Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

AIR MATA PECAH! Kristus Raja Resmi Bertakhta di Kapela Wetakara

Minggu, 22 Maret 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T00:43:54Z


Pastor Paroki bersama perwakilan umat/donatur berpose di lokasi kapela Stasi Kristus Raja Wetakara, saat momen pentahktaan Patung Kristus Raja yang berlangsung penuh haru di tengah proses pembangunan gereja, Sabtu (21/3/2026).

Pentahktaan Patung Kristus Raja Wetakara berlangsung penuh haru hingga membuat umat meneteskan air mata, saat patung akhirnya resmi bertakhta di atas kapela di tengah pembangunan yang belum rampung.


Maumere, NTT Suasana tak biasa menyelimuti Stasi Kristus Raja Wetakara, Paroki Santa Maria Imakulata Habi, Sabtu (21/3/2026). Bukan sekadar perayaan, tetapi momen yang membuat banyak umat tak kuasa menahan air mata.


Pentahktaan Patung Kristus Raja Wetakara menjadi peristiwa iman yang begitu menyentuh. Di tengah bangunan kapela yang masih direnovasi, umat tetap berkumpul, berjalan bersama, mengiringi patung dengan doa dan nyanyian.


Prosesi diawali dengan penjemputan patung oleh umat, lalu diantar langsung oleh keluarga donatur, Bapak Junto, sebagai bentuk persembahan iman kepada gereja.


Langkah demi langkah, umat mengarak Patung Kristus Raja Wetakara menuju kapela. Tidak ada kemewahan, hanya kesederhanaan yang dipenuhi doa.


Saat patung mulai diangkat menggunakan crane, suasana berubah. Hening. Mata tertuju ke atas. Dan perlahan—air mata mulai jatuh.


Puncaknya, patung berhasil ditempatkan di atas kapela. Tepuk tangan pecah, namun sebagian umat justru larut dalam haru.


“Ibadat pemberkatan dipimpin oleh Pastor Paroki, Rd. Ferer Merer, Pr. Setelah itu, patung ditempatkan sebagai tanda kehadiran dan perlindungan Kristus bagi umat,” ungkap Sekretaris Keuskupan Maumere, Rd. Yakobus Dionisius Migo.


Momen ketika Patung Kristus Raja Wetakara berdiri di atas kapela menjadi titik paling emosional. Bagi umat, ini bukan sekadar seremoni.


Ini adalah jawaban dari doa panjang, dari kerja keras, dan dari kebersamaan yang dibangun dalam keterbatasan.


“Momentum ini menguatkan kita untuk tetap bersatu dan bertumbuh dalam iman, apalagi menjelang Pekan Suci,” tambah Rd. Yakobus.


Ketua Panitia, Fransiskus Fiani, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak, terutama umat yang terlibat langsung. Kebersamaan inilah yang membuat semuanya bisa terlaksana,” ujarnya.


Ia juga mengapresiasi para penderma dan PUPR Kabupaten Sikka yang telah membantu menyediakan crane, sehingga proses pengangkatan berjalan aman dan lancar.


Di balik tangisan haru itu, tersimpan harapan besar. Meski kapela belum sepenuhnya selesai, iman umat justru terasa semakin kuat.


Patung yang kini berdiri di atas kapela menjadi tanda: bahwa Kristus sudah lebih dulu hadir, bahkan sebelum bangunan gereja rampung.


Pentahktaan Patung Kristus Raja Wetakara pun menjadi simbol bahwa iman tidak pernah menunggu sempurna—ia hidup, bergerak, dan menyala di tengah keterbatasan.


Air mata itu jatuh, tapi bukan karena sedih.

Ia lahir dari iman yang hidup.

Dan di Wetakara, iman itu kini berdiri—tinggi, nyata, dan menyentuh hati.

✒️: Albert Cakramenti