Kota Kupang, NTT — Kepala UPT SDI Naikoten 1 Kupang, Maya Ndoen, menegaskan bahwa keberhasilan program literasi dan numerasi di sekolah tidak dapat berjalan maksimal tanpa pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja guru di kelas. Menurutnya, konsistensi guru menjadi faktor utama dalam meningkatkan kemampuan membaca dan berhitung siswa.
Program literasi dan numerasi sendiri masih menjadi perhatian serius dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Rendahnya kemampuan membaca dan berhitung siswa menjadi sorotan, termasuk kritik yang sebelumnya disampaikan istri Wakil Gubernur NTT terkait kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di daerah tersebut.
Menanggapi hal itu, Maya mengatakan pihak sekolah terus memperkuat program literasi dan numerasi sebagai bagian dari prioritas utama peningkatan mutu pendidikan.
“Program-program dinas yang sudah berjalan di antaranya literasi dan numerasi. Memang yang kita beratkan di sini cuma dua itu,” ujar Maya saat diwawancarai, Rabu (13/5/2026).
Ia mengakui bahwa berdasarkan evaluasi dan raport mutu sekolah, persoalan terbesar yang masih ditemukan berada pada sektor literasi dan numerasi.
“Kami bedah raport mutu sekolah. Dari situ terlihat yang masih merah itu literasi dan numerasi. Hampir seluruh sekolah saya pikir mengalami hal yang sama,” jelasnya.
Menurut Maya, program tersebut tidak hanya sebatas formalitas, tetapi benar-benar diintegrasikan dalam program kerja sekolah melalui kolaborasi kepala sekolah, tim kurikulum, dan guru-guru.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan program literasi selama 15 menit sebelum proses belajar dimulai setiap pagi. Para siswa memanfaatkan pojok baca yang disediakan di masing-masing kelas dengan berbagai jenis bacaan, mulai dari buku pelajaran hingga buku cerita dan komik.
“Literasi itu tidak hanya membaca, bisa mendongeng, puisi, dan aktivitas lainnya,” katanya.
Sementara untuk numerasi, pihak sekolah menerapkan metode pembelajaran pola berhitung cepat yang sebelumnya diperoleh guru melalui pelatihan program Gasing.
Namun demikian, Maya mengakui keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi guru dalam menjalankan program tersebut di kelas.
“Terkadang kalau tidak ada fungsi kontrol yang baik, ada guru yang langsung masuk materi tanpa menjalankan program literasi dan numerasi,” ungkapnya.
Karena itu, dirinya rutin melakukan supervisi mendadak ke ruang kelas untuk memastikan program benar-benar dijalankan.
“Saya turun langsung ke kelas pagi-pagi tanpa pemberitahuan untuk melihat apakah program itu benar-benar dieksekusi atau tidak,” jelasnya.
Ia juga mengakui hasil program belum maksimal, namun evaluasi terus dilakukan untuk mencari akar persoalan dan memperbaiki sistem pembelajaran di sekolah.
“Walaupun belum maksimal, tetap kita evaluasi untuk cari akar masalahnya di mana sehingga menjadi bahan refleksi,” pungkasnya.
✒️: kl
