Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Ketua BPH PGRI Semuel Haning: Jangan Minder Jadi Anak Desa, Jadilah Sarjana yang Mampu Menciptakan Lapangan Kerja

Rabu, 09 September 2026 | September 09, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T04:58:27Z

 



Kupang, NTT  — Ketua Badan Pembina Harian (BPH) PGRI, Dr. Semuel Haning, SH., MH, mengajak para lulusan Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT untuk tidak minder dengan latar belakang keluarga maupun daerah asal.


Pesan tersebut disampaikan Semuel Haning dalam rangkaian Wisuda Sarjana ke-10 UPG 1945 NTT, Rabu (9/9/2026).


Dalam sambutannya, Semuel mengatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan maupun kondisi ekonomi keluarganya.


“Jangan minder menjadi anak desa. Kita lahir tidak dari kota yang ramai, mungkin ada yang lahir dari desa dan dari keluarga sederhana,” ujarnya.


Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah keberanian menentukan arah kehidupan dan memperjuangkan masa depan melalui ilmu serta kerja keras.


“Jangan bertanya saya berasal dari mana, tetapi saya mau menuju ke mana,” katanya kepada para wisudawan.


Semuel juga mendorong para lulusan agar tidak berhenti pada pencapaian memperoleh ijazah. Sarjana, kata dia, harus mampu menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.


Ia secara khusus mendorong generasi muda untuk berani menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.


“Jadilah sarjana yang tidak membawa ijazah saja, tetapi membawa semuanya,” pesan Semuel.


Ia menilai dunia kerja membutuhkan lulusan yang memiliki kemampuan, keberanian, kreativitas dan kemauan untuk terus belajar. Karena itu, para wisudawan diharapkan tidak hanya berpikir untuk mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka peluang bagi orang lain.


Dalam kesempatan tersebut, Semuel juga mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan jasa orang tua.


Menurutnya, keberhasilan seorang anak tidak terlepas dari perjuangan orang tua yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. “Jangan lupa orang tua,” tegasnya.


Ia menggambarkan perjuangan orang tua yang bekerja dari pagi hingga malam dengan harapan anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.


Karena itu, keberhasilan wisudawan hari ini, menurut Semuel, bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi kebahagiaan keluarga dan bentuk penghargaan terhadap perjuangan orang tua.


Semuel juga mengajak para lulusan untuk tidak berhenti setelah mencapai keberhasilan pribadi. Mereka justru diharapkan membantu orang lain agar dapat berhasil.


“Kita berdiri sendiri di puncak, itu kesalahan. Ketika keberhasilan kita membuat orang lain juga berhasil, di situlah Tuhan menangkap kalian,” tuturnya.


Ia berharap para lulusan UPG 1945 NTT dapat menjadi sumber daya manusia yang memiliki ilmu, karakter, keberanian, serta kepedulian terhadap masyarakat dan daerah.


Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi Semuel terhadap perjalanan lembaga pendidikan yang menurutnya terus berkembang dan harus tetap dijaga agar mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT.

✒️: kl