Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

TMI Didorong Jadi Mesin Perubahan, PPL: Petani Tak Boleh Jalan Sendiri

Kamis, 13 Agustus 2026 | Agustus 13, 2026 WIB Last Updated 2026-08-13T15:16:18Z

 



Flores Timur,NTT, 13 Agustus 2026 — Pengukuhan Pengurus Kecamatan Tani Merdeka Indonesia (TMI) se-Kabupaten Flores Timur periode menjadi momentum untuk mendorong perubahan nyata di sektor pertanian. TMI didorong tidak hanya menjadi organisasi petani, tetapi tampil sebagai mesin perubahan yang mampu memperkuat kapasitas dan kesejahteraan petani.


Dorongan tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Flores Timur, Nursyahpura Mbalembout, dalam acara pengukuhan pengurus TMI se-Kabupaten Flores Timur.


Menurut Nursyahpura, tantangan pertanian saat ini semakin kompleks. Petani harus menghadapi perubahan iklim, perkembangan teknologi, dinamika pasar, hingga perubahan pola konsumsi dan pangan global.


Karena itu, petani tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri.
“Pengukuhan bukan sekadar seremoni organisasi. Pengukuhan adalah pemberian mandat, tanggung jawab dan kepercayaan untuk bekerja bersama petani,” tegas Nursyahpura.


Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Ketua Umum DPN TMI Wilfridus Yons Ebit, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, jajaran TMI Kabupaten Flores Timur, pengurus TMI tingkat kecamatan, PPL, kepala desa/lurah, tokoh masyarakat, tokoh adat, kaum muda tani serta pelaku pertanian.


PPL dan TMI, Berbeda Peran tetapi Satu Tujuan
Nursyahpura menegaskan kemitraan PPL dan TMI bukan untuk mencampuradukkan kewenangan.


PPL tetap menjalankan fungsi penyuluhan pertanian, sementara TMI berperan dalam memperkuat aspirasi, pemberdayaan dan konsolidasi petani. Namun, kedua kekuatan tersebut dapat saling melengkapi.


PPL membawa pengetahuan teknis, teknologi, data dan pengalaman lapangan. Sementara TMI memiliki kekuatan organisasi, jaringan, aspirasi serta kemampuan mengonsolidasikan petani.


“Pengetahuan bertemu pengalaman, teknologi bertemu kearifan lokal, kebijakan bertemu kebutuhan petani dan organisasi bertemu kerja nyata di lapangan,” ujarnya.


Petani Flores Timur Harus Naik Kelas
Nursyahpura mengatakan pertanian Flores Timur membutuhkan pendekatan baru.


Petani tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman bertani. Mereka harus terus belajar, beradaptasi dan menguasai teknologi.


“Petani membutuhkan pengetahuan yang terus diperbarui, organisasi yang kuat, akses teknologi, akses pasar, akses pembiayaan dan jejaring kemitraan yang luas,” katanya.
Ia menegaskan pembangunan pertanian harus diarahkan agar petani tidak hanya mampu bertahan, tetapi mampu berkembang.
“Bukan sekadar bagaimana membuat petani bertahan hidup.


Tantangan kita adalah bagaimana membuat petani naik kelas.”


TMI Jangan Berhenti di Struktur
Nursyahpura juga mengingatkan pengurus TMI agar tidak menjadikan organisasi sekadar struktur administratif.


Menurutnya, keberhasilan organisasi bukan diukur dari banyaknya pengurus, tetapi dari manfaat yang dirasakan petani.
“Organisasi yang kuat bukan diukur dari banyaknya nama dalam struktur.


Organisasi yang kuat diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan anggotanya.”
Karena itu, TMI diharapkan menjadi ruang untuk memperjuangkan berbagai persoalan petani, mulai dari produktivitas, hama dan penyakit tanaman, perubahan iklim, akses teknologi, pembiayaan hingga pemasaran.


PPL Diminta Hadir di Tengah Petani
Nursyahpura juga mengingatkan PPL agar tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi pemerintah. Penyuluh harus hadir sebagai fasilitator pembelajaran dan inovasi.


“Kantor penyuluh yang sesungguhnya adalah lahan pertanian dan kehidupan petani.”
Menurutnya, petani membutuhkan pendampingan langsung ketika menghadapi persoalan produksi, perubahan iklim, serangan hama, harga komoditas maupun akses terhadap teknologi dan pasar.


Bangun Ekosistem Pengetahuan
Untuk memperkuat pertanian Flores Timur, Nursyahpura mendorong PPL dan TMI membangun ekosistem pengetahuan pertanian melalui sekolah lapang, demplot, temu lapang, diskusi petani, pemanfaatan teknologi digital dan pertukaran pengalaman antarkelompok tani. Pengetahuan, katanya, tidak boleh hanya bergerak satu arah.


“Pengetahuan juga harus bergerak dari petani kepada petani, dari lapangan kepada penyuluh, dari perguruan tinggi kepada petani dan dari teknologi kepada masyarakat.”


Dengan begitu, petani bukan hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan melalui pengalaman dan inovasi lokal.


Dari Pengukuhan Menuju Gerakan Nyata
Nursyahpura berharap TMI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dan PPL dalam pembangunan pertanian Flores Timur.
Ia juga mengajak seluruh pihak terbuka terhadap kritik konstruktif dan gagasan baru.


“Jika ada persoalan, mari kita diskusikan. Jika ada kebijakan yang belum tepat sasaran, mari kita berikan masukan. Jika ada inovasi yang baik, mari kita kembangkan.


Jika ada petani yang membutuhkan pendampingan, mari kita hadir bersama,” katanya.


Menurutnya, pemerintah, PPL dan organisasi petani tidak dapat bekerja sendiri.
Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. PPL tidak mungkin bekerja sendirian. TMI juga tidak mungkin bekerja sendirian.


Karena itu, ketiganya harus membangun kekuatan bersama untuk mewujudkan petani yang lebih mandiri, produktif dan berdaya saing.


Pengukuhan pengurus TMI se-Kabupaten Flores Timur akhirnya bukan menjadi garis akhir.


Pengukuhan boleh selesai, tetapi kerja nyata untuk petani baru dimulai.


TMI diharapkan mampu menjadi mesin perubahan, sementara PPL menjadi sahabat belajar petani dan setiap kecamatan berkembang menjadi pusat inovasi pertanian.


Satu tujuan yang hendak dicapai: petani Flores Timur tidak lagi berjalan sendiri, tetapi bergerak bersama menuju pertanian yang berdaulat dan berdaya saing.


Petani Kuat, Pertanian Hebat.

Flores Timur Maju, Indonesia Berdaulat Pangan.
Salam Tani Merdeka.

✒️: kl