Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Digigit Ular, Hasmida Dilarikan ke Rumah Sakit; Pengungsi Nangahale Meninggal

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T10:07:20Z

 



Maumere, NTT, 20 Agustus 2026 — Kondisi pengungsi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali menyita perhatian. Di tengah trauma pascagempa, warga harus bertahan dengan fasilitas terbatas, bahkan menghadapi ancaman gigitan ular dan kondisi kesehatan yang memburuk.


Seorang perempuan bernama Hasmida, warga Desa Nangahale, mengalami gigitan ular di sekitar lokasi pengungsian pada Rabu malam, 19 Agustus 2026.


Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Watubaing, Hasmida kemudian dilarikan ke RSUD TC Hillers Maumere untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Sementara itu, kabar duka datang dari lokasi pengungsian. Seorang pengungsi bernama Usman, kelahiran Pulau Beter, 31 Desember 1959, meninggal dunia pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026.


Usman diketahui memiliki riwayat sakit sebelumnya. Saat berada di pengungsian, kondisi kesehatannya disebut semakin menurun.


Menurut informasi warga, Usman tidur dalam kondisi seadanya, beralaskan terpal dan kain di lokasi terbuka. Pada malam hari, para pengungsi harus menghadapi udara dingin tanpa tempat berlindung yang benar-benar layak.


Usman kemudian mengalami sesak napas dan batuk-batuk hingga terjatuh di lokasi pengungsian.


Warga segera membawanya ke Puskesmas Watubaing untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong dan Usman meninggal dunia pada Kamis pagi.


Meski demikian, warga tidak menyimpulkan bahwa kematian Usman disebabkan oleh kondisi pengungsian. Riwayat penyakit yang telah dideritanya sebelumnya tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan secara medis.


Namun, kondisi pengungsian yang serba terbatas tetap menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian pemerintah.


Peristiwa yang dialami Hasmida menjadi gambaran mengenai kondisi lingkungan pengungsian di Nangahale yang dinilai belum sepenuhnya aman.


“Di Posko Pengungsian Nangahale ada yang digigit ular sampai dirujuk dari posko, lalu dibawa ke Puskesmas kemudian dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere,” ujar sumber


 warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.


Warga menyebut sebagian pengungsi masih bertahan dengan fasilitas seadanya. Terpal dan kain digunakan sebagai alas tidur maupun pelindung dari cuaca malam.


Bagi warga, kejadian tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap pengungsi tidak cukup hanya pada persoalan makanan dan logistik.


Keamanan lingkungan, tempat tinggal sementara dan akses pelayanan kesehatan juga harus menjadi prioritas.


Nangahale bukan sekadar wilayah terdampak gempa.


Bagi masyarakatnya, bencana kali ini kembali membangkitkan trauma akibat tsunami Flores 1992.


Sebagian warga dewasa hingga lanjut usia di Nangahale merupakan penyintas tragedi Pulau Babi. Mereka pernah mengalami langsung kehilangan akibat bencana besar tersebut.


Kini, ketika gempa kembali mengguncang Flores, mereka kembali meninggalkan rumah dan bertahan di pengungsian.


Luka lama belum sepenuhnya sembuh, bencana baru kembali datang.


Dalam kondisi seperti itu, tempat pengungsian seharusnya memberikan rasa aman. Namun, ketika warga masih tidur beralaskan terpal, menghadapi udara malam, lingkungan yang rawan dan keterbatasan fasilitas kesehatan, kekhawatiran masyarakat semakin besar.


Warga juga menyoroti distribusi bantuan yang dinilai masih lebih banyak terpusat di wilayah perkotaan, khususnya Lapangan Samador Maumere.


Mereka mempertanyakan apakah perhatian pemerintah sudah benar-benar menjangkau masyarakat yang berada di lokasi pengungsian desa.


“Perhatian pemerintah hari ini terpusat lebih banyak di kota, di Lapangan Samador.


 Sementara pengungsi yang sangat merasakan dampak dan trauma akibat gempa serta tsunami 1992 justru ada di Desa Nangahale,” kata sumber tersebut.


Kritik tersebut bukan berarti warga menolak bantuan yang telah disalurkan. Namun, mereka berharap penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada titik pengungsian besar di pusat kota.


Sebab, di desa-desa seperti Nangahale, kebutuhan dasar masih menjadi persoalan.


Terpal, tenda, alas tidur, penerangan, sanitasi, obat-obatan, keamanan lingkungan dan akses pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.


Insiden gigitan ular terhadap Hasmida dan meninggalnya Usman menjadi peringatan serius dalam penanganan pengungsi di Nangahale.


Dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa warga yang bertahan di pengungsian membutuhkan perlindungan yang lebih baik.


Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka diharapkan tidak hanya menghitung jumlah bantuan yang telah disalurkan, tetapi juga memastikan kondisi warga di setiap titik pengungsian.


Karena bagi pengungsi, bantuan bukan hanya soal makanan.


Bantuan juga berarti rasa aman, tempat berlindung, pelayanan kesehatan dan kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.


Nangahale telah melewati trauma tsunami 1992.

Kini mereka kembali diuji oleh gempa.


Jangan sampai perhatian pemerintah hanya berhenti di pusat kota, sementara pengungsi di desa-desa masih berjuang bertahan dengan segala keterbatasan.

✒️: Albert Cakramento