Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Gelap, Lapar dan Takut Tsunami: Pengungsi Kota Baru Maumere Menunggu Makan Malam

Senin, 17 Agustus 2026 | Agustus 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-17T14:37:20Z

 



Maumere, NTT, 17 AGUSTUS 2026 — Puluhan warga yang mengungsi di Lapangan Kota Baru, Maumere, Kabupaten Sikka, menghadapi malam dalam kondisi gelap, lapar dan dihantui ketakutan tsunami setelah gempa susulan mengguncang Flores.


Malam semakin larut, tetapi ketakutan belum juga pergi dari Lapangan Kota Baru. Warga masih bertahan di tenda-tenda darurat yang dibangun sendiri dengan peralatan seadanya.


Lebih memilukan, hingga malam hari mereka belum mendapatkan makanan setelah seharian bertahan dalam kondisi penuh kecemasan.


Rumah para pengungsi berada di kawasan dekat pantai. Setiap kali gempa kembali mengguncang, bayang-bayang tsunami ikut menghantui. Trauma gempa dan tsunami Flores 1992 yang pernah dialami sebagian warga seolah kembali muncul.


Ketika gempa susulan mengguncang Maumere, warga langsung berhamburan keluar rumah dan berlari menuju Lapangan Kota Baru.


Mereka memilih tidak kembali ke rumah, terutama karena sebagian tempat tinggal berada di kawasan padat penduduk dan dekat dengan pantai.


Kini, mereka harus melewati malam dengan kondisi serba terbatas.


Tenda tersedia, tetapi masih seadanya. Penerangan tidak ada. Makanan belum datang dan rasa takut masih menyelimuti warga.


Di antara para pengungsi terdapat lansia yang sedang sakit dan menggunakan kursi roda, serta anak-anak balita yang membutuhkan perhatian khusus.


Sebanyak 16 kepala keluarga (KK) atau 62 jiwa dari Kelurahan Beru, ditambah 5 KK dari Kelurahan Kota Baru, tercatat bertahan di Lapangan Kota Baru.


Lurah Beru Elisabeth Neny Trinata atau Elsa bersama Kasi Trantib dan Ketua RW 002 Herry Fernandez berupaya memastikan warga tetap mendapatkan rasa aman.


Mereka melakukan pendataan terhadap warga sekaligus mengoordinasikan pendirian tenda darurat agar pengungsi, terutama lansia dan anak-anak, dapat beristirahat dengan lebih layak.


“Saya harus bisa memberikan rasa aman buat masyarakat saya di Lapangan Kota Baru ini. Apalagi posisi sudah mulai gelap. Kita harus mendirikan tenda agar lansia yang sakit dan anak-anak balita bisa nyaman malam ini,” kata Elsa.

 

Namun, persoalan warga tidak berhenti pada tempat berlindung.


Seharian warga bertahan di lapangan. Bantuan makanan dari relawan sebelumnya memang sempat diterima, tetapi hingga malam hari belum ada makanan berikutnya yang mereka terima.

Warga hanya bisa menunggu.


Ketika malam semakin gelap, telepon genggam menjadi salah satu sumber cahaya bagi warga.


Anak-anak dan lansia berada di dalam tenda darurat, sementara orang dewasa terus berjaga karena belum berani kembali ke rumah.


Kondisi lapangan yang berdebu juga menjadi persoalan tersendiri. Masker dibutuhkan, terutama bagi anak-anak dan lansia.


Selain makanan dan penerangan, warga membutuhkan air bersih, selimut serta berbagai perlengkapan dasar untuk bertahan selama berada di lokasi pengungsian.


Elsa mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sikka untuk memastikan kebutuhan warga dapat segera ditangani.


Pemerintah memang mengarahkan pengungsi menuju Lapangan Gelora Samador agar pelayanan dapat dilakukan secara terpusat.


Namun, sebagian warga memilih tetap berada di Lapangan Kota Baru karena ingin berada lebih dekat dengan rumah dan masih dapat mengontrol barang-barang mereka.


Mereka bukan tidak mau mengikuti arahan.


Mereka hanya sedang mencari tempat yang menurut mereka paling aman.


Apalagi sebagian rumah berada dekat pantai dan trauma tsunami 1992 masih membekas dalam ingatan masyarakat.


Dalam kondisi tersebut, warga berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan pengungsi yang berada di lokasi terpusat, tetapi juga mendata dan menjangkau masyarakat yang memilih bertahan di ruang-ruang terbuka lainnya.


Sebab, mereka juga membutuhkan makanan, penerangan, selimut, air bersih dan perlindungan yang layak.


Hingga malam itu, warga di Lapangan Kota Baru masih menunggu.


Seharian mereka bertahan dengan rasa takut. Malamnya mereka harus menghadapi rasa lapar dan gelap.


Di bawah tenda darurat yang dibangun sendiri, anak-anak mencoba tidur. Lansia berusaha beristirahat, sementara orang dewasa tetap berjaga karena khawatir gempa kembali mengguncang.


Di tengah gelap malam, harapan mereka sederhana: makanan segera datang, kebutuhan dasar terpenuhi, dan tidak ada lagi gempa yang memaksa mereka kembali berlari.

✒️: Albert Cakramento