Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

SMKN 6 Kupang Siapkan Lulusan Go Global, BP3MI NTT: Kompetensi Lebih Penting dari Ijazah

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-27T07:48:04Z

 



Kupang, NTT— SMKN 6 Kupang terus memperkuat kesiapan peserta didik menghadapi peluang kerja, termasuk pasar kerja internasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan kelas migran dan penguatan program SMK Go Global melalui kolaborasi dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT.


Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamida, mengatakan program SMK Go Global diarahkan untuk membuka wawasan lulusan SMK, SMA maupun perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi pada lapangan kerja di dalam negeri, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang karier di luar negeri.


Hal tersebut disampaikan Suratmi kepada media ini di SMKN 6 Kupang, Kamis (27/8/2026).


Menurut Suratmi, program SMK Go Global merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi pasar kerja global. Ia menyebut salah satu persoalan yang masih dihadapi Indonesia adalah tingginya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan pendidikan menengah.


“Program SMK Go Global sebenarnya hanya branding. Bagaimana mempersiapkan adik-adik kita dari tamatan SMK dan SMA maupun sarjana yang menganggur untuk membuka peluang karier global,” jelas Suratmi.


Ia mengatakan, kesempatan kerja di dalam negeri masih terbatas, sementara kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara cukup besar, termasuk pada sektor hospitality dan bidang lainnya.


Karena itu, menurut Suratmi, lulusan SMK memiliki peluang besar apabila dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja internasional.


“Dunia karier global hari ini yang ditanya bukan lagi ijazah, tetapi apa skill dan kompetensi yang dimiliki,” katanya.


Suratmi mengungkapkan, berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah pengangguran terbuka di NTT saat ini mencapai sekitar 104 ribu orang.


Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan serius yang harus dijawab melalui pembukaan berbagai peluang kerja, termasuk kesempatan bekerja secara legal di luar negeri.


Ia mengatakan, selama ini masyarakat NTT masih memiliki orientasi kuat untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN).


“Orang NTT itu masih kiblatnya ketika sarjana menjadi PNS. Kesempatan PNS kita juga sama-sama tahu, apalagi ketika efisiensi belanja pegawai juga kena efisiensi,” ujarnya.


Menurut Suratmi, kondisi tersebut menuntut generasi muda untuk lebih kreatif melihat peluang karier yang tersedia.


Ia menegaskan, pemerintah tidak dapat melarang seseorang memilih menjadi pekerja migran karena bekerja merupakan bagian dari hak setiap warga negara. Namun, pemerintah memiliki tugas untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi, pelatihan dan perlindungan yang memadai.


“Tugas kita pemerintah adalah mengarahkan. Ketika adik-adik kita punya pilihan untuk menjadi pekerja migran, tugas kita menunjukkan peluang yang ada,” katanya.


Untuk mendukung kesiapan calon pekerja migran, BP3MI NTT mendorong pembentukan kelas migran di sekolah-sekolah kejuruan.


Menurut Suratmi, SMK dipilih karena para lulusannya telah memiliki dasar kompetensi sesuai bidang keahlian. Pelatihan kemudian diarahkan untuk memperkuat kemampuan tambahan yang dibutuhkan di pasar kerja global, terutama bahasa asing.


“Kenapa memilih SMK? Karena dasar kompetensi itu mereka sudah punya. Jadi yang kita lakukan adalah peningkatan kompetensi,” jelasnya.


Pelatihan yang diberikan, kata dia, tidak hanya menyangkut keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan bahasa yang menjadi salah satu syarat penting untuk bekerja di luar negeri.


Ia menyebut pelatihan bahasa dapat berlangsung hingga ratusan jam, tergantung program dan kebutuhan kompetensi peserta.


Suratmi memastikan program pelatihan yang dijalankan melalui pemerintah tersebut pada prinsipnya ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang memenuhi persyaratan.


“Setiap orang yang ingin bergabung, biayanya gratis,” katanya.


Untuk kelompok sasaran, BP3MI NTT menyebut usia peserta berada pada rentang sekitar 18 hingga 35 tahun, dengan pendidikan minimal SMK untuk program yang diarahkan melalui kelas tersebut.


Meski demikian, Suratmi menegaskan bahwa kesempatan tidak hanya ditujukan kepada siswa SMKN 6 Kupang.


Menurutnya, kelas migran dapat menjadi wadah yang terbuka bagi mereka yang memenuhi persyaratan dan memiliki minat untuk mengembangkan kompetensi menuju pasar kerja global.


Suratmi juga menjelaskan alasan pihaknya tertarik berkolaborasi dengan SMKN 6 Kupang.


Ia menilai sekolah yang dipimpin Kepala SMKN 6 Kupang, Asa Lahtang, memiliki responsibilitas yang baik dalam menangkap peluang kerja sama.


“Satu hal yang saya senang dan tertarik untuk berkolaborasi di SMK ini adalah responsibilitas,” ujar Suratmi.


Menurutnya, Asa Lahtang dinilai terbuka untuk belajar dan bertanya mengenai isu pekerja migran serta bagaimana membangun tata kelola kelas migran di lingkungan sekolah.


“Beliau tidak pernah gengsi dengan kami yang anak muda ini untuk belajar dan bertanya bagaimana terkait dengan pekerja migran,” katanya.


Bagi BP3MI NTT, sikap tersebut menjadi modal penting untuk membangun kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pemerintah dalam mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing secara internasional.


Suratmi menegaskan, pendidikan tidak boleh berhenti pada pemberian ijazah. Lembaga pendidikan harus memastikan lulusan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja.


“Jangan hanya menjadikan orang memegang ijazah, tapi tanpa skill,” tegasnya.


Ia berharap kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi dan pemerintah dapat menghasilkan lulusan yang mampu menangkap peluang kerja, baik di dalam maupun luar negeri.


Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan tanggung jawab bersama.


“Peningkatan itu adalah tanggung jawab kita bersama, baik dari lembaga pendidikan, kampus maupun unsur pemerintah,” ujarnya.


Ia berharap NTT ke depan tidak hanya dikenal sebagai daerah asal pekerja migran, khususnya sektor informal, tetapi mampu meningkatkan jumlah pekerja migran yang ditempatkan secara formal dan sesuai kompetensi.


“Harapan saya itu satu, bahwa NTT jangan cuma dijadikan sebagai provinsi penyumbang pembantu terbanyak, tapi sebagai provinsi yang bisa menjadi penyumbang penempatan formal yang terbanyak,” katanya.


Meski peluang kerja global terbuka luas, Suratmi mengakui minat masyarakat NTT untuk mengikuti program tersebut masih terbatas.


Salah satu penyebabnya adalah persepsi lama mengenai pekerjaan di luar negeri.


Menurutnya, masih ada anggapan bahwa bekerja ke luar negeri identik dengan menjadi pekerja domestik dan memiliki risiko tinggi.


“Tidak semua orang paham. Kiranya pergi ke luar negeri itu cuma jadi pembantu dan pulang jadi peti mati,” ujarnya.


Suratmi menilai persepsi tersebut perlu diubah melalui edukasi dan peningkatan pemahaman mengenai peluang kerja migran yang legal, aman dan berbasis kompetensi.


Ia menegaskan bahwa peluang kerja di luar negeri sangat beragam, mulai dari sektor hospitality hingga berbagai bidang yang membutuhkan tenaga terampil.


Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman sekaligus mempersiapkan kompetensi siswa sejak dini.


Sementara itu, Kepala SMKN 6 Kupang, Asa Lahtang, mengatakan pihak sekolah menjadikan kegiatan In-House Training (IHT) sebagai momentum untuk menyatukan pemahaman seluruh unsur sekolah terkait pengembangan Teaching Factory (TEFA) dan program One School, One Product.


Menurut Asa, IHT tidak hanya menjadi kegiatan peningkatan kapasitas guru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun konsep bersama antara pemerintah provinsi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta sekolah sebagai pelaksana program.


Ia mengatakan, guru perlu memahami konsep tersebut terlebih dahulu sebelum kemudian diterapkan dalam pembelajaran kepada siswa.


Dalam konteks kelas migran, Asa mengatakan SMKN 6 Kupang telah mengajukan proposal untuk proses kerja sama dengan pihak terkait dalam pengembangan migrant center.


Ia menyebut sekitar 22 peserta saat ini telah mengikuti pembinaan dan sebelumnya menjalani tes TOEIC sebagai bagian dari pemetaan kemampuan bahasa Inggris.


Selain itu, terdapat sekitar 60 sertifikat yang telah diperoleh peserta yang mengikuti tes sebelumnya.


Menurut Asa, program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu jalan bagi siswa dan lulusan untuk mempersiapkan diri menghadapi peluang kerja internasional.


Kolaborasi SMKN 6 Kupang dan BP3MI NTT pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan IHT. Lebih jauh, kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun sistem pembelajaran dan pelatihan yang membuat lulusan memiliki kompetensi nyata serta mampu bersaing di pasar kerja global.


Dari SMKN 6 Kupang, peluang karier tidak lagi hanya dilihat dari seberapa tinggi ijazah yang dimiliki, tetapi dari seberapa siap kompetensi yang dibawa untuk memasuki dunia kerja.

✒️: kl