![]() |
| Warga Wuring menanam pohon pisang di tengah jalan rusak sebagai bentuk protes terhadap kondisi infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki, Rabu (18/03/2026). |
Jalan rusak Wuring kembali jadi sorotan setelah warga melakukan aksi protes dengan menanam pisang di tengah jalan dan membentangkan baliho berisi kritik tajam kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD.
Maumere,NTT, 18 Maret 2026 –Aksi protes warga terhadap jalan rusak Wuring kian memanas. Tidak hanya menanam pisang sebagai simbol kekecewaan, warga juga memasang baliho dengan kalimat yang langsung menyentil pemerintah daerah.
Tulisan dalam baliho itu berbunyi:
“DAERAH SUDAH MISKIN??? SEHINGGA TIDAK MAMPU BIAYAI JALAN INI.
Tidak butuh orang pintar untuk jadi pejabat, tapi orang bijak yang peka terhadap kesulitan rakyat!”
Kalimat tersebut mencerminkan akumulasi kekecewaan warga yang selama bertahun-tahun harus menghadapi kondisi jalan yang rusak tanpa kejelasan perbaikan.
Warga mengaku, kondisi jalan rusak Wuring ini sudah berlangsung kurang lebih 15 tahun. Selama itu pula, berbagai harapan terhadap perbaikan jalan tak kunjung terwujud.
Jalan yang seharusnya menjadi akses utama justru berubah menjadi jalur yang berbahaya. Lubang besar, genangan air, serta kondisi jalan yang tidak layak dilalui menjadi hambatan serius bagi aktivitas masyarakat.
Mulai dari aktivitas ekonomi, akses pendidikan, hingga pelayanan kesehatan, semuanya terdampak.
“Kalau jalan sudah ditanami pisang, itu tanda kami sudah lelah menunggu. Ini bukan sekadar protes, ini jeritan,” ungkap salah satu warga.
Aksi menanam pisang bukan sekadar aksi spontan. Bagi warga, itu adalah simbol kuat bahwa jalan tersebut sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Dengan kondisi yang ada, jalan lebih menyerupai lahan yang bisa ditanami daripada fasilitas publik yang layak digunakan.
Aksi ini juga menjadi cara warga menarik perhatian publik dan pemerintah agar kondisi jalan rusak Wuring tidak lagi diabaikan.
Melalui aksi ini, warga mengirimkan pesan terbuka kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD agar tidak lagi sekadar memberikan janji.
Warga menegaskan bahwa mereka membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar kunjungan atau wacana.
“Ini jalan hidup kami. Kami butuh perhatian serius, bukan kunjungan sesaat tanpa solusi,” tegas warga lainnya.
Bahkan dengan nada sindiran, warga menyampaikan:
“Jangan tunggu pisang berbuah dulu baru diperbaiki.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa kesabaran masyarakat sudah berada di batas akhir.
Warga berharap pemerintah daerah dan DPRD segera mengambil langkah serius melalui kebijakan dan penganggaran yang berpihak kepada masyarakat.
Menurut mereka, jalan tersebut merupakan akses vital yang tidak bisa terus dibiarkan dalam kondisi rusak.
Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada mobilitas, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi.
Aksi warga Wuring bukan sekadar protes biasa, tetapi cerminan kelelahan yang sudah menumpuk bertahun-tahun.
Ketika jalan tak lagi berfungsi, suara rakyat mencari cara lain untuk didengar.
Kini bola ada di tangan pemerintah—bertindak, atau kembali membiarkan.
Jalan rusak bukan sekadar soal aspal.
Ia menyangkut hidup banyak orang.
Jika dibiarkan, yang rusak bukan hanya jalan.
Tapi juga kepercayaan.
