![]() |
| Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 20 Kota Kupang, Agustina Naangnai, SE, saat memberikan keterangan kepada media terkait kesiapan siswa kelas IX menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA), di Kota Kupang, 5 Maret 2026. |
Kota Kupang, NTT –Tes Kompetensi Akademik (TKA) menjadi salah satu tantangan bagi siswa kelas 9 di SMP Negeri 20 Kota Kupang. Meski berbagai persiapan telah dilakukan, pihak sekolah mengakui bahwa kemampuan literasi siswa mulai menunjukkan peningkatan, sementara kemampuan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.
Agustina Naangnai, SE, Wakasek Kurikulum SMPN 20 Kota Kupang, kepada media ini pada 5 Maret 2026 menjelaskan bahwa sekolah saat ini tengah mempersiapkan 262 siswa kelas 9 untuk mengikuti TKA.
Menurutnya, berbagai langkah telah dilakukan untuk membantu siswa menghadapi ujian tersebut, termasuk pembimbingan khusus pada mata pelajaran yang diujikan.
“Kami di SMP Negeri 20 ada 262 siswa untuk kelas 9 dan sudah siap mengikuti TKA. Kami juga sudah melakukan pembimbingan untuk mata pelajaran TKA Bahasa Indonesia dan Matematika secara bergantian di setiap kelas di setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembimbingan dilakukan dengan memanfaatkan satu jam pelajaran terakhir setiap hari agar siswa mendapatkan tambahan waktu belajar.
“Kita ambil satu jam terakhir di setiap harinya. Kemudian kita juga sudah mengikuti try out TKA kemarin yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan,” jelasnya.
Namun dari hasil try out tersebut, pihak sekolah mengakui bahwa tingkat kesulitan soal cukup tinggi. Hal ini terlihat dari kemampuan literasi dan numerasi siswa yang masih berada di bawah harapan.
“Rasanya kok sulit sekali ya. Memang kita tahu bersama kemampuan literasi dan juga numerasi dari anak-anak kami masih jauh di bawah harapan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan taksonomi pembelajaran, sebagian siswa masih berada pada level memahami, sehingga capaian nilai belum maksimal.
“Kalau kita sandingkan dengan taksonomi, sebagian besar masih di level memahami. Nilainya di bawah 60 untuk persentase capaian berdasarkan try out yang sudah dilaksanakan oleh dinas,” jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah tetap optimis terhadap perkembangan siswa. Menurutnya, hasil tersebut bisa menjadi gambaran nyata dari kemampuan siswa saat ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi sekolah.
“Namun kita tetap optimis. Mungkin ini hasil real dari anak-anak kami karena sudah berbagai upaya juga yang sudah kami lakukan,” katanya.
Ia juga menilai kesiapan siswa masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal kemandirian belajar.
“Hanya mungkin kesiapan dari murid itu sendiri yang betul-betul mereka masih mengharapkan kepada kita pihak sekolah,” tambahnya.
Dari hasil try out yang dilakukan, sekolah mencatat nilai tertinggi mencapai 88, sedangkan nilai terendah berada di kisaran 30. Meski belum sepenuhnya sesuai harapan, proses pelaksanaan try out berjalan dengan baik.
“Pada hari Selasa semuanya berjalan dengan baik meskipun hasil yang kami dapatkan mungkin belum sesuai dengan yang diharapkan,” jelasnya.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa, para guru terus memberikan berbagai latihan tambahan. Guru memanfaatkan berbagai sumber belajar seperti Ayo Belajar TKA serta materi dari Ruang GTK untuk melatih siswa mengerjakan soal.
“Guru-guru mata pelajaran tetap memberikan latihan, referensi-referensi seperti mulai Ayo Belajar TKA itu ada. Mereka ambil soal dari situ, begitu juga dari Ruang GTK,” ujarnya.
Soal-soal tersebut kemudian digunakan dalam kegiatan pendampingan dan pembimbingan bagi siswa kelas 9.
Terkait kesiapan guru, Agustina mengatakan bahwa para guru juga terus meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan pembelajaran yang semakin kompleks. “Persiapan guru-guru banyak belajar. Memang ini kita butuh proses,” katanya.
Ia mengakui bahwa tidak semua siswa memiliki tingkat motivasi belajar yang sama. Di setiap kelas terdapat siswa yang sangat bersemangat belajar, namun ada juga yang motivasinya masih menurun.
“Tidak semua murid memiliki antusias yang sama. Ada yang semangat belajar, tetapi masih ada juga yang motivasi belajarnya masih menurun,” jelasnya.
Selain itu, sebagian siswa juga dinilai belum terbiasa menghadapi soal-soal berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.
“Anak-anak mungkin belum terbiasa dengan soal-soal berbasis HOTS yang mungkin itu menjadi PR kami ke depan,” ungkapnya.
Meski demikian, sekolah tetap melakukan berbagai pendampingan agar siswa mampu mengembangkan kemampuan penalarannya.
“Mereka kumpulkan lalu sama-sama bekerja dengan murid pada saat pendampingan di kelas sehingga murid-murid punya penalaran sendiri,” katanya.
Dari perkembangan yang ada, pihak sekolah melihat adanya peningkatan pada kemampuan literasi, meskipun numerasi masih menjadi tantangan utama dalam proses pembelajaran.
“Untuk literasi kita mengalami peningkatan, hanya numerasi yang masih menjadi PR buat kita,” jelasnya.
Karena itu, peningkatan kemampuan numerasi menjadi fokus utama sekolah dalam waktu ke depan.
Menurutnya, hal ini juga menjadi tantangan bagi guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan strategi mengajar.
“Ini menjadi tantangan buat kami dan tentunya kembali kepada kualitas guru, bagaimana kita mengatur strategi pembelajaran,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Agustina juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi membutuhkan kerja sama semua pihak.
“Pesan saya mungkin butuh kerja sama. Bukan hanya kami dari guru, tetapi bagaimana juga murid itu sendiri harus punya semangat untuk terus belajar,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa sumber belajar saat ini tidak hanya berasal dari guru atau sekolah, tetapi juga dari berbagai media yang dapat diakses secara mandiri oleh siswa.
“Karena kita tahu bersama bahwa sumber belajar sekarang bukan hanya guru. Banyak juga sumber belajar lain yang bisa mereka pelajari secara mandiri,” jelasnya.
Selain itu, dukungan orang tua juga sangat dibutuhkan untuk memastikan anak-anak tetap belajar dengan baik di rumah.
“Dan tentunya butuh dukungan penuh dari orang tua untuk senantiasa mengawasi anak-anaknya supaya mereka lebih siap dalam mengikuti TKA,” tambahnya.
Ia berharap kerja sama antara sekolah, orang tua, siswa, dan pemerintah dapat terus diperkuat demi meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kita juga kerja sama dari pihak sekolah untuk sama-sama membangun mutu pendidikan yang lebih baik,” tutupnya.
Dengan dukungan sekolah dan kesiapan siswa, TKA diharapkan mampu memberikan gambaran objektif tentang kompetensi akademik sebelum melangkah ke jenjang SMA.
✒️: kl
