KUPANG, NTT, 29 Mei 2026 — Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, memberikan pesan santai namun penuh makna kepada 470 mahasiswa Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT saat melepas peserta Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) yang akan menjalankan pengabdian di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
Kegiatan pelepasan tersebut berlangsung bersamaan dengan pengukuhan Bunda Guru Provinsi NTT di Kupang, Kamis (29/5/2026).
Dalam sambutannya, Melki Laka Lena mengatakan bahwa Kukerta atau yang sebelumnya dikenal dengan istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN), tetap memiliki makna yang sama, yakni mahasiswa turun langsung mengabdi kepada masyarakat.
“Dulu kami menyebutnya KKN, sekarang Kukerta. Beda era, beda singkatan, tetapi intinya tetap sama, mahasiswa turun mengabdi kepada masyarakat,” ujar Melki Laka Lena disambut tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kegiatan Kukerta menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung memahami kehidupan nyata masyarakat yang sering kali berbeda dengan teori di ruang kuliah.
“Kalau sudah turun lapangan, teori yang dipelajari di kampus bisa berbeda dengan kenyataan di masyarakat. Di situlah mahasiswa belajar kehidupan nyata,” katanya.
Selain melepas mahasiswa Kukerta, Gubernur NTT juga menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa mengenai kehidupan kampus dan proses pembentukan karakter generasi muda.
Dengan gaya santai dan penuh humor, Melki menyebut kehidupan mahasiswa idealnya memiliki tiga hal penting, yakni buku, cinta, dan pesta.
“Di zaman kuliah itu harus punya tiga hal. Pertama buku, kedua cinta, dan ketiga pesta,” ujarnya disambut tawa mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa “buku” berarti mahasiswa harus serius menjalani pendidikan dan menjaga prestasi akademik selama kuliah.
“IP harus bagus, minimal mendekati tiga atau di atas tiga. Itu kewajiban utama mahasiswa,” katanya.
Sedangkan “cinta”, menurut Melki, merupakan bagian dari proses mahasiswa belajar membangun hubungan sosial dan relasi yang sehat selama masa kuliah.
“Mumpung masih kuliah, silakan belajar mengenal lawan jenis dan membangun relasi yang sehat,” ujarnya.
Sementara “pesta” dimaknai sebagai proses memperluas pergaulan, membangun jaringan sosial, serta aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemasyarakatan.
“Pesta itu artinya bertemu banyak orang, belajar banyak karakter, dan membangun relasi sosial,” jelasnya.
Meski disampaikan dengan gaya santai, Melki menegaskan mahasiswa tetap harus menjaga tanggung jawab utama sebagai insan akademik dan calon pemimpin masa depan.
Dalam kesempatan itu, Gubernur NTT juga menyoroti kondisi pendidikan di Nusa Tenggara Timur yang menurutnya masih memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Ia mengaku prihatin terhadap capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Provinsi NTT yang masih berada di posisi bawah secara nasional.
“NTT masih berada di urutan 36. Ini menjadi pekerjaan rumah besar kita bersama,” tegasnya.
Menurut Melki, kondisi tersebut cukup ironis karena minat baca masyarakat NTT disebut termasuk tinggi di Indonesia, namun hasil capaian akademik masih rendah.
“Ini yang harus kita evaluasi bersama. Berarti ada yang salah dalam cara kita mengelola pendidikan,” ujarnya.
Ia menilai persoalan pendidikan di NTT bukan terletak pada kurangnya guru pintar, melainkan bagaimana kemampuan para guru mentransfer ilmu kepada siswa dengan metode yang mudah dipahami dan menyenangkan.
“Guru-guru pintar banyak, yang S2, doktor juga banyak. Tetapi tantangannya adalah bagaimana membuat anak-anak mudah memahami pelajaran,” katanya.
Karena itu, dirinya mendukung penguatan peran Bunda Guru Provinsi NTT bersama PGRI, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di NTT.
Melki juga mencontohkan metode pembelajaran sederhana yang diterapkan sejumlah tokoh pendidikan nasional seperti Prof. Yohanes Surya yang mampu membuat pelajaran eksakta menjadi mudah dipahami anak-anak hingga melahirkan siswa-siswa berprestasi dari daerah terpencil.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran yang ringan, kreatif, dan menyenangkan perlu terus dikembangkan di NTT agar kualitas pendidikan mengalami peningkatan.
Selain itu, Gubernur NTT juga menegaskan komitmennya menjalankan program Jam Belajar Masyarakat melalui Peraturan Gubernur guna memperkuat budaya belajar di rumah.
“Kami ingin setiap rumah di NTT yang memiliki anak sekolah menciptakan budaya belajar yang baik,” ujarnya.
Melki juga mendorong mahasiswa aktif dalam organisasi kampus maupun kegiatan sosial di luar kampus untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan dan pengalaman sosial.
Ia mengaku pengalaman aktif berorganisasi menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidup dan karier seseorang.
“Saya berharap mahasiswa tidak hanya pintar di kelas, tetapi juga aktif berorganisasi dan mampu hadir memberi manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
✒️: kl
