Manggarai, NTT— Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores meninggalkan duka mendalam bagi keluarga di Dusun Welong, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai.
Dua bersaudara, Clarista Marisa Tangkang (Icha) dan Maria Refina Setia (Evin), kini menjadi penyintas yang harus menjalani kehidupan di tengah kondisi pengungsian setelah kehilangan kedua orangtua mereka.
Ayah mereka, Romanus Tangkang, dan ibu mereka, Yuliana Madi, meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan rumah saat gempa terjadi.
Rumah keluarga tersebut mengalami kerusakan akibat gempa sehingga tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk ditinggali. Icha, Evin dan anggota keluarga lainnya kemudian bertahan di tenda pengungsian bersama para penyintas lainnya.
Kehilangan kedua orangtua membuat kehidupan keluarga ini berubah drastis. Mereka tidak hanya menghadapi kerusakan tempat tinggal, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi pascabencana.
Icha dan Evin merupakan bagian dari delapan bersaudara. Dua di antaranya telah berkeluarga.
Setelah Romanus dan Yuliana meninggal dunia, anggota keluarga yang tersisa harus saling menguatkan untuk menghadapi kehidupan sebagai penyintas bencana.
Di tenda pengungsian, mereka berusaha menjalani aktivitas sehari-hari dengan segala keterbatasan. Kebutuhan makanan, perlengkapan rumah tangga, tempat tinggal sementara hingga pendidikan anak-anak menjadi persoalan yang harus dihadapi secara bersamaan.
Bagi Icha dan Evin, pendidikan menjadi salah satu harapan penting untuk melanjutkan kehidupan setelah kehilangan kedua orangtua.
Kepedulian terhadap keluarga penyintas mulai berdatangan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai bersama KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) telah menyalurkan sejumlah bantuan kepada keluarga Icha dan Evin.
Bantuan tersebut berupa sembako, perlengkapan sekolah, peralatan dapur dan terpal untuk mendukung kebutuhan keluarga selama berada di lokasi pengungsian.
Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan dasar mereka selama masa pemulihan pascabencana.
Namun, kebutuhan para penyintas tidak berhenti pada bantuan darurat. Keluarga Icha dan Evin masih membutuhkan dukungan untuk tempat tinggal, pendidikan dan kebutuhan sehari-hari.
Gempa telah merusak rumah dan merenggut kedua orangtua mereka. Bagi Icha dan Evin, kehilangan tersebut menjadi pukulan berat yang harus dihadapi di usia mereka.
Namun, kehidupan harus terus berjalan.
Karena itu, dukungan masyarakat, komunitas, lembaga sosial dan berbagai pihak masih dibutuhkan agar kedua penyintas tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan dan menjalani kehidupan secara layak.
Gempa boleh meruntuhkan rumah mereka, tetapi jangan sampai masa depan Icha dan Evin ikut runtuh.
Kisah Icha dan Evin menunjukkan bahwa setelah bencana berlalu, perjuangan para penyintas masih panjang. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan pada masa darurat, tetapi juga dukungan untuk membangun kembali kehidupan.
Masyarakat, komunitas, lembaga sosial maupun pihak lain yang ingin membantu Icha, Evin dan keluarga mereka dapat berkoordinasi melalui Pemerintah Desa Wae Mulu atau relawan di lokasi pengungsian Dusun Welong, Desa Wae Mulu, Kabupaten Manggarai.
Koordinasi juga dapat dilakukan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai agar bantuan dapat disalurkan secara tepat kepada keluarga penyintas yang membutuhkan.
Di tengah kehilangan yang begitu besar, perhatian dan kepedulian menjadi kekuatan bagi Icha, Evin dan keluarga mereka untuk kembali menata kehidupan.
Mereka telah kehilangan ayah dan ibu. Kini, mereka membutuhkan dukungan agar tetap memiliki harapan untuk meraih masa depan.
