MANGGARAI TIMUR, NTT, 31 Mei 2026 – Di tengah derasnya arus informasi dan kesibukan dunia jurnalistik, seorang jurnalis di Manggarai Timur memilih menjalankan peran yang lebih dari sekadar mencari dan menulis berita. Ia adalah Nardy Jaya, sosok yang dikenal karena kepeduliannya terhadap kaum rentan dan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
Berawal dari tugas jurnalistik yang membawanya ke berbagai pelosok Manggarai Timur, Nardy kerap menemukan kenyataan pahit yang dialami warga. Ia melihat lansia yang hidup sebatang kara, penyandang disabilitas yang kesulitan mendapatkan perhatian, hingga keluarga miskin yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pengalaman-pengalaman tersebut menggugah nuraninya. Baginya, menulis berita saja terkadang belum cukup untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat kecil.
“Sebagai jurnalis saya bisa menyampaikan suara mereka melalui berita. Tetapi terkadang hati ini berkata bahwa ada yang harus dilakukan lebih dari sekadar menulis,” ungkap Nardy.
Berangkat dari kepedulian itu, ia mulai rutin mengunjungi warga yang membutuhkan bantuan. Dengan kemampuan yang dimiliki, Nardy menyalurkan sembako, bingkisan kasih, hingga kursi roda bagi penyandang disabilitas.
Ia juga meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah warga yang selama ini jarang mendapatkan perhatian.
Bagi Nardy, setiap perjalanan ke rumah-rumah warga bukan sekadar aksi sosial. Kehadirannya merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat manusia yang sering kali terpinggirkan oleh keadaan.
Tidak sedikit masyarakat yang mengaku terbantu dan terharu atas perhatian yang diberikan.
Kehadirannya dianggap membawa harapan baru bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Meski demikian, langkah yang ditempuhnya tidak selalu mendapat sambutan positif. Di tengah dukungan dan apresiasi yang datang, tidak jarang muncul tudingan bahwa kegiatan sosial yang dilakukannya hanyalah pencitraan.
Menanggapi hal tersebut, Nardy memilih tetap fokus pada tujuan utamanya, yakni membantu sesama tanpa mengharapkan pujian.
“Dalam hidup pasti ada yang mendukung dan ada yang mencibir. Itu hal yang biasa. Yang penting kita tetap berbuat baik,” katanya.
Bagi Nardy, membantu sesama bukan soal popularitas, melainkan panggilan kemanusiaan.
Ia meyakini bahwa setiap orang berhak mendapatkan perhatian, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Prinsip hidup itulah yang terus dipegangnya hingga hari ini.
“Teruslah berbuat baik sebab takarannya bukan di bumi melainkan di surga,” ujarnya.
Kini, di mata banyak warga Manggarai Timur, Nardy Jaya tidak hanya dikenal sebagai seorang jurnalis. Ia juga dikenal sebagai sahabat bagi kaum rentan, jembatan bagi mereka yang tak memiliki suara, serta sosok yang membuktikan bahwa kepedulian dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan tulus.
Di tengah zaman yang sering kali sibuk menilai, kisah Nardy Jaya menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak cukup hanya ditulis. Kemanusiaan juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
✒️: ***/Albert Cakramento
