Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dari Hutan ke Rupiah! NTT Genjot Ekonomi Berbasis Lestari

Senin, 30 Maret 2026 | Maret 30, 2026 WIB Last Updated 2026-03-30T14:27:10Z

 

Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludofus Tuames, saat diwawancarai di ruang kerja, Senin (30/3/2026).

Kupang, NTT —Pengelolaan Hutan NTT kini didorong menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat, bukan sekadar menjaga fungsi lingkungan. Upaya ini ditegaskan dalam rapat koordinasi Kepala KPH se-NTT di Kupang, Senin (30/3/2026).


Kepala BPDAS Benain Nolmina, Kludofus Tuames, menegaskan bahwa pengelolaan hutan NTT harus mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian.


Arahan Gubernur NTT jelas: hutan harus dikelola secara lestari sekaligus produktif, sehingga dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat.


“Hutan tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga harus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.


Dalam rapat tersebut, setiap KPH diminta menginventarisasi potensi wilayahnya dan mengembangkan komoditas unggulan seperti kemiri, pinang, tanaman buah, hingga madu.


Tidak berhenti di produksi, pengolahan hingga pemasaran juga didorong agar nilai tambah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.


Dengan pendekatan ini, pengelolaan hutan NTT diarahkan untuk benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi nyata—dari hutan langsung ke rupiah.


Kalau dikelola baik, hutan bukan cuma hijau, tapi juga “menghijaukan dompet” 


Masalah klasik masih terjadi—masyarakat ingin memanfaatkan hutan, tetapi terbentur aturan.


Solusinya adalah perhutanan sosial, yang memungkinkan masyarakat:


  • Mengelola hutan secara legal
  • Tetap menjaga kelestarian
  • Mendapat manfaat ekonomi


Skema ini menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dan aturan negara dalam pengelolaan hutan NTT.


BPDAS juga mendorong penanaman tanaman bernilai ekonomi untuk meningkatkan tutupan lahan.


Tanaman seperti kemiri, pinang, buah-buahan, hingga tanaman pakan lebah diharapkan menjadi sumber ekonomi baru.


Artinya, pengelolaan hutan NTT tidak hanya menjaga lingkungan tetap hijau, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat.


Dengan keterbatasan pengawasan pemerintah, keterlibatan masyarakat menjadi kunci.


Melalui akses legal dan pengelolaan yang tepat, masyarakat diharapkan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga hutan sekaligus memanfaatkannya secara bijak.


Hutan pun tidak lagi dianggap sebagai batasan, tetapi sebagai peluang.


Hutan kini tidak lagi hanya tentang menjaga, tetapi juga tentang memberi.

Ketika dikelola dengan bijak, ia mampu menjadi sumber kehidupan.

NTT sedang membuktikan bahwa alam dan ekonomi bisa berjalan bersama.


Dari hutan, lahir harapan.

Dari kelestarian, tumbuh kesejahteraan.

Dan dari NTT, perubahan itu mulai nyata.

✒️: kl