![]() |
| Plt. Kepala SMK Negeri 5 Kupang, Hebner Dakabesi, saat menyampaikan penjelasan kepada tim media terkait 73 siswa eligible SNBP 2026 serta peluang kerja ke Jepang dan Jerman melalui kemitraan industri, Jumat (6/2/2026). |
Kupang, NTT — Selain membuka akses ke perguruan tinggi melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, SMK Negeri 5 Kupang juga menyiapkan jalur masa depan lain bagi siswanya, yakni peluang kerja internasional ke Jepang dan Jerman. Strategi ini disampaikan Plt. Kepala SMKN 5 Kupang, Hebner Dakabesi, Jumat (6/2/2026), kepada media ini.
Hebner menjelaskan bahwa sekolah secara sadar menerapkan strategi ganda, menyesuaikan karakter lulusan SMK yang tidak seluruhnya memilih jalur akademik. Karena itu, sejak awal tahun ajaran, pihak sekolah telah melakukan sosialisasi dan tracer study kepada siswa kelas XII terkait tiga pilihan utama setelah lulus, yakni melanjutkan pendidikan, bekerja, atau berwirausaha.
Untuk jalur akademik, SMKN 5 Kupang yang berakreditasi A memperoleh kuota 158 siswa eligible SNBP. Namun dari sekitar 388 siswa kelas XII, hanya 110 siswa yang menyatakan minat melanjutkan ke perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, 73 siswa resmi mendaftarkan diri melalui jalur SNBP dan kini mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Hebner menegaskan, pilihan siswa untuk tidak mengikuti SNBP bukanlah kegagalan, melainkan refleksi kebutuhan dan orientasi lulusan SMK. Berdasarkan hasil penelusuran, sekitar 73 persen lulusan SMK lebih memilih langsung bekerja, termasuk yang menargetkan karier di sektor industri, TNI, Polri, maupun bidang profesional lainnya.
Sejalan dengan realitas tersebut, SMKN 5 Kupang memperkuat jalur non-akademik melalui kemitraan dengan dunia industri. Pada tahun ini, sekolah menerima tawaran kerja dari mitra industri yang membuka peluang kerja ke Jepang dan Jerman bagi lulusan SMK sebagai tenaga siap pakai di sektor teknologi dan industri.
Peluang kerja internasional ini telah disosialisasikan kepada siswa dan akan ditindaklanjuti dengan pertemuan bersama orang tua. Hebner menyebutkan bahwa program tersebut mencakup pelatihan bahasa selama enam bulan hingga siswa memperoleh sertifikat bahasa, dengan estimasi biaya maksimal sekitar Rp15 juta per siswa, termasuk seluruh proses pelatihan.
Menurutnya, keterlibatan orang tua menjadi kunci keberhasilan program ini. Sekolah memposisikan diri sebagai fasilitator, sementara keputusan akhir tetap berada pada siswa dan keluarga. “Harus ada kerja sama antara siswa, sekolah, dan orang tua. Seperti tiga batu tungku, semuanya saling menopang,” ujarnya.
Hebner berharap, baik melalui jalur SNBP maupun kerja internasional, lulusan SMKN 5 Kupang dapat memilih masa depan sesuai minat dan kesiapan masing-masing. “Yang terpenting, anak-anak punya pilihan dan sekolah hadir untuk membuka jalan itu,” pungkasnya.
✒️: kl
