MAUMERE, NTT, 5 Mei 2026 — Wisata Nuba Nanga di Desa Tana Duen, Kecamatan Kangae, kini bangkit berkat swadaya masyarakat setempat. Tanpa bergantung pada bantuan pemerintah, warga secara mandiri mengelola dan mengembangkan kawasan pesisir tersebut menjadi destinasi wisata baru yang mulai menarik perhatian.
Inisiatif ini digerakkan oleh Kelompok Jaringan Sejahtera di bawah pendampingan Asidewi yang dipimpin Yance Moa. Di bawah naungan lembaga adat Desa Tana Duen, masyarakat memilih untuk tidak menunggu, tetapi langsung bergerak memanfaatkan potensi alam yang ada.
Kawasan pantai yang sebelumnya belum terkelola kini mulai ditata secara sederhana namun fungsional. Lokasinya berada di bawah pertigaan Blatat, tepat di jalan masuk Posyandu Bolawolon, sehingga cukup mudah diakses oleh masyarakat maupun wisatawan.
Berhadapan langsung dengan hamparan Teluk Maumere, Nuba Nanga menyuguhkan panorama laut yang masih alami—jernih, tenang, serta dihiasi gugusan pulau yang membentang indah di cakrawala. Suasana ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang mencari ketenangan dan keindahan alam.
Tanpa dukungan anggaran, warga membangun fasilitas dari sumber daya yang ada. Tempat usaha sederhana mulai berdiri di sepanjang bibir pantai dan perlahan menjadi pusat aktivitas wisata.
Selain panorama alam, pengunjung juga dimanjakan dengan ragam kuliner khas lokal. Ikan bakar segar hasil tangkapan nelayan menjadi menu unggulan, disajikan dengan bumbu tradisional. Kopi tumbuk khas yang diseduh hangat turut menghadirkan cita rasa autentik, sementara lekun—olahan pangan lokal—menjadi sajian unik yang memperkaya pengalaman wisata.
Kekuatan utama dari pengembangan wisata ini terletak pada keterlibatan masyarakat. Kelompok Jaringan Sejahtera terdiri dari 10 anggota, yakni 7 perempuan yang merupakan ibu rumah tangga dan 3 laki-laki yang turut mengembangkan usaha kreatif.
Para ibu rumah tangga berperan sebagai penggerak utama di sektor kuliner, sementara para bapak memanfaatkan hasil laut seperti siput dan pecahan kaca yang terbawa ombak untuk diolah menjadi aksesoris bernilai jual. Kreativitas ini memperkuat daya tarik wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis lokal.
Peran lembaga adat juga menjadi fondasi penting dalam pengelolaan kawasan ini. Selain memberikan legitimasi, lembaga adat memastikan seluruh aktivitas wisata tetap selaras dengan nilai-nilai budaya serta menjaga cagar budaya dan ritus adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Yance Moa menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi daerah.
“Kami tidak mau terus menunggu. Kalau potensi ada di depan mata, kami kelola sendiri. Ini tentang kebersamaan dan kemauan untuk maju,” ujarnya.
Upaya yang lahir dari keterbatasan ini menjadi bukti bahwa desa mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ketika bantuan belum hadir, masyarakat Tana Duen justru menunjukkan bahwa swadaya dapat menjadi kekuatan utama dalam pembangunan.
Kini, Nuba Nanga tidak lagi sekadar pesisir sunyi. Kawasan ini perlahan menjelma menjadi destinasi wisata baru yang memadukan keindahan alam, kekayaan kuliner, budaya lokal, dan kreativitas masyarakat.
Dengan suasana tenang di tepian Teluk Maumere, pengunjung dapat menikmati pengalaman berbeda—bersantai, mencicipi kuliner khas, hingga menyaksikan keindahan gugusan pulau yang memanjakan mata.
✒️: Albert Cakramento
