![]() |
| Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung saat prosesi pengukuhan sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Ledalero, Maumere, Sabtu (18/4/2026). |
Maumere,NTT, 18 April 2026 — Dunia akademik kembali mencatat tonggak penting. Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Filsafat Politik dalam sebuah momentum yang tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga mempertegas peran kampus sebagai ruang lahirnya suara kritis bagi keadilan.
Pengukuhan ini melampaui seremoni akademik semata. Di tengah berbagai tantangan bangsa—mulai dari isu keadilan hingga praktik kekuasaan yang kerap menuai sorotan—kehadiran seorang Guru Besar Filsafat Politik menjadi simbol penting bahwa dunia akademik tetap berdiri sebagai penjaga moral dan intelektual.
Filsafat politik tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang nyata. Ia hadir untuk menguji kekuasaan, menimbang keadilan, serta mengingatkan publik akan tanggung jawab sebagai warga negara.
Dalam konteks tersebut, pengukuhan Prof. Otto dinilai relevan dan strategis. Perannya tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai intelektual publik yang berkontribusi dalam membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat.
Melalui berbagai karya ilmiah, refleksi kritis, serta pengabdian yang konsisten, Prof. Otto dikenal sebagai sosok yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan, khususnya bagi generasi muda.
Pengukuhan ini sekaligus menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi panjangnya dalam dunia pendidikan dan pemikiran.
Momentum ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi komunitas akademik dan Gereja, yang selama ini menjadikan refleksi intelektual sebagai dasar dalam membangun peradaban yang bermartabat.
Pengukuhan Prof. Otto diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberi kontribusi nyata dalam membentuk arah berpikir publik yang lebih adil, demokratis, dan beradab.
Di tengah dinamika kepentingan dan tarik-menarik kekuasaan, suara dari ruang filsafat menjadi semakin penting—bukan hanya untuk mengkritik, tetapi juga menuntun arah perubahan.
Dari kampus, suara keadilan seharusnya lahir. Dan melalui pengukuhan ini, suara tersebut kini semakin dikuatkan.
