Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Langkah Sunyi Aipda Sukiman: Saat Polisi Menjadi Harapan di Ujung Negeri

Sabtu, 02 Mei 2026 | Mei 02, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T10:22:08Z

 

Aipda Lalu Sukiman saat mengunjungi warga lanjut usia di rumah sederhana di wilayah terpencil Manggarai Timur, NTT, sebagai bentuk kepedulian sosial dan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat.

Borong, NTT, 2 Mei 2026 — Di sudut sunyi Kabupaten Manggarai Timur, tepatnya di wilayah terpencil Kecamatan Elar, langkah kaki seorang polisi menggema lebih dari sekadar tugas. Tanpa sirine, tanpa pengawalan, Aipda Lalu Sukiman memilih berjalan menembus jalan terjal demi satu tujuan: menjadi harapan bagi warga di ujung negeri.


Di saat pelayanan publik sering dibayangkan hadir dari balik meja, Sukiman justru hadir melalui jejak kaki yang menembus tanah berlumpur, mendaki bukit, dan menyeberangi sungai. Baginya, negara tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar—cukup dalam kepedulian yang nyata.


Tak ada kendaraan dinas yang membawanya. Hanya ransel lusuh berisi buku catatan, kotak P3K, dan bantuan sederhana yang seringkali ia beli dari kantong pribadinya.


Namun justru dari kesederhanaan itu, lahir kepercayaan yang kuat dari masyarakat. Sukiman dikenal bukan karena pangkatnya, tetapi karena ketulusannya—datang tanpa diundang, tinggal tanpa diminta, dan membantu tanpa pamrih.


Bagi warga pelosok, ia bukan sekadar aparat. Ia adalah harapan yang berjalan.


Di Desa Legur Lai, Sukiman mendatangi rumah sederhana milik Arnoldus Golo dan Natalia Suryati Dewi. Di dalamnya, seorang balita bernama Stevano Yota terbaring lemah, berjuang sejak lahir melawan kondisi medis langka: atresia ani.


Keterbatasan biaya dan akses layanan kesehatan membuat keluarga itu nyaris kehilangan harapan.


Sukiman datang tanpa janji besar. Ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih penting—keyakinan.


“Mereka tidak butuh janji. Mereka butuh tahu bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.


Di ruang sempit berdinding bambu itu, kehadiran seorang polisi menjadi sumber kekuatan baru bagi keluarga yang hampir menyerah.


Perjalanan Sukiman tidak berhenti di satu tempat. Dengan motor tuanya, ia menembus jarak ratusan kilometer.


Bersama Babinsa dari Kodim 1612 Ruteng, ia menyusuri medan berat menuju Kampung Mbawar untuk menemui Petrus Febrian Tempur (19), pemuda yang sejak lahir tidak mampu berdiri.


Perjalanan lain membawanya ke Desa Kaju Wangi, tempat Astrin Karmel Fia (17) menjalani hidup dengan kondisi serupa.


Ia tidak datang membawa protokol. Ia duduk di lantai, mendengar, dan menguatkan.


“Kalau satu orang saja peduli, beban ini sudah berkurang,” katanya lirih.


Di mata masyarakat, Sukiman telah melampaui identitasnya sebagai polisi. Ia menjadi sosok “Bapak”—hadir tanpa jarak, tanpa formalitas.


Ia menghadirkan makna baru tentang pelayanan: bahwa negara bisa hadir dalam langkah kaki yang rela lelah dan hati yang mau peduli.


Dedikasi itu mendapat apresiasi dari pimpinan. Dalam sebuah upacara di Polres Manggarai Timur, Kapolres I Ketut Widiarta menyampaikan:


“Ini bukan sekadar tugas. Ini panggilan kemanusiaan. Ia hadir sebagai pelayan, pendengar, dan sahabat masyarakat.”


Kisah Aipda Lalu Sukiman menjadi pengingat bahwa di tempat-tempat yang jauh dari sorotan, kemanusiaan justru tumbuh paling tulus.


Di balik bukit, di rumah-rumah sederhana, dan di jalan yang belum diaspal, warga Manggarai Timur tahu satu hal:


Ketika harapan terasa menjauh, akan selalu ada langkah yang datang mendekat.

Dan langkah itu… adalah langkah seorang polisi bernama Aipda Lalu Sukiman.

✒️: Albert Cakramento