Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Gempa Rusak Sekolah, SDI Tiwu Lenang Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-08T04:43:49Z

 



Manggarai Timur, NTT Gempa bumi yang mengguncang Flores membuat aktivitas pendidikan di SDI Tiwu Lenang, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, harus berlangsung dalam kondisi darurat.


Gedung sekolah mengalami kerusakan berat dan dinyatakan tidak aman untuk digunakan. Demi keselamatan siswa dan guru, kegiatan belajar mengajar (KBM) kini dipindahkan ke ruang kelas darurat yang dibangun secara gotong royong oleh para guru dan orang tua murid.


Pada Sabtu, 5 September 2026, warga bersama pihak sekolah mendirikan ruang belajar sementara menggunakan bambu, kayu dan terpal seadanya.


Meski sederhana, ruang darurat tersebut menjadi tempat anak-anak tetap mendapatkan pelayanan pendidikan di tengah kondisi pascagempa.


Salah satu guru SDI Tiwu Lenang, Oktavianus Besi, mengatakan pembangunan ruang kelas darurat dilakukan agar proses pendidikan tetap berjalan sekaligus memberikan tempat yang lebih aman bagi siswa.


“Kami membangun ruang kelas darurat ini agar anak-anak tetap bisa belajar sekaligus merasa aman. Ini juga mengikuti arahan pemerintah, mengingat bangunan kami sudah tidak bisa dipakai,” ujar Oktavianus.

 

Kerusakan bangunan sekolah terjadi setelah gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.


Dengan kondisi bangunan yang dinilai tidak aman dan gempa susulan yang masih terjadi, pihak sekolah memilih melaksanakan pembelajaran di luar gedung.


Keterbatasan ruang membuat sekolah menerapkan sistem belajar secara bergiliran atau shift, sehingga seluruh siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran.


“Kami berharap bencana ini segera berlalu, agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman di tempat dan gedung yang layak,” tambahnya.


Upaya mempertahankan kegiatan belajar tidak hanya dilakukan pihak sekolah. Para orang tua murid ikut bergotong royong menyediakan tenaga maupun bahan untuk membangun tempat belajar sementara.


Hendrikus Rabu, yang mewakili orang tua murid, menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah dan para guru yang tetap melayani anak-anak meskipun kondisi sekolah mengalami kerusakan.


“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang tetap hadir dan melayani anak-anak kami. Belajar di luar gedung memang langkah yang tepat demi keselamatan semua, apalagi gempa susulan masih terus terjadi,” katanya.

 

Menurut Hendrikus, masyarakat berusaha membantu dengan kemampuan yang mereka miliki.


“Kami bangun bersama, dari bambu, kayu, dan terpal yang kami sumbangkan sendiri. Sederhana saja, tapi ini bukti kami tak menyerah,” ujarnya.


Namun, ruang belajar darurat yang dibangun secara swadaya masih jauh dari kondisi ideal.


Terpal yang tersedia belum mampu menutup seluruh bagian bangunan. Dinding ruang belajar juga belum tertata sempurna sehingga siswa dan guru masih harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.


Karena itu, Hendrikus meminta pemerintah memberikan bantuan, terutama terpal untuk memperkuat ruang belajar sementara.


“Kami memohon bantuan terpal dari pemerintah. Anak-anak kami butuh tempat yang lebih terlindungi agar bisa belajar dengan tenang,” pintanya.


Kebutuhan ruang belajar darurat disebut tidak hanya terjadi di SDI Tiwu Lenang.


Sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Elar, mulai dari jenjang TK/PAUD hingga SMA, juga membutuhkan perhatian dan dukungan untuk penyediaan tempat belajar sementara.


Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah sekolah yang membutuhkan perhatian antara lain:


  1. SDI Compang Ngeles
  2. SDI Tiwu Lenang
  3. SD Reweng
  4. SD Watu Ling
  5. SMP Satap Watu Ling
  6. SDI Mbaing Tasik
  7. SD Mboeng
  8. SMP di Desa Wae Lokom
  9. SMA Negeri 1 Elar
  10. SMP Negeri 1 Elar


Selain sekolah-sekolah tersebut, masih terdapat satuan pendidikan lainnya di wilayah Kecamatan Elar yang menghadapi kebutuhan serupa pascagempa.


Bagi warga, terpal bukan sekadar perlengkapan darurat. Material sederhana itu kini menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak tetap dapat bersekolah sambil menunggu kondisi kembali normal dan bangunan sekolah yang aman tersedia.


Semangat gotong royong guru dan orang tua menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak berhenti meskipun fasilitas sekolah mengalami kerusakan.


Namun, kemampuan masyarakat memiliki batas. Dukungan pemerintah tetap dibutuhkan agar ruang belajar sementara dapat dibuat lebih aman dan layak bagi siswa maupun guru. 


“Kami berjuang sekuat tenaga, tapi kami tak bisa sendirian. Anak-anak ini berhak mendapatkan tempat belajar yang layak, meski sementara,” kata Hendrikus.


Di tengah puing-puing dan keterbatasan pascagempa, para siswa SDI Tiwu Lenang tetap datang untuk belajar. Tenda darurat menjadi ruang kelas sementara, sementara harapan untuk kembali ke sekolah yang aman tetap mereka nantikan.

✒️: Albert Cakramento