Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

35 Tahun Mengabdi, Frederik Mira Tade Tutup Masa Jabatan: “Pemimpin Itu Melayani, Bukan Memerintah”

Kamis, 26 Februari 2026 | Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-26T12:03:17Z

 

Frederik Mira Tade, S.Pd, Kepala SMP Negeri 5 Kupang, dalam refleksi akhir masa jabatan setelah 35 tahun pengabdian di dunia pendidikan

Kota Kupang, NTT, 26 Februari 2026 -—Tidak semua perpisahan diwarnai tepuk tangan panjang. Ada yang justru terasa sunyi—karena yang pergi bukan sekadar pejabat, tetapi seorang pendidik yang menanamkan jejak nilai selama puluhan tahun.


Di ruang kerjanya di SMP Negeri 5 Kupang, Frederik Mira Tade, S.Pd duduk dengan wajah tenang. Tak ada nada heroik dalam suaranya. Tak ada kebanggaan yang berlebihan. Hanya refleksi panjang tentang 35 tahun pengabdian yang kini sampai di ujung jalan administratifnya.


“Menjadi pemimpin itu bukan memerintah, tapi melayani.”


Kalimat itu meluncur pelan, tetapi berat. Ia tidak sedang menyusun kata-kata indah. Ia sedang merangkum hidupnya.


Dari Kapur Tulis ke Kursi Kepemimpinan


Sebelum dikenal sebagai kepala sekolah, Frederik adalah guru matematika. Selama kurang lebih 29 tahun, ia berdiri di depan kelas. Menulis angka-angka, menegakkan disiplin, membentuk pola pikir.


Ia berasal dari generasi guru yang keras. Suara tegas dianggap wajar. Ketegasan adalah metode. Bahkan rotan pernah menjadi bagian dari kultur pendidikan masa lalu.


Namun waktu memaksa perubahan.


Regulasi berubah. Anak-anak berubah. Dunia berubah.


Frederik pun berubah.


Ia menyadari, mendidik bukan lagi soal menundukkan, tetapi menyadarkan. Bukan membuat takut, tetapi membuat mengerti.


“Sekarang anak-anak lebih sensitif. Kita harus lebih bijak,” ujarnya.


Di tangannya, ribuan siswa pernah belajar. Beberapa di antaranya kini menjadi profesional, bahkan profesor. Itu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah jejak hidup seorang guru yang tak terlihat di laporan resmi mana pun.


Dua Periode di Kursi Panas


Ketika dipercaya memimpin—dari SMP 15 hingga akhirnya menahkodai SMP Negeri 5 Kupang—Frederik tahu jabatan kepala sekolah bukan posisi yang nyaman.


Kepala sekolah adalah orang pertama yang disalahkan saat ada persoalan. Ia berdiri di garis depan kritik, tuntutan, bahkan kekecewaan.


“Tentu ada yang tidak menyenangkan,” katanya tanpa berusaha menutupi.


Namun ia tidak memilih defensif. Ia memilih komunikasi.


Pintu ruangannya selalu terbuka. Ia meminta guru-guru berbicara langsung jika ada yang mengganjal. Jangan simpan dalam hati. Jangan protes di belakang.


Baginya, konflik bukan ancaman. Diamlah yang berbahaya. “Kalau komunikasi tertutup, pasti masalah muncul.”


Selama hampir dua periode, persoalan kecil tentu ada. Tetapi tidak ada yang membesar hingga mencoreng institusi. Semuanya dibicarakan. Diselesaikan dengan kepala dingin.


Generasi yang Lebih Sensitif, Tantangan yang Lebih Kompleks


Frederik memahami bahwa mendidik generasi hari ini tidak sama dengan masa lalu. Satu kalimat yang salah bisa menjadi masalah besar. Satu sikap yang keliru bisa berbuntut panjang.


Ia mengingatkan para guru agar berhati-hati dalam berbicara dan bersikap. Mengendalikan emosi. Tidak tergesa-gesa melontarkan kata-kata yang bisa melukai.


Karena guru bukan hanya pengajar mata pelajaran.


Guru adalah penjaga masa depan. “Mereka generasi yang akan meneruskan cita-cita dan perjuangan kita,” katanya.


Perpisahan yang Tidak Benar-Benar Selesai


Ketika ditanya apakah ia siap meninggalkan sekolah, jawabannya tidak langsung.


Ia sebenarnya belum ingin beranjak.


Bukan karena kursi jabatan. Tetapi karena kebersamaan. Karena ruang-ruang kelas yang menyimpan kenangan. Karena wajah-wajah siswa yang pernah ia tegur, ia bimbing, dan ia banggakan.


Namun setiap pengabdian punya batas waktu.


35 tahun dua bulan bukan perjalanan singkat. Itu ribuan hari berdiri di depan kelas. Puluhan konflik yang diselesaikan tanpa sorotan kamera. Ratusan keputusan yang diambil dengan pertimbangan hati.


Kini masa itu selesai secara administratif. Tetapi nilai yang ia tinggalkan tidak ikut pensiun.


Warisan yang Tak Terlihat


Frederik Mira Tade mungkin akan melepas jabatan Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Kupang. Tetapi yang tidak ia lepaskan adalah prinsip.


Bahwa kepemimpinan adalah pelayanan.


Bahwa komunikasi adalah kunci.


Bahwa mendidik harus dengan hati, bukan dengan amarah.


Di tengah dunia pendidikan yang terus berubah, warisan itu menjadi lebih penting daripada sekadar bangunan fisik atau program kerja.


Karena pada akhirnya, sejarah seorang pendidik tidak ditulis di papan nama.


Ia hidup dalam diri setiap anak yang pernah ia ajar.


Dan mungkin, itulah arti sesungguhnya dari pengabdian.

✒️: kl