![]() |
| Tutu Unu, tradisi tanah liat Desa Wolokoli Sikka, ditampilkan dalam kolase sebagai simbol warisan budaya leluhur yang terus dilestarikan generasi muda. |
Maumere, NTT, 22/1— Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Wolokoli tetap menjaga denyut tradisi leluhur melalui Tutu Unu, periuk tanah dari tanah liat yang hingga kini masih hidup dan digunakan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas membuat alat dapur, melainkan cermin kearifan lokal yang menyatu dengan alam dan identitas masyarakat setempat.
Tutu Unu dibuat dari tanah liat pilihan yang diambil langsung dari lingkungan sekitar desa. Seluruh proses dikerjakan secara manual—tanpa mesin—mulai dari pengolahan tanah, pembentukan periuk, pengeringan, hingga pembakaran dengan metode tradisional. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun, menjadi bagian penting dari ingatan kolektif warga Wolokoli.
Dalam lintasan sejarah, Tutu Unu menandai kecerdasan leluhur dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Periuk tanah ini merepresentasikan pola hidup sederhana, mandiri, dan harmonis dengan alam—nilai yang terus dijaga masyarakat Kecamatan Bola hingga hari ini.
Namun, perubahan zaman membawa tantangan. Peralatan dapur modern berbahan logam dan plastik kian populer, membuat penggunaan Tutu Unu perlahan berkurang, terutama di kalangan generasi muda. Kekhawatiran akan memudarnya tradisi pun mengemuka.
Ketua Karang Taruna Desa Wolokoli, Mo’a Popi, menegaskan bahwa Tutu Unu tidak boleh dipandang sebagai benda usang. “Tutu Unu adalah identitas dan pengetahuan leluhur. Jika generasi muda tidak mengenal dan mempelajarinya, perlahan tradisi ini bisa hilang,” ujarnya.
Ia menekankan peran strategis pemuda dalam pelestarian—melalui edukasi budaya, pengenalan sejarah desa, serta keterlibatan langsung dalam proses pembuatan Tutu Unu. Dengan begitu, makna dan nilai tradisi dapat dipahami, bukan sekadar diingat.
Lebih jauh, pelestarian Tutu Unu juga menyimpan potensi sosial dan ekonomi. Dikelola secara kreatif dan berkelanjutan, tradisi tanah liat ini dapat menjadi identitas budaya lokal yang bernilai tambah bagi pengembangan desa berbasis kearifan lokal di Kabupaten Sikka.
Harapan masyarakat Wolokoli sederhana namun bermakna: agar Tutu Unu terus mendapat perhatian dan dukungan—dari pemerintah desa, masyarakat, hingga generasi muda. Dengan komitmen bersama, Tutu Unu diharapkan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup dan diwariskan sebagai jati diri budaya Wolokoli di tengah perubahan zaman.
