TTU, NTT— Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersiap menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) V Eksekutif Wilayah (EW) LMND NTT di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Konferwil V dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 10–12 Oktober 2026. Forum tertinggi LMND di tingkat wilayah NTT tersebut tidak hanya diarahkan sebagai agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi perjalanan organisasi, konsolidasi anggota, pendidikan organisasi, serta perumusan agenda kerja menghadapi berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
Delegasi dari sejumlah Eksekutif Kota (EK) dan komisariat LMND dari berbagai daerah di NTT akan berkumpul di Kefamenanu untuk membawa pengalaman, evaluasi, serta persoalan di wilayah masing-masing ke dalam satu forum bersama.
Bukan Sekadar Pergantian Kepemimpinan
Ketua EW LMND NTT, Gunawan, menegaskan Konferwil V tidak boleh berhenti pada agenda pergantian kepemimpinan organisasi.
Menurutnya, konferensi harus menjadi ruang evaluasi terbuka sekaligus momentum untuk mempertegas kembali arah organisasi setelah seluruh rangkaian forum berakhir.
“Konferwil ke-V bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ini ruang untuk mengevaluasi kerja-kerja organisasi sekaligus mempertegas kembali arah perjuangan LMND NTT. Kita ingin organisasi semakin kuat secara ideologi, politik, dan organisasi serta mampu menjawab persoalan konkret yang dihadapi rakyat,” ujar Gunawan.
Ia mengatakan salah satu tantangan organisasi mahasiswa adalah menjaga agar aktivitas gerakan tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Gunawan, mahasiswa tidak cukup hanya berdiskusi di ruang kampus. Persoalan masyarakat harus dipahami melalui keterlibatan dan pembacaan terhadap kondisi sosial di lapangan.
Karena itu, ia berharap keputusan yang lahir dari Konferwil tidak berhenti sebagai rumusan di atas kertas, tetapi diterjemahkan menjadi kerja nyata oleh anggota di masing-masing wilayah.
“Mahasiswa tidak boleh terputus dari realitas rakyat. Hasil Konferwil harus melahirkan agenda yang konkret. Jangan sampai konferensi hanya menghasilkan keputusan di atas kertas. Setelah itu harus ada kerja organisasi melalui pendidikan anggota, penguatan basis, advokasi dan pengorganisasian rakyat,” tegasnya.
Pendidikan Anggota hingga Persoalan Rakyat
Sejumlah agenda organisasi akan dibahas dalam Konferwil V, di antaranya evaluasi kepengurusan, konsolidasi organisasi, pendidikan anggota, penyusunan program kerja, serta pemilihan kepemimpinan baru EW LMND NTT.
Forum tersebut juga menjadi ruang pembahasan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pendidikan, kesejahteraan masyarakat, ekonomi kerakyatan, kesempatan kerja, pembangunan daerah hingga kondisi masyarakat di kawasan perbatasan.
Gunawan menilai pertumbuhan organisasi harus berjalan bersama peningkatan kualitas anggota.
Jumlah anggota, kata dia, bukan satu-satunya ukuran kekuatan organisasi apabila tidak disertai kemampuan membaca persoalan sosial dan menerjemahkan gagasan menjadi kerja kolektif.
“Pertumbuhan organisasi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas anggota. Kita membutuhkan anggota yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas sosial,” katanya.
“Pendidikan organisasi harus melahirkan anggota yang mampu berpikir kritis, bekerja secara kolektif dan memahami persoalan rakyat,” lanjut Gunawan.
Kefamenanu dan Pesan dari Wilayah Perbatasan
Pemilihan Kefamenanu sebagai lokasi Konferwil V dinilai memiliki arti tersendiri bagi LMND NTT.
Kota Kefamenanu merupakan salah satu pusat aktivitas masyarakat di Kabupaten TTU dan berada di kawasan Timor yang memiliki kedekatan geografis dengan wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
Sekretaris EW LMND NTT, Pirlo Luron, mengatakan penempatan Kefamenanu sebagai tuan rumah bukan semata-mata persoalan teknis penyelenggaraan.
“Menempatkan Kefamenanu sebagai tuan rumah bukan hanya soal lokasi pelaksanaan konferensi. Ada pesan bahwa gerakan mahasiswa harus tumbuh dari berbagai wilayah, termasuk daerah perbatasan. Persoalan masyarakat di wilayah perbatasan juga merupakan bagian dari persoalan NTT yang harus dibaca oleh gerakan mahasiswa,” kata Pirlo.
Menurutnya, persoalan daerah tidak dapat dibaca hanya dari satu sudut pandang. Setiap wilayah memiliki kondisi sosial, ekonomi, dan persoalan masyarakat yang berbeda.
Karena itu, Konferwil diharapkan mampu menghasilkan rumusan yang berangkat dari kenyataan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
“Konferwil harus menghasilkan pembacaan yang konkret terhadap kondisi NTT. Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan organisasi tetapi kehilangan hubungan dengan persoalan masyarakat. Organisasi mahasiswa harus hadir di tengah persoalan rakyat dan membangun kesadaran kritis berdasarkan kenyataan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Logo Konferwil Padukan Simbol Perjuangan dan Budaya NTT
Menjelang pelaksanaan Konferwil, EW LMND NTT juga telah memperkenalkan logo resmi kegiatan.
Logo tersebut memadukan sejumlah simbol yang menggambarkan semangat organisasi sekaligus identitas budaya Nusa Tenggara Timur.
Bintang menjadi salah satu elemen utama yang melambangkan cita-cita dan arah perjuangan anggota.
Kemudian terdapat simbol kepalan tangan yang menggambarkan keteguhan serta semangat menghadapi berbagai persoalan ketidakadilan.
Elemen gerigi menggambarkan gerakan yang terus bergerak dan berkembang. Sementara Sasando dan Danau Kelimutu digunakan sebagai simbol kebudayaan dan identitas NTT.
Perpaduan simbol tersebut menunjukkan upaya penyelenggara menghadirkan karakter lokal dalam agenda organisasi tingkat wilayah.
Tantangan Teknologi dan Kekuatan Basis
Perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi generasi muda juga menjadi tantangan baru bagi gerakan mahasiswa.
Organisasi mahasiswa dituntut mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan kerja-kerja organisasi di lapangan.
Pirlo menyebut pendidikan anggota dan pengorganisasian sebagai bagian penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi.
“Organisasi yang kuat bukan hanya organisasi yang memiliki banyak anggota. Yang lebih penting adalah bagaimana organisasi memiliki anggota yang mampu membaca persoalan, membangun kerja bersama dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan,” ujarnya.
Ia mengatakan mahasiswa perlu membangun hubungan lebih dekat dengan masyarakat melalui kajian, pendidikan, pengorganisasian maupun advokasi.
“Mahasiswa harus menjadi bagian dari proses perubahan sosial. Kita harus turun membaca persoalan masyarakat, mendengar suara rakyat, melakukan kajian dan kemudian menerjemahkannya menjadi agenda perjuangan yang terorganisir. Konferwil ini harus menjadi salah satu titik penguatan kerja tersebut,” tegas Pirlo.
Setelah Konferwil, Kerja Baru Dimulai
Konferwil V nantinya menjadi ruang bagi anggota LMND dari berbagai daerah untuk membawa pengalaman sekaligus persoalan masing-masing ke dalam forum bersama.
Perbedaan kondisi sosial, ekonomi, dan karakter masyarakat di setiap daerah diharapkan menjadi bahan pembahasan untuk merumuskan agenda organisasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat NTT.
Selain mengevaluasi kepengurusan sebelumnya dan memilih kepemimpinan baru, forum juga akan membahas program kerja yang akan dijalankan pada periode berikutnya.
Gunawan menegaskan bahwa pekerjaan organisasi tidak berakhir ketika konferensi ditutup.
“Setelah Konferwil selesai, kerja justru baru dimulai. Semua keputusan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata di masing-masing wilayah. Kita ingin LMND NTT semakin terorganisir, semakin dekat dengan rakyat dan konsisten menjalankan agenda perjuangan organisasi,” pungkas Gunawan.
Konferwil V EW LMND NTT di Kefamenanu pada 10–12 Oktober 2026 akan mempertemukan berbagai pengalaman gerakan dari sejumlah daerah di NTT.
Forum ini sekaligus menjadi momentum bagi LMND NTT untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, memperkuat pendidikan anggota dan konsolidasi, serta merumuskan agenda kerja untuk periode mendatang.
Dengan demikian, Konferwil V tidak hanya akan menjadi forum untuk menentukan kepemimpinan baru, tetapi juga ruang untuk membahas arah organisasi dan kerja yang akan dijalankan setelah forum berakhir.Kategori: Politik Daerah
✒️: ***
