Kupang, NTT — Program pelayanan servis elektronik gratis yang dikembangkan SMKN 5 Kupang mendapat apresiasi dari Pengawas Pembina, Lay Yefirson. Program tersebut dinilai sebagai langkah inovatif sekolah dalam menghubungkan pembelajaran siswa dengan kebutuhan masyarakat.
Lay Yefirson mengatakan, layanan servis gratis merupakan bentuk kreativitas Kepala Sekolah dalam mengembangkan program pelayanan sekolah kepada masyarakat.
Menurutnya, gagasan tersebut sebenarnya telah dibicarakan sebelum kepala sekolah saat ini menjalankan tugas sebagai PLT. Salah satu ide yang kemudian diwujudkan adalah pelayanan servis gratis, baik dilakukan di sekolah maupun melalui panggilan servis kepada masyarakat.
“Itu langkah inovatif kepala sekolah dalam menjalankan pendekatan program pelayanan sekolah kepada masyarakat. Program layanan servis gratis ini sudah lama kami sharing-kan, bahwa seharusnya ada sesuatu yang perlu ditunjukkan oleh SMK 5,” ujar Lay, Kamis (24/9/2026).
Program tersebut kini telah berjalan lebih dari satu bulan. Pelayanan tidak hanya dilakukan terhadap peralatan yang dibawa ke sekolah, tetapi juga dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Lay menilai inovasi di sekolah perlu terus dikembangkan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Pemerintah Provinsi NTT sebagai pihak yang membina sekolah.
Menurutnya, setiap sekolah perlu memiliki inovasi yang sesuai dengan potensi lokal dan kompetensi yang dimiliki.
“Perwakilan Dinas Pendidikan sebagai pengawas juga mendorong semua sekolah punya inovasi. Kreativitasnya harus ada dalam kepala sekolah, menciptakan inovasi dan kreativitas di sekolah, entah dalam bentuk apa, yang berkaitan dengan potensi lokal dan kompetensi yang dimiliki,” katanya.
Namun, Lay mengatakan program tersebut tetap perlu didukung dengan sistem yang jelas agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memenuhi standar.
Ia menekankan pentingnya penerapan standar pembelajaran yang sudah diterapkan di sekolah ke dalam kegiatan pelayanan servis gratis.
Menurut Lay, pelayanan kepada masyarakat menjadi kesempatan bagi siswa untuk menguji kemampuan mereka secara langsung.
Karena itu, barang elektronik yang dikerjakan siswa harus memiliki hasil yang dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar pelayanan.
“Supaya kegiatan ini mencapai standar organisasi dari barang yang dia kerjakan. Standarisasi pembelajaran yang ada di sekolah diaplikasikan melalui kegiatan program servis gratis ini,” jelasnya.
Dengan demikian, hasil pekerjaan siswa tidak hanya menjadi bagian dari proses belajar, tetapi juga harus memberikan kepuasan kepada masyarakat yang menggunakan layanan tersebut.
Lay juga mendorong peningkatan kemampuan guru. Menurutnya, guru perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan karena program tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang langsung berhadapan dengan kebutuhan masyarakat.
Lay menjelaskan, program pelayanan servis gratis tidak dimaksudkan untuk mengganggu proses pembelajaran siswa.
Kegiatan tersebut melibatkan siswa yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), baik yang ditempatkan di sekolah maupun di dunia kerja.
Karena PKL merupakan bagian dari pembelajaran, pelaksanaan pelayanan dapat diintegrasikan dengan kegiatan tersebut.
Ia menyebut pelaksanaan PKL memiliki beban pembelajaran yang harus dipenuhi siswa dalam satu fase. Dengan pengaturan waktu yang tepat, kegiatan pelayanan dapat berjalan tanpa mengganggu mata pelajaran lainnya.
“Ini tidak mengganggu karena yang menjalankan kegiatan ini adalah adik-adik kita yang PKL. PKL itu sudah merupakan mata pelajaran,” katanya.
Lay berharap program tersebut terus dikembangkan melalui kolaborasi antara kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat.
Ia menekankan bahwa pelayanan bukan pekerjaan individu, melainkan kerja tim yang membutuhkan koordinasi dan komitmen bersama.
“Harapan saya, bangun tetap komit dengan kolaborasi. Ini kerja kolaborasi, kerja tim,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan akhir dari pembelajaran bukan hanya menyelesaikan materi atau mendapatkan nilai, tetapi membuat siswa mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam situasi nyata.
Dalam program servis gratis, misalnya, siswa dapat melihat langsung hasil pekerjaan mereka ketika peralatan yang diperbaiki kembali berfungsi.
Ketika siswa berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan masyarakat merasa terbantu, pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa puas dan percaya diri pada siswa.
“Di kegiatan servis gratis ini mereka mengaplikasikan ilmunya. Setelah barang yang dihasilkan bagus, mereka akan merasa puas sendiri. Dan itu intinya adalah bahagia,” ungkap Lay.
Ia berharap inovasi pelayanan gratis tersebut dapat terus diperbaiki, diperluas dan dikembangkan dengan tetap memperhatikan standar pembelajaran serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.
✒️: kl
