Maumere, NTT, 23 Mei 2026 — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka mengecam keras dugaan tindakan pemukulan terhadap salah satu kadernya yang diduga dilakukan oleh oknum aparat kepolisian saat berlangsungnya aksi pengawalan kasus pembunuhan Adik Noni.
Insiden tersebut terjadi ketika massa mahasiswa turun mengawal proses penegakan hukum atas kasus kemanusiaan yang belakangan menjadi perhatian publik di Kabupaten Sikka. Kehadiran mahasiswa dalam aksi itu disebut sebagai bentuk perjuangan moral untuk memastikan keadilan bagi korban dan keluarga korban benar-benar ditegakkan.
GMNI Cabang Sikka menilai tindakan represif terhadap mahasiswa merupakan bentuk kekerasan yang mencederai demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Organisasi itu menegaskan bahwa tindakan pemukulan terhadap kader mahasiswa tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum.
“Mahasiswa hadir menyuarakan keadilan, bukan untuk diperlakukan secara represif. Tindakan ini mencederai nilai demokrasi dan melukai rasa keadilan publik,” tegas GMNI Cabang Sikka dalam pernyataannya.
Menurut GMNI, aparat keamanan seharusnya mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam mengawal aksi massa, bukan menggunakan kekerasan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi.
GMNI Cabang Sikka juga mendesak institusi kepolisian agar segera memeriksa dan menindak tegas oknum yang diduga terlibat dalam tindakan kekerasan tersebut secara terbuka dan profesional. Selain itu, mereka meminta adanya jaminan perlindungan terhadap hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat di muka umum tanpa intimidasi maupun tindakan represif.
Peristiwa ini dinilai menjadi alarm serius terhadap kondisi demokrasi dan relasi antara aparat keamanan dengan masyarakat sipil di Kabupaten Sikka. Karena itu, GMNI memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak terkait.
GMNI Cabang Sikka menegaskan, tindakan kekerasan tidak akan membungkam gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
