Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Ibu Bhayangkari Bangun Literasi Sikka dari Nol

Sabtu, 02 Mei 2026 | Mei 02, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T05:12:38Z

 

Hubertina Afloubun berpose di depan rak buku Taman Baca Masyarakat Misir Tengah, Kabupaten Sikka, sebagai penggerak utama literasi anak dan edukasi sosial di wilayah tersebut.

Maumere, NTTGerakan Taman Baca Misir Tengah Sikka berkembang menjadi ruang literasi non-formal yang aktif menjangkau anak-anak hingga sekolah dasar, sekaligus mengangkat isu sosial seperti anti-bullying dan kesehatan mental. Di balik gerakan ini, sosok Hubertina Afloubun tampil sebagai motor utama yang membangun semuanya dari keterbatasan.


Gerakan Taman Baca Misir Tengah Sikka bermula pada 2017 dari aktivitas sederhana di sebuah rumah kontrakan. Anak-anak berkumpul untuk belajar dan bermain dengan fasilitas yang sangat terbatas.

“Kami lahir juga seadanya,” ungkap Hubertina Afloubun.


Meski minim buku dan sarana, kegiatan tetap berjalan konsisten karena didorong kepedulian terhadap pendidikan anak.


Pandemi COVID-19 sempat membuat kegiatan taman baca terhenti. Namun setelah itu, Taman Baca Misir Tengah Sikka kembali dibangun dengan sistem yang lebih rapi.


“Setelah vakum, saya inisiasi lagi dengan struktur dan manajemen yang lebih jelas,” jelasnya.


Kini, Taman Baca Misir Tengah Sikka telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) dan terdaftar secara nasional, serta menjadi bagian dari Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). 


Status ini membuat program mereka lebih terdata dan diakui secara resmi.


Program tidak lagi hanya di satu titik. Tim TBM kini aktif masuk ke sekolah dengan pendekatan lintas profesi.


Mulai dari psikolog, advokat, tenaga hukum, hingga kepolisian melalui Binmas dilibatkan dalam kegiatan edukasi.


Fokus utamanya adalah:


Edukasi anti-bullying

Kesehatan mental anak


“Kami turun langsung ke sekolah membawa tim dari berbagai profesi,” ungkapnya.


Selain literasi dasar, Taman Baca Misir Tengah Sikka juga mulai mengembangkan literasi finansial untuk anak.

“Kita juga perlu membawa anak-anak ke literasi finansial,” katanya.


Langkah ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi pendidikan di NTT yang masih berada di peringkat bawah secara nasional.


Perjalanan TBM ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.


Dari ruang kecil, kini lahir gerakan yang menjangkau sekolah, komunitas, hingga isu sosial anak secara langsung.


Taman Baca Misir Tengah Sikka tidak hanya membangun budaya baca, tetapi juga membentuk kesadaran sosial dan karakter anak sejak dini.


Dari ruang sederhana, lahir gerakan besar—karena perubahan selalu dimulai dari yang berani bergerak.

✒️: Albert Cakramento