![]() |
| Massa Aliansi Cipayung Plus menggelar aksi demonstrasi di Kabupaten Sikka dan bergerak menuju Rumah Jabatan (Rujab) Bupati, Rabu (1/4/2026). Aksi ini dipicu kekecewaan karena Bupati tidak berhasil ditemui di kantor maupun di rujab. |
Aksi mahasiswa Sikka memanas hingga berujung pada penyegelan simbolik Kantor Bupati dan Rumah Jabatan (Rujab), setelah massa tidak berhasil menemui Bupati dan Wakil Bupati, Rabu (1/4/2026).
Maumere, NTT — Aksi mahasiswa Sikka yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus (GMNI, HMI, IMM, LMND, dan BEM UNIPA) berlangsung panas sejak siang hari.
Massa mendatangi Kantor Bupati Sikka untuk melakukan dialog terbuka, namun tidak menemukan pimpinan daerah di lokasi.
Kekecewaan pun memuncak. Massa melakukan penyegelan simbolik kantor dengan memasang spanduk di pintu masuk serta membakar dua ban.
“Kami datang membawa suara rakyat, tapi tidak ada yang menemui kami,” tegas salah satu peserta aksi.
Tidak berhenti di kantor, massa bergerak menuju Rumah Jabatan (Rujab) Bupati untuk kembali meminta pertemuan langsung.
Namun hasilnya sama—Bupati tidak berada di tempat.
“Kami ke kantor tidak ada, ke rumah jabatan juga tidak ada. Ini yang membuat kami kecewa,” ujar perwakilan massa.
Situasi ini semakin memperkuat kemarahan massa yang kemudian menilai tidak adanya itikad dari pimpinan daerah untuk menemui masyarakat.
Aliansi Cipayung Plus menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk evaluasi terhadap kinerja pemerintah daerah yang telah berjalan lebih dari satu tahun.
Perwakilan GMNI, Wilfridus Iko, menyebut banyak janji belum terealisasi.
“Sudah satu tahun lebih, tapi banyak janji belum terealisasikan,” ujarnya.
Tuntutan yang disampaikan meliputi:
- Rumah layak huni
- Infrastruktur jalan
- Penyelesaian konflik agraria di Laha
- Kelanjutan RS Pratama Doreng
Perwakilan HMI, Andi Ashar, menilai kepemimpinan daerah lebih banyak diisi retorika dibanding kerja nyata.
“Masyarakat tidak butuh retorika, tapi kerja nyata,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena pencitraan.
“Lebih banyak konten daripada realisasi,” tambahnya.
IMM melalui Sahdan Saputra juga menilai kepala daerah tidak responsif terhadap aspirasi mahasiswa.
LMND dan BEM UNIPA menegaskan bahwa mahasiswa hadir sebagai kontrol sosial, bukan lawan pemerintah.
“Kami bukan lawan pemerintah, kami mitra kritis,” ujar Stefanus Bura.
Aksi juga diwarnai pengibaran bendera bertuliskan “Indonesia Gelap” sebagai simbol kritik sosial.
Aliansi Cipayung Plus memastikan aksi belum berakhir dan akan kembali menggelar aksi jilid II setelah Paskah dengan jumlah massa lebih besar.
“Aksi ini belum selesai, kami akan kembali dengan kekuatan lebih besar,” tegas massa.
Menanggapi aksi tersebut, Bupati Sikka menyampaikan apresiasi terhadap sikap kritis mahasiswa.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas demonstrasi ini. Ini menunjukkan sikap kritis mahasiswa dalam fungsi kontrol,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Terkait ketidakhadirannya di kantor maupun rumah jabatan, ia memberikan penjelasan.
“Karena ini hari libur, saya sedang berada di luar untuk bertemu masyarakat,” jelasnya.
Aksi mahasiswa Sikka menjadi gambaran meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah daerah, terutama terkait realisasi program dan respons terhadap aspirasi masyarakat.
Saat ruang dialog tak terbuka, suara rakyat akan mencari jalannya sendiri.
✒️: Albert Cakramento
