Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Mangrove Kota Uneng Sikka Dibabat, DPRD NTT Bersuara

Jumat, 27 Maret 2026 | Maret 27, 2026 WIB Last Updated 2026-03-27T03:32:55Z

 

Leo Lelo, Ketua DPD Demokrat NTT sekaligus anggota DPRD NTT, saat memberikan keterangan kepada media di Kupang, Jumat (27/3/2026), terkait kerusakan mangrove di Kota Uneng, Sikka

Kasus mangrove Kota Uneng Sikka yang diduga dibabat dan disertai aktivitas penambangan pasir memicu perhatian serius. DPRD NTT pun bersuara, menilai kondisi ini berpotensi memperparah abrasi di wilayah pesisir.


Kupang, NTT — Ketua DPD Demokrat Provinsi NTT sekaligus anggota DPRD NTT, Leo Lelo, angkat bicara terkait kerusakan mangrove di Kota Uneng, Kabupaten Sikka.


Kepada media ini pada Jumat, 27 Maret 2026 di Kupang, ia mengaku prihatin dengan kondisi mangrove Kota Uneng Sikka yang dilaporkan mengalami pembabatan.


Menurutnya, mangrove memiliki peran vital sebagai benteng alami untuk menahan abrasi yang selama ini menjadi persoalan utama di wilayah pesisir.


Penanaman mangrove itu sebenarnya langkah positif untuk mencegah abrasi. Tapi kalau di sisi lain terjadi pembabatan, itu menunjukkan partisipasi masyarakat masih rendah,” tegasnya.


Selain pembabatan mangrove Kota Uneng Sikka, muncul dugaan adanya aktivitas lahan tambak di kawasan pesisir.


Aktivitas tersebut dinilai berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan jika tidak diawasi secara ketat.


Leo menegaskan, hilangnya mangrove bukan hanya berdampak pada abrasi, tetapi juga merusak ekosistem laut.

“Kalau mangrove hilang, ikan dan biota laut juga ikut terdampak. Ini bukan masalah kecil,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa menjaga mangrove Kota Uneng Sikka bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.


Masyarakat pesisir diharapkan aktif menjaga, merawat, bahkan menanam kembali mangrove yang rusak.

“Kalau partisipasi masyarakat rendah, maka semua program pemerintah bisa gagal,” katanya.


Leo juga mendesak aparat untuk segera mengungkap pelaku pembabatan mangrove tersebut.


Menurutnya, perlu ada pengawasan serius dari seluruh pihak, termasuk aparat keamanan dan pemerintah setempat.

“Harus dicari siapa pelakunya. Ini tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.


Kerusakan mangrove Kota Uneng Sikka menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Tanpa langkah nyata dan kesadaran bersama, abrasi bukan lagi ancaman, tapi kenyataan yang akan datang perlahan.


Mangrove ditebang, pesisir kehilangan pelindung.

Abrasi tidak menunggu, ia datang perlahan.

Kerusakan ini nyata, bukan cerita.

Saatnya dijaga, sebelum semuanya terlambat.

✒️: kl