![]() |
| Francisco Bin Samson, tenaga kesehatan P3K paruh waktu di Puskesmas Wolofeo, Kabupaten Sikka, tetap menjalankan tugasnya di tengah keterbatasan dan belum menerima upah sejak penetapan statusnya. |
Maumere, NTT — Kisah nakes P3K Sikka kembali menjadi sorotan setelah sejumlah tenaga kesehatan di wilayah pedalaman mengaku belum menerima upah sejak ditetapkan sebagai PPPK paruh waktu. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius tentang nasib tenaga kesehatan yang tetap bekerja di tengah keterbatasan tanpa kepastian hak.
Di balik sunyi pedalaman Kabupaten Sikka, pengabdian tenaga kesehatan tetap berjalan. Salah satu potret nyata datang dari Francisco Bin Samson, yang telah delapan tahun bertugas di Puskesmas Wolofeo.
Sebagai bagian dari nakes P3K Sikka, ia menghadapi medan berat, akses terbatas, hingga situasi darurat seperti banjir. Dalam kondisi tertentu, tenaga kesehatan bahkan harus menggotong pasien secara manual menuju fasilitas rujukan.
“Banjir datang, kami harus bahu membahu supaya bisa selamat,” ungkapnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peran nakes P3K Sikka tidak hanya sebatas pelayanan di fasilitas kesehatan, tetapi juga menjangkau wilayah terpencil dengan segala risiko.
Selama menjadi tenaga sukarelawan, Francisco hanya menerima insentif antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per bulan. Harapan sempat muncul saat ia menerima SK sebagai PPPK paruh waktu.
Namun hingga kini, ia mengaku belum pernah menerima gaji sebagai nakes P3K Sikka. Bahkan nominal yang dijanjikan pun hanya sekitar Rp600 ribu per bulan.
Pemerintah disebut akan membayarkan setelah perubahan APBD. Namun, ketidakpastian ini justru memicu kegelisahan.
Apakah tenaga kesehatan harus terus bekerja tanpa kepastian?
Apakah pengabdian harus dibayar dengan ketidakjelasan?
Meski tanpa upah, Francisco dan rekan-rekannya tetap menjalankan tugas. Dalam kondisi terbatas, mereka tetap melayani pasien di pedalaman.
“Walaupun lapar dan penuh keterbatasan, kami tetap bekerja. Hati kami menjerit, tapi tanggung jawab membuat kami bertahan,” ujarnya.
Sejumlah nakes P3K Sikka bahkan telah mendatangi DPRD untuk meminta penjelasan dan kepastian atas hak mereka.
Kondisi geografis pedalaman Sikka mempertegas tantangan yang dihadapi. Selain keterbatasan fasilitas, tenaga kesehatan juga menghadapi risiko keselamatan saat menjalankan tugas.
Dalam situasi darurat, mereka harus bergerak cepat, meski tanpa dukungan yang memadai.
Kisah ini bukan hanya tentang satu tenaga kesehatan, tetapi tentang banyak nakes P3K Sikka yang mengabdi dalam diam. Di saat mereka menyelamatkan nyawa, mereka juga masih menunggu hak yang belum pasti.
Pengabdian tidak seharusnya dibayar dengan ketidakpastian—apalagi dengan kelaparan.
✒️: Albert Cakramento
