KUPANG, NTT – Seorang perempuan berinisial E mengaku kecewa terhadap penanganan laporan yang disampaikannya kepada pihak Hotel Aston Kupang setelah mengalami dugaan tindakan pelecehan saat berada di fasilitas gym hotel tersebut. Kekecewaan itu semakin bertambah setelah rekaman CCTV pada tanggal kejadian yang diharapkan dapat membantu mengungkap peristiwa tersebut justru tidak ditemukan saat dilakukan pengecekan.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (2/6/2026) malam. Kepada wartawan, Jumat (5/6/2026), E menceritakan bahwa dirinya datang berolahraga di gym Hotel Aston Kupang sekitar pukul 19.00 WITA dan menyelesaikan aktivitasnya sekitar pukul 19.30 WITA.
Setelah berolahraga, E menuju kamar mandi yang berada di area gym untuk membersihkan diri. Namun, sekitar 10 hingga 15 menit berada di dalam kamar mandi, ia mengaku melihat bayangan seseorang di bawah pintu.
"Saya melihat ada bayangan di bawah pintu. Awalnya saya pikir mungkin hanya perasaan saya, tetapi setelah saya perhatikan lagi, bayangan itu bergerak. Saya langsung berteriak, 'Siapa itu?'," ungkap E.
Menurutnya, sesaat setelah dirinya berteriak, orang yang diduga berada di depan kamar mandi tersebut langsung berlari meninggalkan lokasi.
"Saya mendengar suara langkah kaki seperti menggunakan sepatu olahraga dan suara pintu ditutup," katanya.
Dalam kondisi takut dan panik, E segera menyelesaikan aktivitas mandinya dan turun ke area resepsionis untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak hotel.
Ia mengaku telah meminta agar petugas keamanan segera memeriksa area gym karena menduga orang yang berada di depan kamar mandi saat itu masih berada di sekitar lokasi.
"Saya bahkan sempat menyampaikan bahwa kemungkinan pelaku masih ada di atas. Harapan saya saat itu petugas segera mengamankan orang tersebut atau memeriksa telepon genggamnya jika memang ada dugaan perekaman," ujarnya.
Namun menurut E, harapan tersebut tidak terwujud. Ia justru diminta menunggu sambil pihak hotel melakukan pengecekan terhadap sistem CCTV.
"Saya menunggu sampai sekitar jam 11 malam. Setelah itu saya diminta pulang dengan alasan rekaman CCTV belum bisa diakses karena petugas yang menangani sudah pulang," katanya.
Sebelum meninggalkan hotel malam itu, E bersama beberapa rekannya kembali menemui salah satu staf hotel, Marla Tantris, untuk memastikan kondisi CCTV yang sebelumnya disebut sedang diperiksa.
Karena masih merasa ragu, mereka kemudian naik ke lantai tiga untuk melihat langsung ruang pemantauan CCTV.
"Kami sempat melihat monitor CCTV dalam keadaan aktif dan kami juga merekam kondisi monitor tersebut sebagai dokumentasi," ujarnya.
Keesokan harinya, E kembali mendatangi Hotel Aston Kupang untuk meminta perkembangan hasil pemeriksaan. Saat itu ia bertemu dengan manajemen hotel, petugas keamanan, serta staf yang menangani sistem CCTV.
Namun dalam pengecekan tersebut, E mengaku menemukan kejanggalan. Menurutnya, rekaman CCTV pada tanggal 2 Juni 2026, saat kejadian berlangsung, tidak ditemukan. Sementara rekaman pada tanggal 1 Juni dan tanggal 3 Juni masih tersedia.
"Yang membuat saya heran, rekaman tanggal 1 ada, tanggal 3 juga ada. Tetapi justru tanggal 2 saat kejadian itu tidak ada sama sekali," katanya.
Ia juga menyebut salah satu monitor CCTV yang mencakup area gym dan kolam renang dalam kondisi tidak berfungsi.
"Di ruang monitor ada empat layar. Yang aktif layar satu, dua, dan empat. Sedangkan layar tiga yang mencakup area gym dan kolam renang justru mati," ujarnya.
Sebagai korban, E mengaku sangat kecewa dengan situasi tersebut dan berharap mendapatkan penjelasan yang transparan terkait hilangnya rekaman CCTV pada tanggal kejadian.
Menurutnya, selama ini ia memilih menjadi member gym di Hotel Aston Kupang karena percaya terhadap fasilitas dan sistem keamanan yang dimiliki hotel tersebut.
"Saya hanya ingin mendapatkan keadilan dan kejelasan. Jangan sampai ada perempuan lain yang mengalami kejadian seperti yang saya alami," katanya.
E juga mengaku awalnya enggan menceritakan pengalaman tersebut kepada publik. Namun akhirnya ia memutuskan untuk berbicara agar perempuan lain tidak takut melaporkan kejadian serupa.
"Awalnya saya malu. Tapi saya berpikir kenapa harus saya yang malu. Seharusnya pelaku yang malu. Karena itu saya berani berbicara supaya perempuan lain yang mengalami hal seperti ini tidak takut untuk melapor," ujarnya.
Sementara itu, pihak Hotel Aston Kupang membenarkan telah menerima laporan dari korban pada malam kejadian. Marla Tantris mengatakan korban datang dalam kondisi takut dan menyampaikan bahwa dirinya merasa diintip saat sedang mandi setelah berolahraga.
"Saya menanyakan apakah ibu melihat langsung pelakunya, tetapi beliau mengatakan hanya melihat bayangan dan tidak melihat secara jelas siapa orangnya," kata Marla Tantris.
Menurutnya, setelah menerima laporan, pihak hotel langsung berkoordinasi dengan petugas keamanan untuk melakukan pengecekan dan penelusuran di sekitar lokasi kejadian.
Marla Tantris juga mengaku telah meminta bantuan petugas housekeeping yang saat itu bertugas di sekitar area gym dan kolam renang untuk mencari informasi tambahan terkait kejadian yang dilaporkan korban.
Terkait sistem CCTV, pihak hotel menyatakan telah berupaya melakukan pengecekan namun harus berkoordinasi dengan petugas yang bertanggung jawab terhadap sistem pengawasan tersebut.
"Saya memang mengetahui ada beberapa CCTV yang berfungsi dan ada yang tidak berfungsi, tetapi saya tidak mengetahui secara detail titik-titiknya," ujarnya.
Pihak hotel juga meminta korban memberikan waktu untuk proses penelusuran dan investigasi guna mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada malam kejadian.
Meski demikian, E mengaku masih kecewa karena hingga saat ini belum memperoleh jawaban yang menurutnya dapat menjelaskan hilangnya rekaman CCTV pada tanggal kejadian maupun perkembangan hasil investigasi yang dilakukan pihak hotel.
Sebagai korban, E berharap mendapatkan kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang dialaminya. Ia juga berharap pihak hotel meningkatkan sistem keamanan dan pengawasan demi mencegah kejadian serupa terulang terhadap pengunjung lain.
"Saya hanya ingin mendapatkan keadilan dan kejelasan. Jangan sampai ada perempuan lain yang mengalami kejadian seperti yang saya alami," tutupnya.
✒️: kl
