![]() |
| Pimpinan Universitas Nusa Cendana bersama tim peneliti dan mitra pembangunan berdiskusi dalam rapat strategis di ruang kerja rektorat Undana, Kupang, membahas penguatan kolaborasi riset dan inovasi untuk mendukung pembangunan ekonomi dan hilirisasi sumber daya di Nusa Tenggara Timur. |
Kupang, NTT,– Universitas Nusa Cendana (Undana) dipercaya memimpin pembangunan Innovation Hub rumput laut nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui kolaborasi strategis bersama Kementerian PPN/Bappenas dan program Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI), Kabupaten Sumba Timur dipilih sebagai wilayah percontohan pengembangan ekosistem hilirisasi rumput laut berbasis inovasi.
Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam memperkuat transformasi ekonomi maritim di kawasan timur Indonesia. Selain mendorong penelitian terapan, Innovation Hub tersebut dirancang sebagai ruang integrasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha agar potensi rumput laut NTT dapat berkembang menjadi industri bernilai tambah.
Kepastian kolaborasi tersebut mengemuka dalam pertemuan antara jajaran Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas, perwakilan Pemerintah Australia, serta para peneliti Undana di Gedung Rektorat Undana, Kupang, Jumat (6/3/2026).
Direktur Pembangunan Indonesia Timur Bappenas, Aldy Mardikanto, menjelaskan bahwa komoditas kelautan seperti rumput laut memiliki posisi strategis dalam pembangunan ekonomi NTT.
Ia menegaskan bahwa komoditas tersebut dapat menjadi penggerak utama perekonomian daerah jika dikelola melalui sistem inovasi yang terintegrasi.
“Kami ingin riset dosen Undana tidak berhenti di perpustakaan, tetapi diaplikasikan. Sumba Timur dipilih karena potensi inovasi sosial dan ekonominya yang besar, yang akan kita sinergikan dengan target RPJMN 2025-2029,” kata Aldy.
Melalui Innovation Hub tersebut, berbagai riset dan inovasi di bidang kelautan diharapkan dapat langsung terhubung dengan kebutuhan masyarakat pesisir, khususnya para petani dan nelayan rumput laut.
Rektor Undana Prof. Jefri S. Bale menyambut positif kepercayaan pemerintah terhadap kampus tersebut. Menurutnya, Undana telah menyiapkan fasilitas Teaching Factory yang berfungsi sebagai pusat pengolahan produk hasil riset.
Fasilitas ini memungkinkan inovasi dari laboratorium dikembangkan menjadi produk komersial yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
“Inovasi laboratorium kami, mulai dari bibit unggul hingga pengolahan karagenan, kini memiliki jalur hilirisasi yang jelas. Kami membuka ruang penandatanganan nota kesepahaman untuk memastikan keterlibatan pakar kelautan Undana memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat pesisir,” ujar Prof. Jefri.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak lagi berhenti pada publikasi akademik, tetapi berkembang menjadi solusi nyata bagi sektor ekonomi maritim.
Program Innovation Hub ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Australia melalui program KONEKSI. Dalam pertemuan tersebut turut hadir perwakilan KONEKSI Tini Astuti serta akademisi dari Queensland University, Phil L.
Kolaborasi internasional ini tidak hanya berfokus pada pengembangan komoditas, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat pesisir agar dapat berperan aktif dalam rantai nilai industri rumput laut.
Pakar Budidaya Perairan Undana Prof. Marcelien Ratoe Oedjoe menilai pendekatan pengembangan ekonomi pesisir harus dilakukan secara komprehensif.
“Hilirisasi harus mencakup pengolahan tepung karagenan hingga pakan ternak. Jika Sumba Timur menjadi success story, model ini akan kita perluas ke komoditas kelautan lainnya,” ujarnya.
Kehadiran Innovation Hub ini menegaskan peran Undana sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga berdampak langsung pada pembangunan daerah.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi maritim yang berkelanjutan di NTT.
Jika model ini berhasil diterapkan di Sumba Timur, Innovation Hub tersebut berpotensi menjadi contoh nasional dalam pengembangan industri rumput laut berbasis inovasi.
✒️: kl
