periode 26 Agustus hingga 22 September 2026.
Dalam kegiatan yang digelar di aula PDAM Kota Kupang, PDAM Kota Kupang juga memaparkan pengembangan kemitraan dengan sejumlah pengembang perumahan.
Dalam paparan disebutkan adanya kerja sama dengan sejumlah pengembang, antara lain PT Charson Timorland Estate, PT Anugerah Group, PT Griya Lontar Permasi, PT Gabriel Bangun Jaya, PT Pembangunan Sehat Sejahtera, PT Satria Indra Jaya, serta PT Kameko atau Golden Loti Residence yang masih dalam proses.
Dari kerja sama tersebut terdapat penyerahan sumber air, reservoir, jaringan perpipaan dan sambungan rumah.
Salah satu kerja sama mencatat 1.212 SR pada PT Charson Timorland Estate, sementara PT Anugerah Group memiliki 323 SR, PT Griya Lontar Permasi 45 SR, PT Gabriel Bangun Jaya 103 SR, PT Pembangunan Sehat Sejahtera 204 SR dan PT Satria Indra Jaya 34 SR.
PDAM juga menjalin kolaborasi dengan PUPR dan Yayasan Plan International Indonesia.
Program tersebut mencakup pembangunan sumur bor baru, pelatihan penanganan NRW, operasional IPA SPAM Dendeng, perluasan jaringan distribusi serta penambahan sambungan rumah.
Kerja sama dengan lembaga pendidikan juga dilakukan melalui penerimaan mahasiswa PKL, kuliah umum, seminar, kunjungan lapangan dan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas.
Salah satu rencana yang sedang didorong adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur bor yang sebelumnya dibangun Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II melalui P2AT, tetapi tidak lagi dimanfaatkan.
Salah satu yang telah diidentifikasi berada di sekitar Terminal Bello.
Menurut Isidorus, sumur tersebut dibangun sekitar 2011 dan pernah dikelola kelompok masyarakat selama satu hingga dua tahun sebelum akhirnya tidak lagi beroperasi.
“Padahal di situ warga membutuhkan air. Dan kita melihat, wah ini rugi kalau sumur itu tidak dimanfaatkan,” katanya.
PDAM telah berkomunikasi dengan BBWS Nusa Tenggara II. Jika persyaratan administrasi terpenuhi, BBWS akan melakukan pemeriksaan kondisi sumur, pompa dan jaringan listrik, kemudian melakukan perbaikan jika diperlukan.
Setelah siap, sumur tersebut akan diserahkan kepada PDAM untuk dioperasikan.
“Perumda akan operasionalkan. Tentu pakai manajemen Perumda. Pasang SR, berbayar. Tiap bulan bayar ke kita.” ujarnya.
Dalam konferensi pers tersebut, kelompok masyarakat Bello juga menyerahkan surat pernyataan terkait sumur bor kepada PDAM untuk diteruskan kepada BBWS.
PDAM Kota Kupang juga tengah menjajaki penggunaan smart water meter atau meteran pintar.
Konsepnya menyerupai meter listrik prabayar, di mana pelanggan melakukan pengisian sebelum menggunakan layanan.
Isidorus mengatakan penerapan teknologi tersebut kemungkinan dilakukan terlebih dahulu pada kawasan atau klaster tertentu.
“Spot-spot tertentu yang akan bisa kita terapkan meter digital ini sudah seperti meter listrik. Jadi kalau tidak isi pulsa, air tidak mengalir.” jelasnya.
Namun, penerapan smart water meter membutuhkan kesiapan sistem distribusi, sistem pelanggan dan sistem operasional.
Pihak PDAM juga telah melihat contoh meter digital terbaru dan melakukan komunikasi terkait teknologi tersebut.
Mengenai kontribusi kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD), Direktur PDAM menjelaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen mengikuti regulasi yang berlaku.
Sebelumnya, terdapat pakta integritas terkait kontribusi kepada Pemerintah Kota Kupang dengan nilai Rp100 juta untuk 2026.
Namun, menurut penjelasan Bagian Keuangan, berdasarkan koordinasi dengan BPKP dan ketentuan yang dirujuk perusahaan, PDAM belum dapat memberikan kontribusi PAD dalam kondisi saat ini karena cadangan umum perusahaan belum mencapai nilai yang dipersyaratkan.
Modal yang dibukukan perusahaan disebut sekitar Rp36 miliar, sementara cadangan yang disebut diperlukan mencapai sekitar Rp7,6 miliar.
Karena laba akumulatif perusahaan belum mencapai angka tersebut, kontribusi PAD belum direalisasikan.
Direktur menegaskan hal tersebut bukan berarti perusahaan tidak ingin berkontribusi kepada pemerintah.
“Kita mengikuti regulasi yang ada. Bukan karena kita tidak berkontribusi kepada pemerintah, tetapi memang dengan kondisi perusahaan seperti sekarang ini kita tidak diwajibkan memberikan kontribusi PAD.” kata Isidorus.
Menurutnya, laba yang tersedia akan digunakan untuk kebutuhan pengembangan perusahaan, termasuk perluasan jaringan dan penggantian pipa yang rusak.
“Dengan laba yang ada, kita akan menggunakan itu untuk pengembangan jaringan, perluasan cakupan, penggantian pipa-pipa yang rusak dan segala macam. Jadi kita akan kelola secara mandiri di internal perusahaan.”
Terkait penyertaan modal, Isidorus mengatakan bahwa, rencana bisnis lima tahun PDAM mengalokasikan kebutuhan sekitar Rp5 miliar setiap tahun, atau sekitar Rp25 miliar selama lima tahun.
Namun, Perda penyertaan modal sebelumnya berakhir pada akhir 2025 sehingga dibutuhkan regulasi baru.
PDAM kemudian berkoordinasi dengan Bagian Perekonomian, Bagian Hukum dan unsur pemerintah daerah untuk mendorong lahirnya Ranperda penyertaan modal.
Sebagai persyaratan, PDAM telah menyusun analisis investasi bekerja sama dengan Unwira Kupang.
Analisis tersebut telah dipresentasikan kepada KPM. Selanjutnya disusun kajian akademik dan Ranperda.
Menurut Isidorus, dokumen tersebut telah tersedia dan telah disampaikan kepada DPRD melalui Bapemperda untuk diagendakan.
Dalam pembahasan KUA-PPAS, nilai penyertaan modal yang diusulkan pemerintah disebut sebesar Rp10 miliar.
Dari sisi hubungan pelanggan, Forum Pelanggan direaktivasi pada April 2026 sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat.
PDAM juga meluncurkan website resmi sebagai sarana keterbukaan informasi publik.
Hasil survei kepuasan pelanggan menunjukkan nilai meningkat dari 77,27 menjadi 82,54, atau naik 5,27 poin, dengan predikat BAIK.
Perusahaan juga menjalankan gerakan kepedulian lingkungan “Perumda Bergetar”, dengan mendorong pegawai membuat minimal satu lubang resapan di rumah masing-masing sebagai bagian dari upaya menjaga sumber air tanah.
Dari Bagian Administrasi dan Keuangan, PDAM mencatat laba bersih Rp461.971.402,84 dengan total pendapatan Rp15.840.985.731,26 dan total biaya/pengeluaran Rp15.379.014.328,42.
Sementara penerimaan kas selama 1 Februari hingga 25 September 2026 mencapai Rp10.125.290.750.
Perusahaan juga memperluas kanal pembayaran melalui Bank NTT, BNI, Bank Mandiri dan PT Pos Indonesia, serta mengembangkan pembayaran non-tunai melalui QRIS.
Isidorus menekankan bahwa perjalanan perusahaan selama satu tahun, harus menjadi momentum untuk membangun rasa memiliki seluruh pegawai.
Ia menyebut PDAM sebagai rumah kedua bagi para pegawai.
“Kita mungkin punya rumah pertama di rumah kita masing-masing, di sana ada rumah tangga. Tetapi kita punya rumah kedua di Perumda Kota Kupang.”
Karena itu, ia mengajak seluruh pegawai untuk mencintai dan menjaga perusahaan.
“Mari kita cintai perusahaan ini, kita cintai rumah ini, kita terus lakukan yang terbaik untuk bisa melayani masyarakat Kota Kupang dari sisi penyediaan air bersih.”
Menurutnya, sebagian besar pegawai akan berkarya di perusahaan hingga pensiun, sementara masa penugasannya sebagai direktur berlangsung selama lima tahun.
Karena itu, empat tahun masa penugasan yang tersisa diharapkan dapat digunakan untuk melanjutkan berbagai program pengembangan.
“Mudah-mudahan dengan waktu empat tahun tersisa kita bisa melakukan lagi hal-hal yang spektakuler, hal-hal yang luar biasa, sehingga cakupan pelayanan kita semakin bertambah, pelayanan kita bertambah, jaringan kita bertambah.”
Target akhirnya adalah semakin luasnya akses air bersih bagi masyarakat Kota Kupang.
“Tentunya akses air bersih sudah bisa dirasakan oleh seluruh warga Kota Kupang.”
✒️: kl
