Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Rektor Undana: AI Cerdas, Tapi Guru Besar Lebih Bermakna

Rabu, 08 April 2026 | April 08, 2026 WIB Last Updated 2026-04-08T14:49:59Z

 

Prosesi pengukuhan tiga guru besar Universitas Nusa Cendana (Undana) dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4/2026), sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik di tengah perkembangan teknologi dan era kecerdasan buatan (AI).

Kupang,NTT– Pengukuhan guru besar Undana kembali menegaskan peran penting akademisi di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Universitas Nusa Cendana (Undana) mengukuhkan tiga profesor baru dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Rabu (8/4/2026), sekaligus menyoroti posisi manusia di era dominasi Artificial Intelligence (AI).


Pengukuhan ini menambah jumlah guru besar Undana menjadi 79 orang. Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyebut capaian ini sebagai penguatan “benteng akademik” kampus.


Tiga profesor yang dikukuhkan yakni:


  1. Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. (Arsitektur dan Perilaku)
  2. Prof. Dr. Drs. Wiliam Djani, M.Si. (Kebijakan Pembangunan Kesehatan)
  3. Prof. Zakaria Seba Ngara, Ph.D. (Fisika Material)


Dalam sambutannya, Rektor Undana menyoroti fenomena meningkatnya ketergantungan mahasiswa terhadap Artificial Intelligence.


Menurutnya, saat ini tidak sedikit mahasiswa yang lebih memilih “menyewa kecerdasan” AI dibanding berdiskusi dengan dosen.


“AI mungkin unggul dalam mengolah data, namun guru besar memiliki sesuatu yang tidak dimiliki teknologi: hati nurani, emosi, dan kepekaan lokal,” tegasnya.


Ia menambahkan, guru besar Undana bukan sekadar pengajar, tetapi pembentuk cara berpikir kritis yang mampu memberi makna pada data.


Pj. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut baik pengukuhan tersebut.


Ia menilai kepakaran para profesor sangat dibutuhkan dalam mendukung pembangunan daerah, mulai dari sektor kesehatan, infrastruktur hingga energi.


Orasi Ilmiah Angkat Persoalan Nyata


1. Arsitektur Berbasis Perilaku

Prof. Linda Fanggidae menyoroti kegagalan desain modern yang mengabaikan aspek sosial. Ia membandingkan proyek perumahan di luar negeri dengan fenomena lokal seperti kios sederhana di NTT yang justru berhasil membangun interaksi sosial.


2. Reformasi Kebijakan Stunting

Prof. Wiliam Djani menilai persoalan stunting bukan hanya soal anggaran, tetapi lemahnya koordinasi lintas sektor.

Ia mendorong perubahan pendekatan dari pelayanan menjadi pemberdayaan masyarakat.


3. Inovasi Nanodots dari Bahan Lokal

Prof. Zakaria Seba Ngara memperkenalkan inovasi karbon nanodots berbasis bahan lokal seperti kulit buah naga dan lengkuas.


Teknologi ini berpotensi menjadi solusi bagi sektor pertanian, energi, dan pangan.


Menariknya, ia menyebut pengukuhan ini sebagai “mukjizat” di tengah perjuangan melawan masalah kesehatan.


Melalui pengukuhan ini, guru besar Undana diharapkan tidak hanya berkontribusi dalam dunia akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi masyarakat.


Undana menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak boleh menghilangkan nilai kemanusiaan.


Di tengah era digital dan dominasi AI, peran manusia tetap menjadi kunci. Guru besar hadir bukan hanya sebagai sumber ilmu, tetapi sebagai penjaga makna dalam setiap pengetahuan.


Saat teknologi terus berkembang, yang paling dibutuhkan bukan hanya kecerdasan— tetapi kebijaksanaan.

✒️: HEC/ kl