![]() |
| Prosesi Pentahktaan Arca Kristus Raja Wetakara di Paroki Habi berlangsung khidmat, diiringi ritual adat dan tarian penjemputan yang mencerminkan perpaduan iman dan budaya lokal. |
Prosesi Pentahktaan Arca Kristus Raja Wetakara di Stasi Kristus Raja Wetakara, Paroki Habi, Keuskupan Maumere berlangsung khidmat, memadukan iman Katolik dengan kekayaan budaya lokal.
Maumere, NTT — Prosesi Pentahktaan Arca Kristus Raja Wetakara berlangsung penuh khidmat pada Sabtu (21/3/2026). Seluruh umat Stasi Kristus Raja Wetakara terlibat aktif dalam perayaan yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga sarat makna budaya.
Kegiatan ini menjadi momen penting bagi umat dalam memperteguh iman sekaligus merawat identitas budaya lokal yang diwariskan turun-temurun.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan arca oleh keluarga Bapak Junto kepada pihak stasi. Momen ini berlangsung penuh haru sebagai wujud iman, pengabdian, serta bentuk kasih keluarga kepada Gereja dan umat.
Penyerahan tersebut menandai awal dari rangkaian sakral dalam Pentahktaan Arca Kristus Raja Wetakara.
Setelah penyerahan, prosesi dilanjutkan dengan ritual adat Huler Wair. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus penerimaan secara adat terhadap kehadiran Arca Kristus Raja.
Ritual ini memperlihatkan bagaimana iman dan budaya dapat berjalan seiring, saling melengkapi dalam kehidupan umat di Wetakara.
Suasana semakin semarak dengan tarian penjemputan yang dibawakan oleh umat. Tarian ini menjadi ungkapan sukacita sekaligus penghormatan atas kehadiran Kristus sebagai Raja di tengah umat.
Irama dan gerakan yang ditampilkan mencerminkan semangat kebersamaan serta kekayaan budaya lokal yang tetap hidup dalam tradisi Gereja.
Puncak kegiatan ditandai dengan pemberkatan dan pentahktaan arca dalam prosesi liturgi yang berlangsung sakral. Doa dan nyanyian mengalun, mempertegas makna spiritual dari peristiwa ini.
Prosesi ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan iman umat Stasi Kristus Raja Wetakara.
Umat menyambut kehadiran arca dengan penuh syukur. Mereka berharap Arca Kristus Raja menjadi simbol pemersatu, penguat iman, serta pengingat akan kasih dan pengorbanan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Pentahktaan Arca Kristus Raja Wetakara ini juga mempererat persaudaraan antarumat.
Perpaduan antara iman dan budaya dalam prosesi ini menjadi cerminan kekayaan Gereja lokal yang terus hidup dan berkembang.
Di Wetakara, iman tidak berdiri sendiri—ia berjalan bersama budaya, saling menguatkan dalam kehidupan umat.
Di antara doa dan tarian, iman menemukan jalannya. Dan budaya menjadi rumah yang menjaga makna itu tetap hidup.
Iman dan budaya bertemu.
Dalam doa, dalam gerak, dalam makna.
Kristus hadir, bukan hanya di altar.
Tetapi juga di hati umat-Nya.
