Kota Kupang, NTT, 5 Mei 2026 — Alarm serius bagi dunia pendidikan di Kota Kupang mulai berbunyi. Hasil asesmen nasional menunjukkan bahwa kompetensi literasi dan numerasi siswa, khususnya pada jenjang SD dan SMP, masih berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang untuk membongkar akar persoalan yang selama ini menjadi penghambat peningkatan kualitas pembelajaran.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Naitboho, mengakui bahwa meskipun secara nasional masih tertinggal, tren di tingkat daerah justru menunjukkan perkembangan positif.
“Kalau kita rujuk pada asesmen nasional, memang masih di bawah rata-rata nasional. Tapi dari tahun ke tahun, Kota Kupang mengalami peningkatan. Untuk jenjang SMP, kita bahkan berada di peringkat satu di tingkat provinsi, dan SD juga menunjukkan capaian yang baik,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Namun demikian, capaian tersebut belum cukup untuk menutup kesenjangan dengan standar nasional. Bahkan untuk jenjang SMA/SMK, posisi Kota Kupang masih berada di peringkat bawah secara provinsi, yang menjadi indikator bahwa persoalan kualitas pembelajaran masih cukup kompleks.
Menurut Okto, rendahnya kompetensi literasi dan numerasi bukan semata-mata disebabkan oleh kemampuan siswa, melainkan berakar dari proses pembelajaran di kelas yang belum optimal.
“Masalah utamanya ada pada proses pembelajaran yang masih bersifat permukaan. Guru belum membiasakan siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan analitis. Soal-soal yang diberikan masih dominan pada hafalan, belum berbasis pada pemecahan masalah atau konteks nyata,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pola evaluasi yang masih menggunakan pendekatan lama, seperti soal-soal sederhana yang hanya mengukur kemampuan dasar (C1 dan C2), tanpa mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
“Kalau dari penilaian harian sampai ujian akhir siswa tidak dibiasakan dengan soal berbasis HOTS, maka kemampuan literasi dan numerasi mereka tidak akan berkembang secara maksimal,” tambahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Pendidikan Kota Kupang telah melakukan berbagai upaya strategis. Di antaranya melalui pelatihan guru, penguatan kapasitas kepala sekolah, hingga membuka ruang kompetisi bagi siswa dalam bidang literasi dan numerasi.
Program tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata. Guru-guru yang telah dilatih diwajibkan untuk menularkan ilmu kepada rekan sejawat melalui komunitas belajar di sekolah, yang kemudian dipantau secara berkelanjutan oleh pengawas.
“Kami tidak hanya melatih lalu melepas. Ada sistem berjenjang. Guru dilatih, kemudian mengimbaskan ke guru lain, lalu diawasi dan disupervisi. Dari situ kita evaluasi dan perbaiki terus,” jelas Okto.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan hanya pada sistem, tetapi pada perubahan pola pikir atau mindset tenaga pendidik.
“Masalah paling besar adalah mindset yang belum berubah. Masih ada guru yang nyaman dengan cara lama dan belum mau beradaptasi dengan metode pembelajaran yang lebih inovatif,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan mindset tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses yang konsisten dan berkelanjutan melalui pendampingan dan supervisi.
“Ini memang butuh waktu. Pendidikan itu proses panjang, tidak bisa instan. Tapi kita sudah melihat ada perubahan, walaupun perlahan,” ujarnya.
Dengan berbagai intervensi yang terus dilakukan, Dinas Pendidikan Kota Kupang optimistis kualitas literasi dan numerasi siswa akan terus meningkat. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut membutuhkan komitmen bersama, baik dari guru, sekolah, maupun seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Kalau kita konsisten, perubahan itu pasti terjadi. Yang penting kita terus bergerak dan tidak berhenti melakukan perbaikan,” tutupnya.
✒️: kl
