Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

16 Tahun Membina, Firmus Pilin Raja: Watublapi Buktikan Pramuka Bukan Sekadar Seragam

Jumat, 14 Agustus 2026 | Agustus 14, 2026 WIB Last Updated 2026-08-14T14:24:19Z


Maumere, NTT, 14 Agustus 2026 — Peringatan HUT ke-65 Gerakan Pramuka di Watublapi, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan yang mengedepankan pendidikan karakter, kreativitas dan kemandirian peserta didik.


Kegiatan yang melibatkan peserta didik dari SDN Watublapi dan SMP Negeri 51 St. Rafael Hewerbura tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Pramuka menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk membangun kedisiplinan, keberanian, kerja sama, tanggung jawab dan kreativitas.


Pembina Pramuka Firmus Pilin Raja mengatakan, proses pembinaan telah dimulai sejak 11 Agustus 2026 dengan melibatkan Bapak dan Ibu Guru sebagai pendamping.


Menurut Firmus, peserta mendapatkan berbagai materi dasar kepramukaan yang dikemas secara kreatif. Sedikitnya 50 materi menjadi target yang harus dikuasai peserta sebelum mengikuti pengukuhan.


Materi tersebut meliputi salam, yel-yel, dentuman, lagu, puisi, kuis serta berbagai aktivitas kepramukaan lainnya. 


Setelah menjalani proses pembinaan, pengukuhan peserta dilaksanakan pada 13 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan api unggun yang menjadi salah satu momentum paling menarik dalam rangkaian HUT ke-65 Gerakan Pramuka di Watublapi.


Saat api unggun berlangsung, peserta diberikan kesempatan menampilkan berbagai kreativitas. Mereka tidak hanya membawakan materi yang telah diberikan pembina, tetapi juga mampu menciptakan yel-yel, salam, dentuman hingga lagu sendiri.


Firmus menilai kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak mampu mengembangkan potensi mereka ketika diberikan ruang untuk berkreasi.


Target 50 materi yang diberikan pembina ternyata tidak menjadi batas bagi peserta. Mereka justru mampu menghasilkan kreasi baru berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang diterima.


“Anak-anak sendiri mempunyai kreasi tersendiri. Mereka bisa menciptakan dentuman, yel, salam bahkan lagu sendiri. Itu luar biasa,” ungkap Firmus.


Firmus menegaskan, pendidikan Pramuka tidak boleh hanya berlangsung di lingkungan sekolah. Kegiatan di luar sekolah dan alam terbuka menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter peserta didik.


Melalui pengalaman langsung, anak-anak belajar mengenai keberanian, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama serta kepedulian terhadap lingkungan.


Pembinaan tetap berpedoman pada nilai-nilai Gerakan Pramuka dan Dasa Darma, dengan pola pendidikan yang disesuaikan berdasarkan golongan peserta.


Peserta Siaga mendapatkan pendekatan sesuai karakteristik golongannya, sementara peserta Penegak memperoleh materi yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan mereka.


Meski sejumlah kegiatan dilaksanakan secara bersama-sama, setiap golongan tetap mendapatkan pembinaan sesuai tingkatannya.


Seluruh rangkaian kegiatan dirancang dengan menerapkan prinsip 4M, yakni Mendidik, Menarik, Menyenangkan dan Menggembirakan.


Materi dasar kepramukaan tidak diberikan secara monoton. Pembina mengemasnya melalui lagu, yel-yel, dentuman, permainan dan berbagai atraksi kreatif sehingga peserta lebih mudah mengikuti proses pembelajaran.


Hasilnya, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan kepramukaan, tetapi juga menikmati setiap proses pembinaan.


Kemeriahan kegiatan bahkan turut dirasakan masyarakat sekitar yang menyaksikan berbagai penampilan peserta saat api unggun.


Lokasi api unggun dipilih pada tempat yang strategis sehingga kemeriahannya dapat terlihat dari kawasan Kampung Watublapi. Pemilihan lokasi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan, pelaksanaan kegiatan dan tujuan pembinaan.


Bagi Firmus Pilin Raja, momentum HUT ke-65 Gerakan Pramuka tahun ini memiliki arti tersendiri.


Ia mengaku telah membina Pramuka di Kabupaten Sikka selama 16 tahun, sejak 2010. Selama perjalanan tersebut, Firmus melihat mulai bermunculan kader-kader baru yang dinilai mampu melanjutkan proses pembinaan Pramuka.


Kehadiran para guru sebagai pendamping menjadi kekuatan tersendiri. Mereka tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dinilai telah memiliki kesiapan untuk mengambil peran lebih besar dalam pembinaan Pramuka.


“Saya melihat sudah banyak kader yang bisa menggantikan saya. Ini luar biasa,” ujar Firmus.


Menurutnya, regenerasi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan kepramukaan. Pembinaan tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang, tetapi harus terus melahirkan kader yang mampu meneruskan nilai-nilai kepramukaan kepada generasi berikutnya.


Rangkaian peringatan HUT ke-65 Gerakan Pramuka di Watublapi juga diwarnai apel akbar pada siang hari, berbagai pertemuan, penampilan peserta dan kegiatan api unggun.


Perpaduan kreativitas pembina, pendamping dan peserta didik membuat seluruh rangkaian kegiatan berlangsung hidup. Dentuman, yel-yel dan lagu berpadu dengan kreasi anak-anak sehingga menciptakan suasana yang edukatif sekaligus menghibur.


Bagi Firmus, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan Pramuka di Watublapi telah berkembang dan mampu memberikan ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan potensi mereka.


Pramuka tidak hanya mengajarkan seragam, baris-berbaris maupun upacara. Lebih dari itu, Pramuka menjadi wadah pendidikan karakter yang mendorong anak-anak untuk berani tampil, bekerja sama, mandiri, disiplin dan kreatif.


Dari Watublapi, semangat tersebut terus tumbuh. Selama 16 tahun membina, Firmus Pilin Raja melihat bahwa regenerasi pembina mulai terbentuk dan peserta didik semakin mampu menunjukkan kreativitas mereka.


Watublapi membuktikan, Pramuka bukan sekadar seragam dan upacara. Pramuka adalah ruang untuk mendidik generasi muda menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, disiplin dan berkarakter.

✒️: Albert Cakramento