![]() |
| Panitia Festival Paskah GMIT melakukan audiensi dengan Gubernur NTT untuk membahas persiapan Festival Paskah 2026 yang akan menghadirkan tiga prosesi besar sebagai bagian dari pengembangan wisata religi di Nusa Tenggara Timur. |
Kupang, NTT – Ketua Panitia Paskah Sinode GMIT Simson Polin bersama pengurus panitia melakukan audiensi dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Sabtu (7/3). Dalam pertemuan tersebut, panitia memaparkan rencana pelaksanaan Festival Paskah 2026 GMIT yang akan menghadirkan tiga prosesi besar dan melibatkan ribuan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Audiensi ini sekaligus menjadi momentum koordinasi antara panitia dan Pemerintah Provinsi NTT guna memastikan pelaksanaan festival berjalan baik. Gubernur NTT menyatakan siap dan sangat mendukung pelaksanaan Festival Paskah 2026 yang diharapkan tidak hanya menjadi perayaan iman umat Kristen, tetapi juga berkembang menjadi wisata rohani di NTT.
Sebagai ketua panitia yang dipercayakan oleh Ketua Sinode GMIT dan Ketua Pemuda GMIT, Simson Polin menjelaskan bahwa Festival Paskah 2026 akan menghadirkan tiga prosesi penting yang sarat makna spiritual, kebersamaan, serta keterlibatan masyarakat luas.
Prosesi Damai dari Belu hingga Rote Ndao
Prosesi pertama adalah Prosesi Damai, yang akan dilaksanakan dengan perjalanan simbolik membawa Obor Perdamaian melintasi beberapa wilayah di Pulau Timor hingga mencapai ujung selatan Indonesia.
Prosesi ini akan dimulai dari Kabupaten Belu, kemudian melewati Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang, Kota Kupang, hingga berakhir di Kabupaten Rote Ndao.
Prosesi tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 28 Maret hingga 10 April 2026.
Pada akhir perjalanan, Obor Perdamaian akan disimpan di Titik Nol Beranda Terselatan Nusantara di Rote Ndao, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Rote Ndao.
Prosesi ini menjadi simbol pesan perdamaian, persatuan, serta doa bagi bangsa Indonesia dari wilayah paling selatan Nusantara.
Prosesi Galilea di Pantai LLBK
Prosesi kedua adalah Prosesi Galilea atau Paskah Galilea yang akan dilaksanakan di Pantai LLBK.
Dalam prosesi ini, para nelayan dari berbagai wilayah seperti Semau, Sulamu, Tablolong, Bolok, Namosain, Oesapa, dan Oeba akan berlayar menggunakan perahu menuju Pantai LLBK dengan membawa hasil tangkapan mereka.
Setibanya di pantai, Ketua Sinode GMIT, panitia, para nelayan, serta jemaat yang telah menunggu akan bersama-sama merayakan makan Paskah bersama.
Menu yang disajikan berupa ikan hasil tangkapan nelayan, roti, ketupat, serta berbagai hidangan khas masyarakat pesisir.
Selain ibadah dan makan bersama, kegiatan ini juga akan diisi dengan:
- perlombaan rakyat
- kegiatan kebersamaan jemaat
- partisipasi UMKM lokal yang membuka lapak usaha
- Prosesi Galilea ini akan dilaksanakan sehari sebelum perayaan Paskah.
Pawai Paskah Libatkan Puluhan Ribu Peserta
Prosesi ketiga adalah Prosesi Paskah atau Pawai Paskah yang akan digelar di Kota Kupang.
Pawai akan dimulai dari Bundaran PU, melewati Jalan Eltari – Kuanino, dan berakhir di Gereja Kota Kupang.
Kegiatan ini diperkirakan akan melibatkan sekitar 20.000 orang, baik peserta pawai maupun masyarakat yang datang menyaksikan.
Selain itu, sekitar 200 pelaku UMKM juga akan terlibat untuk meramaikan kegiatan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Panitia berharap Festival Paskah 2026 dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Konsep prosesi lintas wilayah, kegiatan di kawasan pesisir, serta pawai besar di kota diharapkan menjadikan festival ini sebagai ikon wisata rohani di Nusa Tenggara Timur, sebagaimana Semana Santa di Flores yang telah menjadi tradisi religius tahunan.
Ketua Panitia Simson Polin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan menyukseskan kegiatan ini.
Dukungan diharapkan datang dari Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, aparat kepolisian dan TNI untuk pengamanan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta seluruh masyarakat NTT.
“Kami mohon dukungan dan doa dari semua pihak agar Festival Paskah 2026 dapat berjalan dengan baik dan menjadi berkat bagi masyarakat NTT,” ujarnya.
Festival ini diharapkan menjadi momentum kebersamaan, penguatan iman, sekaligus promosi budaya dan pariwisata rohani di Nusa Tenggara Timur.
✒️: kl
