![]() |
| Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Wilfridus Yons Ebit, saat menyampaikan orasi dalam aksi bersama aliansi petani di Jakarta, Jumat (17/4/2026), terkait polemik pernyataan swasembada pangan. |
Jakarta, 17 April 2026 — Gelombang protes dari kalangan petani mencuat ke permukaan. Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Wilfridus Yons Ebit, turun langsung memimpin aksi bersama Aliansi Masyarakat Petani menyikapi pernyataan kontroversial yang menyebut swasembada pangan sebagai “kebohongan publik”.
Aksi tersebut menjadi bentuk perlawanan terbuka atas narasi yang dinilai merendahkan kerja keras petani sekaligus memicu keresahan di tengah masyarakat.
“Ini Soal Harga Diri Petani”
Dalam orasinya, Wilfridus menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak lagi sekadar kritik, melainkan telah menyentuh martabat petani.
“Ini bukan sekadar kritik. Ini sudah menyentuh harga diri petani. Kami tidak terima kerja keras kami dipelintir dengan narasi yang menyesatkan,” tegasnya.
Wilfridus juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah terhadap pihak-pihak yang dianggap menyebarkan informasi tidak benar terkait isu pangan nasional.
Menurutnya, narasi yang tidak berbasis data berpotensi merusak kepercayaan publik serta mengganggu stabilitas ketahanan pangan.
“Kalau ada unsur hoaks dan provokasi, jangan dibiarkan. Polisi harus bertindak tegas. Ini menyangkut kepentingan nasional,” ujarnya.
Menanggapi polemik, Tani Merdeka Indonesia memaparkan data capaian swasembada beras nasional tahun 2025:
- Produksi beras: 34,71 juta ton
- Kenaikan: 13,36% dari tahun sebelumnya
- Surplus: 3,52 juta ton
- Stok Bulog: 3,24 juta ton
Impor beras konsumsi: nihil sepanjang 2025
“Ini fakta di lapangan, bukan opini. Produksi naik, stok aman, dan rakyat bisa makan,” tegas Wilfridus.
Aliansi Masyarakat Petani menilai pernyataan yang tidak berbasis data berpotensi memecah belah masyarakat serta merusak citra sektor pangan nasional.
Karena itu, petani dan pedagang diimbau tetap solid dan tidak terprovokasi.
“Petani adalah garda terdepan. Kami tidak akan diam ketika kerja keras kami direndahkan,” tegasnya.
Di tengah polemik, Tani Merdeka Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan.
Mereka menegaskan akan tetap berada di garis depan menjaga kedaulatan pangan, sekaligus melawan informasi yang dinilai menyesatkan publik.
Aksi ini menandai meningkatnya sensitivitas petani terhadap narasi publik yang menyangkut sektor pangan. Di sisi lain, perdebatan ini juga membuka ruang penting bagi transparansi data dan komunikasi yang lebih akurat dalam isu strategis nasional.
✒️; ***/Albert Cakramento
