Rote Ndao, NTT– Kabupaten Rote Ndao kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, pada Kamis (30/7/2026), menyambut kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Anggota DPR RI Anis Yohan, serta Gubernur Nusa Tenggara Timur. Kunjungan tersebut menjadi momentum strategis memperkuat sinergi pusat dan daerah sekaligus menegaskan optimisme Rote Ndao menuju Nusa Garam Indonesia melalui pengembangan kawasan K-SIGN.
Rombongan pejabat nasional itu meninjau langsung kawasan K-SIGN (Kawasan Sentra Industri Garam Nasional) untuk melihat perkembangan pembangunan sekaligus menyaksikan hasil produksi garam yang telah dihasilkan masyarakat setempat.
Kunjungan tersebut menjadi bukti nyata komitmen pemerintah pusat dalam mendukung Program Strategis Nasional K-SIGN yang diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak swasembada garam nasional.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk mengatakan, dukungan pemerintah pusat memberikan semangat baru bagi daerahnya untuk terus mengembangkan potensi sektor garam yang selama ini menjadi salah satu kekuatan alam Rote Ndao.
Menurutnya, pengembangan industri garam bukan hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
"Kehadiran para pimpinan nasional ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah dalam mendorong percepatan pembangunan, khususnya di sektor pangan, kelautan, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Paulus Henuk.
Ia menjelaskan, Program Strategis Nasional K-SIGN dirancang untuk meningkatkan produksi garam berkualitas, mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam, sekaligus mendukung target swasembada garam nasional pada tahun 2027.
Paulus optimistis Rote Ndao memiliki seluruh potensi yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu sentra produksi garam terbesar di Indonesia.
Mulai dari kondisi geografis, iklim yang mendukung, hingga komitmen pemerintah pusat yang terus mengawal pengembangan kawasan tersebut.
"Saya optimistis, dengan potensi yang dimiliki Rote Ndao serta dukungan penuh dari pemerintah pusat, daerah kita akan menjadi salah satu lumbung garam nasional yang mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia," ungkapnya.
Lebih jauh, Paulus Henuk memiliki harapan besar agar identitas Rote Ndao tidak hanya dikenal sebagai Nusa Lontar, tetapi juga menjadi ikon baru sebagai Nusa Garam Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan kawasan K-SIGN akan membawa dampak ekonomi yang luas, mulai dari meningkatnya pendapatan petani garam, tumbuhnya industri turunan, hingga terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
"Saya percaya, suatu saat nanti Rote Ndao tidak hanya dikenal sebagai Nusa Lontar, tetapi juga sebagai Nusa Garam, daerah yang menjadi kebanggaan Indonesia dalam mewujudkan swasembada garam nasional," tegasnya.
Kunjungan kerja para menteri tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam mempercepat pembangunan sektor garam nasional sekaligus memperkuat posisi Rote Ndao sebagai daerah strategis yang akan menopang target swasembada garam Indonesia pada tahun 2027.
✒️: kl
