![]() |
| Karangan bunga unik dari Jawa Barat banjiri Polres Sikka sebagai dukungan atas penanganan kasus TPPO oleh Polda NTT. |
Maumere,NTT, 28 Februari 2026 – Karangan bunga unik dari Jawa Barat membanjiri halaman Polres Sikka sebagai bentuk dukungan atas penanganan kasus TPPO oleh aparat kepolisian.
Suasana berbeda terlihat sejak pagi. Deretan papan bunga berjejer rapi di halaman kantor kepolisian, menghadirkan warna-warni apresiasi atas kinerja aparat dalam menangani dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan warga Jawa Barat.
Di antara banyaknya papan ucapan, satu karangan bunga mencuri perhatian publik. Tulisan yang tertera berbunyi:
“Terima Kasih Warga NTT dan Polres Sikka, Cinta Kami Pada Mu”
Karangan bunga tersebut diketahui berasal dari Persatuan Pria Jomblo Jawa Barat. Nama komunitas yang tak biasa itu justru membuat banyak warga tersenyum, namun pesan yang disampaikan tetap sarat makna: dukungan moral dan rasa terima kasih atas langkah tegas aparat penegak hukum.
Warga yang melintas tampak berhenti sejenak untuk membaca tulisan tersebut. Beberapa bahkan mengabadikannya menggunakan telepon genggam. Ungkapan “Cinta Kami Pada Mu” dinilai sebagai bentuk solidaritas lintas daerah yang jarang terlihat dalam konteks penegakan hukum.
Fenomena ini menjadi menarik karena kasus TPPO yang ditangani tidak hanya berdampak pada wilayah Nusa Tenggara Timur, tetapi juga menyentuh warga Jawa Barat. Dukungan dari luar daerah menunjukkan bahwa isu perdagangan orang bukan persoalan lokal semata, melainkan masalah kemanusiaan yang menyatukan kepedulian lintas provinsi.
Karangan bunga tersebut merupakan bagian dari gelombang apresiasi yang datang dari berbagai elemen di Jawa Barat, mulai dari kepala daerah, instansi pemerintah, hingga komunitas masyarakat. Dukungan itu ditujukan kepada jajaran Polda NTT dan Polres Sikka atas komitmen mereka dalam memproses hukum serta menahan dua tersangka pada Jumat, 27 Februari 2026.
Secara sosiologis, fenomena banjir karangan bunga dalam kasus hukum menunjukkan meningkatnya partisipasi publik dalam mengawal proses penegakan hukum. Apresiasi terbuka seperti ini dapat memperkuat legitimasi moral aparat, sekaligus menjadi pengingat bahwa transparansi dan profesionalisme adalah harapan utama masyarakat.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, dukungan moral tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi aparat untuk tetap profesional, objektif, dan berpihak pada perlindungan korban.
Hari itu, halaman Polres Sikka bukan hanya dipenuhi bunga. Ia dipenuhi pesan solidaritas, empati, dan satu suara yang sama: perdagangan orang harus dilawan bersama.
