KUPANG, NTT – Nasib salah satu sekolah kejuruan swasta tertua di Kota Kupang, SMKK 2 Kupang, kian memprihatinkan. Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah tersebut hanya menerima empat pendaftar. Namun, satu siswa memutuskan pindah sehingga kini hanya tiga siswa yang resmi mengikuti proses pembelajaran.
Kepala SMKK 2 Kupang, Yan Pasumain, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan sekolah yang telah lama berkontribusi mencetak lulusan di Kota Kupang.
Dalam wawancara, Jumat (17/7/2026), Yan mengungkapkan bahwa penurunan jumlah peserta didik di sekolah-sekolah kejuruan sebenarnya sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
Ia mengenang perjalanan kariernya saat masih menjadi guru di SMKK 1 Kupang sejak tahun 1998. Pada masa itu, sekolah-sekolah kejuruan di Kota Kupang masih menjadi tujuan utama masyarakat.
"Pada waktu saya mengajar di SMKK 1, jumlah siswanya lebih dari seribu orang. Ruang kelas penuh, bahkan kami harus menolak calon siswa karena daya tampung sudah tidak mencukupi. Kondisi itu berlangsung sampai sekitar tahun 2010 atau 2011," ujarnya.
Namun, memasuki tahun 2013 hingga sekarang, jumlah peserta didik terus mengalami penurunan.
Menurut Yan, salah satu penyebabnya adalah semakin meratanya pembangunan sekolah menengah kejuruan di berbagai kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Ia menjelaskan, dahulu banyak lulusan SMP dari daerah datang ke Kota Kupang karena jurusan yang diinginkan belum tersedia di kabupaten asal mereka.
Kini kondisi tersebut berubah karena hampir setiap kabupaten telah memiliki SMK dengan berbagai program keahlian.
"Kalau dulu siswa dari kabupaten datang ke Kupang karena jurusan yang mereka cari belum ada di daerah. Sekarang hampir semua kabupaten sudah memiliki sekolah kejuruan, sehingga mereka memilih tetap bersekolah di daerah masing-masing," katanya.
Selain itu, keberadaan sekolah-sekolah baru, termasuk program pendidikan berasrama yang dikembangkan pemerintah, turut memengaruhi berkurangnya jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke Kota Kupang.
Di sisi lain, SMKK 2 Kupang juga harus bersaing dengan sekolah lain yang memiliki program keahlian serupa, termasuk SMKN 5 Kupang yang lokasinya berdekatan.
"Jurusan yang kami miliki hampir sama dengan sekolah lain sehingga persaingannya semakin ketat," ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, pihak sekolah terus melakukan berbagai upaya promosi untuk menarik minat calon peserta didik.
Promosi dilakukan dengan membagikan brosur ke berbagai SMP, mengunjungi gereja-gereja, serta meminta pengumuman penerimaan siswa baru disampaikan kepada jemaat.
"Kami terus melakukan promosi ke sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Brosur kami bagikan, lalu diumumkan juga agar masyarakat mengetahui keberadaan sekolah ini," jelas Yan.
Saat ini SMKK 2 Kupang memiliki 16 tenaga pendidik.
Sebagian guru telah memperoleh sertifikasi. Yan menyebut pada tahun 2025 sebanyak enam guru mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan sejak awal 2026 telah menerima tunjangan sertifikasi.
Sementara guru lainnya masih berstatus tenaga honorer.
Menurut Yan, honor yang diterima guru honorer masih sangat terbatas, yakni sekitar Rp5.000 per jam mengajar, sehingga pendapatan mereka bergantung pada jumlah jam pelajaran yang diampu setiap bulan.
Meski menghadapi keterbatasan jumlah siswa dan kondisi pembiayaan yang tidak mudah, pihak sekolah tetap berkomitmen mempertahankan keberadaan SMKK 2 Kupang sebagai salah satu lembaga pendidikan kejuruan di Kota Kupang.
Yan berharap pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian terhadap sekolah-sekolah swasta yang kini menghadapi tantangan berat akibat menurunnya jumlah peserta didik.
"Kami tetap berusaha memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik. Harapan kami tentu sekolah ini tetap bisa bertahan dan terus mencetak lulusan yang siap bekerja serta bermanfaat bagi masyarakat," pungkasnya.
✒️: kl
