Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Guru Honorer Sikka Digaji Rp150 Ribu, PKB Beri Harapan

Senin, 04 Mei 2026 | Mei 04, 2026 WIB Last Updated 2026-05-04T13:22:31Z

 


Maumere, NTTGuru Honorer Sikka kembali menjadi sorotan setelah kisah Yustina Yuniarti alias Ibu Yun mencuat. Ia bertahan mengajar selama 11 tahun hanya dengan gaji Rp150 ribu per bulan, bahkan sempat menerima Rp15 ribu di awal pengabdiannya.


Potret Guru Honorer Sikka ini memperlihatkan realita pahit di dunia pendidikan pelosok. Ibu Yun, guru kelas V di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, memulai pengabdiannya sejak 2016 dengan honor yang sangat minim.


Selama 7–8 tahun pertama, ia hanya menerima Rp15 ribu per bulan. Dalam tiga tahun terakhir, honor tersebut naik menjadi Rp150 ribu—angka yang masih jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Tak hanya soal gaji, perjuangan Ibu Yun juga terlihat dari perjalanan hariannya. Demi mengajar, ia harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 6 kilometer setiap hari.


Ia melewati jalan berbatu, perbukitan, pinggir jurang, hingga jalur hutan dan pantai. Bahkan, ia memilih menggunakan sandal jepit agar lebih mudah menyesuaikan langkah di medan ekstrem.


“Saya mengajar sudah 11 tahun. Setiap pagi jalan kaki melewati hutan dan pantai, jaraknya sekitar 6 kilometer,” ungkapnya.


Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana Guru Honorer Sikka berjuang dalam keterbatasan, namun tetap setia pada panggilan pendidikan.


Perjuangan Ibu Yun akhirnya mendapat perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Sikka, Yoseph Karmanto Eri atau Manto Eri.


Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu langsung memberikan bantuan awal dan meminta nomor rekening Ibu Yun sebagai bentuk dukungan nyata.


Tak hanya itu, Fraksi PKB Kabupaten Sikka juga berkomitmen memberikan bantuan selama satu tahun ke depan, mulai Juni 2026 hingga Juni 2027.


“Untuk sementara, PKB membantu selama satu tahun, sambil kami perjuangkan solusi permanen melalui kebijakan anggaran,” ujarnya.


Menurutnya, persoalan Guru Honorer Sikka bukan kasus tunggal. Banyak guru lain yang mengalami kondisi serupa, sehingga perlu solusi menyeluruh dari pemerintah daerah.


Ia menegaskan akan mendorong isu ini masuk dalam prioritas pembahasan anggaran daerah agar tidak terus berulang.


Ibu Yun mengaku terharu atas perhatian yang diberikan. Baginya, bantuan tersebut bukan hanya soal materi, tetapi juga bentuk pengakuan atas perjuangan panjangnya.


“Saya sangat bersyukur. Ini memberi harapan bahwa nasib kami diperhatikan,” ujarnya.


Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik sistem pendidikan, masih ada perjuangan sunyi yang belum sepenuhnya terlihat.


Jika guru terus berjuang sendiri, maka masa depan pendidikan ikut dipertaruhkan.

✒️: Albert Cakramento