Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Mahasiswi Asal Amanuban Utara Ditemukan Meninggal, Kampus Minta Kasus Diusut Tuntas

Minggu, 10 Mei 2026 | Mei 10, 2026 WIB Last Updated 2026-05-10T09:12:51Z


Kupang, NTT — Dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur kembali berduka. Seorang mahasiswi UPG 1945 NTT asal Desa Muna, Kecamatan Amanuban Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Yerdiefrosina Bekliu, ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di wilayah Oesapa Barat, Kota Kupang, Minggu (10/05/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari.


Kematian mahasiswi tersebut mengejutkan pihak keluarga, civitas akademika, serta rekan-rekan mahasiswa karena korban sebelumnya diketahui tidak memiliki riwayat sakit serius.


Peristiwa itu langsung mendapat perhatian serius dari pihak kampus, Badan Pembina Harian (BPH) PB PGRI, para rektor, hingga aparat kepolisian. Pernyataan resmi disampaikan langsung di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang saat keluarga korban dan pihak kampus mendampingi proses penanganan jenazah.


Ketua BPH PB PGRI, Dr. Sam Haning, SH., MH menegaskan bahwa pihak kampus bersama para rektor dan pemerintah meminta agar kasus kematian Yerdiefrosina Bekliu diusut secara tuntas hingga penyebab sebenarnya menjadi terang.


“Sudah wajar, saya dan para rektor dan pemerintah sepakat agar kasus ini dilakukan penyelidikan tuntas supaya ada kejelasan mengenai sebab-sebab meninggalnya mahasiswa kita,” tegas Sam Haning.


Ia meminta aparat kepolisian bekerja maksimal mengungkap seluruh fakta di balik kematian mahasiswi tersebut.


“Kalau memang ada tindakan yang diduga berupa kekerasan fisik atau hal lain yang menyebabkan hilangnya nyawa mahasiswa kami, kami minta kasus ini diungkap sampai tuntas agar diketahui siapa pelakunya,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Sam Haning juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepolisian, baik Polresta Kupang Kota maupun Polsek terkait, yang dinilai cepat membantu proses penanganan kasus sejak awal.


“Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian yang benar-benar membantu kami dan keluarga untuk memperjelas kasus kematian mahasiswa kami,” katanya.


Ia menegaskan bahwa keluarga korban tidak akan dibiarkan menghadapi persoalan tersebut sendiri. Menurutnya, pihak kampus bersama keluarga besar perguruan tinggi akan bertanggung jawab mendampingi seluruh proses hingga pemulangan jenazah ke kampung halaman.


“Keluarga tidak boleh tanggung sendiri. Kami dari kampus akan membantu dan mengawal semuanya sampai ke kampung,” ungkapnya.


Sementara itu, Rektor UPG 1945 NTT, Uli Riwu Kaho mengaku sangat terpukul atas meninggalnya Yerdiefrosina Bekliu yang disebut sebagai mahasiswi aktif dan dikenal baik di lingkungan kampus.


“Kami semua sangat berduka. Kepergian anak kami ini seperti petir di siang bolong,” ujar Uli Riwu Kaho.


Menurutnya, berdasarkan informasi dari keluarga maupun teman-teman korban, almarhumah tidak memiliki riwayat penyakit berat.


“Dari informasi keluarga dan teman-temannya, tidak ada indikasi dia mengalami sakit serius. Terakhir hanya mengeluh sakit gigi,” jelasnya.


Namun situasi berubah setelah korban ditemukan meninggal dunia pada Minggu dini hari. 


Setelah mendapat informasi tersebut, pihak kampus langsung berkoordinasi dengan para wakil rektor, dekan, kaprodi, serta aparat kepolisian untuk mengawal proses evakuasi jenazah hingga ke rumah sakit. 


Dalam pemeriksaan awal medis di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang, ditemukan adanya tanda-tanda ketidakwajaran pada tubuh korban.


“Malam itu kami mendapat informasi dari pihak medis bahwa ditemukan tanda-tanda yang tidak wajar, terutama pada area alat reproduksi korban,” ungkap Uli Riwu Kaho.


Karena itu, pihak kampus meminta proses visum dan pemeriksaan forensik dilakukan secara profesional dan transparan agar penyebab pasti kematian korban dapat diketahui.


“Kami meminta tim dokter forensik memberikan petunjuk dan gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga anak kami kehilangan nyawanya,” katanya.


Ia juga meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan apabila ditemukan unsur pidana dalam kasus tersebut.


“Kalau memang benar ada unsur kekerasan atau tindak pidana, kami minta aparat hukum menindaklanjuti sampai menemukan pelakunya,” tegasnya.


Menurut pihak kampus, Yerdiefrosina Bekliu selama ini tinggal di wilayah Oesapa Barat dan sudah hampir dua tahun menetap di lokasi kos tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi pendiam namun aktif mengikuti perkuliahan.


Kini kasus meninggalnya mahasiswi asal Amanuban Utara itu masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian. Keluarga, pihak kampus, dan masyarakat berharap penyebab kematian korban segera terungkap agar memberikan kejelasan dan keadilan bagi almarhumah serta keluarga yang ditinggalkan.

✒️: kl