Ketua FOKALIS Frederich Baba Djoje mempertanyakan aktivitas pembangunan yang diduga berada di kawasan konservasi Teluk Wairterang dan mengingatkan ancaman terhadap ekosistem laut, stok ikan, serta kehidupan nelayan Kabupaten Sikka.
MAUMERE, NTT, 14 Juni 2026 – Forum Rakyat Resah dan Gelisah (FOKALIS) meminta pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak mengorbankan Teluk Wairterang yang selama ini dikenal sebagai salah satu “bank ikan” Kabupaten Sikka demi kepentingan pembangunan vila dan galangan kapal. Desakan tersebut disampaikan setelah Ketua FOKALIS, Frederich Baba Djoje, melakukan pemantauan langsung ke lokasi pembangunan yang dikerjakan PT Atlas Samudera Perkasa di kawasan pesisir Desa Wairterang, Kecamatan Waigete.
Menurut Frederich, Teluk Wairterang memiliki nilai ekologis yang sangat penting bagi keberlanjutan sumber daya perikanan Kabupaten Sikka. Kawasan tersebut selama puluhan tahun dikenal sebagai habitat berbagai jenis ikan dan biota laut yang menopang kehidupan masyarakat pesisir serta nelayan tradisional.
Kunjungan FOKALIS dilakukan menyusul berbagai laporan dan keluhan masyarakat terkait aktivitas pembangunan vila serta rencana pembangunan galangan kapal yang diduga berada dalam kawasan konservasi perairan.
“Baik, hari ini kedatangan kami ke Wairterang dari Forum Rakyat Resah dan Gelisah untuk memantau langsung informasi yang kami dengar dari masyarakat terkait pembangunan vila dan galangan kapal di Teluk Wairterang. Kawasan ini sejak puluhan tahun lalu diketahui masuk dalam kawasan konservasi dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi sumber daya perikanan,” ujar Frederich.
Ia menjelaskan bahwa kawasan Teluk Wairterang memiliki fungsi ekologis sebagai feeding ground atau tempat ikan mencari makan, hatchery ground atau tempat berkembang biaknya ikan, serta nursery ground atau lokasi pembesaran ikan-ikan muda sebelum menyebar ke wilayah perairan yang lebih luas.
Karena fungsi tersebut, kawasan ini dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus menjamin ketersediaan sumber daya perikanan bagi masyarakat.
“Kalau kita lihat, kawasan ini merupakan sumber produksi perairan. Di teluk ini terjadi proses alami yang sangat penting, mulai dari tempat ikan mencari makan, berkembang biak, hingga tempat pembesaran ikan-ikan kecil. Karena itu zona seperti ini harus benar-benar aman dan dilindungi,” tegasnya.
Frederich menilai aktivitas pembangunan di kawasan pesisir harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan seluruh aspek lingkungan hidup. Ia mengaku khawatir pembangunan vila dan galangan kapal dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini menjadi penopang produktivitas perairan Teluk Wairterang.
Menurutnya, kawasan tersebut juga didukung oleh keberadaan ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai sekaligus habitat berbagai jenis organisme laut.
“Apalagi di wilayah pesisir terdapat ekosistem mangrove yang sangat penting. Kawasan seperti ini seharusnya steril dari aktivitas manusia yang padat. Kalau pembangunan vila dan galangan kapal terus dilakukan, maka fungsi kawasan sebagai feeding ground, hatchery ground dan nursery ground akan terganggu,” katanya.
FOKALIS menilai dampak terbesar dari perubahan lingkungan akan dirasakan langsung oleh masyarakat nelayan yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil laut. Menurunnya kualitas habitat berpotensi memengaruhi stok ikan, hasil tangkapan nelayan, hingga ketahanan pangan masyarakat.
“Kalau kawasan ini terganggu, maka stok ikan juga akan terganggu. Padahal kebutuhan protein masyarakat Kabupaten Sikka banyak bergantung pada hasil laut. Ini yang harus dipikirkan secara serius,” ujar Frederich.
Selain menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, Teluk Wairterang juga dikenal memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya perikanan berkelanjutan seperti rumput laut, teripang, udang dan berbagai komoditas laut lainnya yang menjadi sumber ekonomi masyarakat.
“Kawasan ini sangat potensial untuk budidaya rumput laut, teripang, udang dan berbagai komoditas laut lainnya. Kondisi perairannya sangat mendukung keberlanjutan dunia perikanan dan kelautan masyarakat kecil. Tetapi kalau dimasuki proyek pembangunan seperti ini, maka ikan dan berbagai biota laut akan berpindah mencari habitat lain yang lebih aman,” jelasnya.
Selain persoalan lingkungan, FOKALIS juga mempertanyakan proses sosialisasi kepada masyarakat. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga, rencana pembangunan disebut telah berlangsung selama beberapa tahun, namun sosialisasi baru dilakukan pada 13 Juni 2026 ketika aktivitas pembangunan sudah berjalan.
“Ini yang membuat kami bingung. Informasi yang kami terima dari masyarakat menyebutkan bahwa rencana pembangunan ini sudah bertahun-tahun. Namun sosialisasi baru dilakukan pada tanggal 13 Juni 2026. Sementara saat ini aktivitas pembangunan sudah berjalan dan bahkan ada rencana pembangunan galangan kapal,” ungkap Frederich.
Ia menegaskan bahwa Teluk Wairterang merupakan salah satu kawasan yang selama ini berfungsi sebagai “bank ikan” Kabupaten Sikka karena menopang sumber daya perikanan bagi sejumlah wilayah pesisir utara, mulai dari Kecamatan Magepanda, Alok Barat, Alok Timur hingga kawasan sekitarnya.
Karena itu, FOKALIS mendesak pemerintah daerah, instansi teknis terkait, serta aparat penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap legalitas pembangunan yang sedang berlangsung, termasuk memastikan kesesuaiannya dengan aturan konservasi, perlindungan lingkungan hidup dan tata ruang wilayah pesisir.
“Jangan sampai kepentingan pembangunan jangka pendek mengorbankan kawasan konservasi yang selama ini menjadi bank ikan Kabupaten Sikka. Jika kawasan ini rusak, maka yang terancam bukan hanya ekosistem laut, tetapi juga masa depan nelayan, ketahanan pangan masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya perikanan daerah ini,” tegas Ketua FOKALIS, Frederich Baba Djoje.
FOKALIS menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut dan mendorong keterbukaan informasi kepada masyarakat agar seluruh proses pembangunan berjalan sesuai ketentuan hukum, prinsip konservasi lingkungan, serta kepentingan masyarakat Kabupaten Sikka secara berkelanjutan.
