Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Rakyat Bergerak! Warga Tiwusora Perbaiki Jalan Sendiri

Minggu, 22 Maret 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T01:07:35Z
Warga Desa Tiwusora, Kabupaten Ende, bergotong royong memperbaiki jalan rusak secara mandiri menggunakan alat seadanya, sebagai bentuk kepedulian di tengah minimnya perhatian pemerintah, Sabtu (21/3/2026).


Warga Tiwusora perbaiki jalan sendiri tanpa menunggu bantuan pemerintah, menunjukkan aksi nyata gotong royong di tengah kondisi infrastruktur yang rusak parah.


Ende, NTT– Di tengah kondisi jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, warga Desa Tiwusora, Kabupaten Ende, memilih tidak tinggal diam. Mereka bergerak sendiri.


Pada Sabtu (21/3/2026), warga Tiwusora perbaiki jalan secara gotong royong di jalur penghubung dari Desa Liselande, Kecamatan Kotabaru menuju Desa Tiwusora. Dengan alat seadanya, mereka menutup lubang dan meratakan jalan agar tetap bisa dilalui.


Tak ada pejabat. Tak ada papan proyek. Hanya ada solidaritas.


Aksi warga Tiwusora perbaiki jalan ini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu bergerak tanpa menunggu janji yang belum tentu ditepati.


Tokoh masyarakat, Blasius Resi, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kepedulian sekaligus kekecewaan.


“Ini bukti nyata. Saat rakyat susah, kami hanya punya diri sendiri. Tidak ada yang datang membantu,” tegasnya.


Keterlibatan generasi muda juga terlihat dalam aksi ini. Tokoh pemuda, Rian Gare, menyebut bahwa kehadiran mereka bukan sekadar membantu, tetapi juga sebagai bentuk sikap.


“Kami tidak mau diam. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal kepedulian dan keadilan,” ujarnya.


Aksi warga Tiwusora perbaiki jalan menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah.


Fenomena ini sekaligus memperlihatkan jurang antara janji pembangunan dan realitas di lapangan. Infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah justru dikerjakan sendiri oleh masyarakat.


Namun di balik itu, muncul kesadaran baru.

Warga mulai memahami pentingnya memilih pemimpin yang benar-benar hadir—bukan sekadar muncul saat musim politik.


Gotong royong ini bukan hanya soal memperbaiki jalan rusak. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakhadiran.


“Kita bisa bergerak, tapi jangan sampai ini terus terjadi karena pemerintah absen,” tambah Blasius.


Apa yang dilakukan warga Tiwusora hari ini adalah pesan keras: rakyat tidak akan diam.


Mereka tidak menunggu.

Mereka tidak berharap.

Mereka bergerak.

Dan dari jalan yang rusak itu, lahir kesadaran:

bahwa rakyat bisa bangkit—bahkan tanpa negara.

✒️: Albert Cakramento