Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dituding Aniaya Kades, Ferdinandus Dhosa: Saya Korban!

Selasa, 17 Maret 2026 | Maret 17, 2026 WIB Last Updated 2026-03-17T03:39:34Z

 

Ferdinandus Dhosa berpose di area persawahan sambil memegang bendera Merah Putih, didampingi seekor kuda yang dihias pita merah putih. Foto ini menjadi sorotan setelah dirinya membantah tudingan dugaan penganiayaan terhadap Kepala Desa Labolewa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Nagekeo,NTT, 17 Maret 2026 – Nama Ferdinandus Dhosa mendadak ramai diperbincangkan setelah muncul pemberitaan yang menuding dirinya melakukan penganiayaan terhadap Kepala Desa Labolewa, Valens Nusa, dan seorang warga bernama Tobias Dega di Kecamatan Aesesa.


Namun, cerita versi Ferdinandus Dhosa justru berbeda jauh dari tudingan tersebut.


Dengan nada tegas, pria yang akrab disapa Ferdin itu membantah keras bahwa dirinya melakukan kekerasan.


“Saya tidak pernah main hakim sendiri, apalagi melakukan penganiayaan. Itu tidak benar. Berita itu terlalu dilebih-lebihkan dan tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya,” tegasnya.


Sedikit humor pun muncul saat Ferdin menjelaskan situasi yang menurutnya sudah “melebar ke mana-mana”.


Pergi ke sawah menanam padi,

Padi tumbuh dimakan sapi.

Yang rusak bukan cuma padi,

Nama baik juga ikut digoreng berita pagi.

Kronologi Versi Ferdinandus


Ferdinand mengungkapkan bahwa masalah ini berawal dari keresahannya terhadap tanaman padi miliknya di wilayah Pomabala yang hampir setiap malam dirusak ternak sapi.


Sebagai petani, katanya, melihat padi yang sudah ditanam dengan susah payah dirusak begitu saja tentu membuat hati “panas seperti kopi yang baru diseduh”.


Puncaknya terjadi pada Sabtu dini hari (14/03/2026).


Saat itu, sapi yang diduga sering merusak tanaman padinya akhirnya masuk perangkap yang dipasang di sekitar sawah.


Ferdinand lalu mendatangi rumah Tobias Dega untuk memastikan kepemilikan ternak tersebut.

“Di lokasi, Om Tobias mengakui sapinya. Satu lagi milik Kepala Desa, Valens Nusa,” ungkapnya.


Dalam sejumlah pemberitaan sebelumnya, Ferdinand disebut mengambil parang dan melakukan kekerasan.


Menurutnya, parang yang ia pegang saat itu bukan untuk mengancam siapa pun.

“Saya hanya mau cek, apakah ada padi di dalam usus sapi itu. Kalau tidak ada, saya siap ganti dua ekor sapi. Tapi kalau ada, ya pemilik harus tanggung jawab,” jelasnya.


Pernyataan itu, kata Ferdin, juga disaksikan beberapa orang yang berada di lokasi.


Ferdinand mengaku kecewa karena salah satu ternak yang merusak sawahnya ternyata milik seorang pejabat desa.


“Seharusnya kepala desa memberi contoh yang baik, bukan malah membiarkan ternak berkeliaran saat musim tanam,” katanya.


Di sejumlah daerah pedesaan NTT, persoalan ternak yang merusak tanaman warga memang bukan cerita baru. Bahkan tak jarang memicu konflik antarwarga.


Karena itu banyak komunitas adat memiliki mekanisme penyelesaian konflik sendiri.


Diselesaikan Secara Adat

Meski sempat emosi, Ferdinand mengaku tidak menuntut ganti rugi.

Ia memilih menyelesaikan persoalan melalui ritual adat Keta Ja.


“Saya hanya minta dilakukan ritual adat Keta Ja. Bawa satu anak ayam dan satu kelapa merah sebagai bentuk permohonan maaf kepada alam dan leluhur,” ujarnya.


Kedua pihak kemudian melakukan ritual adat dan saling memaafkan.

“Masalah sebenarnya sudah selesai. Kami sudah damai,” kata Ferdinand.


Meski konflik sudah selesai secara adat, Ferdinand mengaku kecewa karena muncul pemberitaan yang dinilainya menyudutkan dirinya.


“Sekarang saya yang disalahkan, padahal saya ini korban. Tanaman saya dirusak, tapi saya yang dituduh melakukan penganiayaan,” ujarnya.


Ia juga menyinggung dugaan konflik kepentingan dalam pemberitaan.


Menurutnya, wartawan dari salah satu media disebut memiliki hubungan keluarga dengan Kepala Desa Labolewa.


“Kalau jurnalis, harus profesional. Jangan karena ada hubungan keluarga, lalu berita jadi tidak berimbang,” tegasnya.


Ferdinand pun mengingatkan pentingnya kode etik jurnalistik.

“Jurnalis harus menyampaikan fakta secara jujur dan berimbang, bukan malah memperkeruh situasi yang sebenarnya sudah selesai secara damai,” pungkasnya.


Dalam banyak konflik desa, masalah kecil bisa menjadi besar jika komunikasi tersendat. Untungnya, adat masih menjadi jembatan yang mampu meredakan emosi.

✒️: Albert Cakramento