Flores Timur, NTT, 13 Agustus 2026 — Pelantikan Korcam Tani Merdeka Indonesia (TMI) se-Kabupaten Flores Timur bukan sekadar agenda organisasi. Di balik pengukuhan kepengurusan, tersimpan cerita tentang persatuan, gotong royong dan toleransi yang tumbuh begitu kuat di tengah masyarakat.
Suasana kebersamaan terlihat sejak persiapan hingga berlangsungnya kegiatan. Petani datang membawa harapan, nelayan hadir dengan semangat, pedagang ikut mengambil bagian, sementara masyarakat dari berbagai latar belakang menyatukan tenaga untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.
Yang menarik, semangat persatuan itu tidak hanya terlihat di atas panggung. Justru di tempat yang sederhana—di dapur kegiatan—nilai toleransi tampak begitu nyata.
Keluarga besar kaum Muslim turut mengambil bagian dalam menyiapkan konsumsi, melayani kebutuhan peserta dan memastikan seluruh tamu dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Mereka bekerja tanpa sekat, tanpa membedakan siapa yang dilayani dan dari latar belakang agama apa.
Bagi Wakil Ketua Umum TMI, Wilfridus Yons Ebit, pemandangan tersebut merupakan sesuatu yang patut diapresiasi dan menjadi contoh bagaimana persaudaraan dibangun dalam kehidupan nyata.
Yons Ebit menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Flores Timur yang telah menunjukkan semangat kolaborasi dan persatuan.
Menurutnya, apa yang terjadi dalam kegiatan tersebut merupakan gambaran bahwa masyarakat Flotim memiliki modal sosial yang sangat kuat. “Ini yang luar biasa.
Kita melihat bagaimana masyarakat bisa bekerja bersama, saling membantu dan saling melayani tanpa melihat perbedaan agama maupun latar belakang. Inilah kekuatan kita,” ujar Yons Ebit.
Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan yang diucapkan dalam berbagai forum.
Toleransi harus diwujudkan melalui tindakan sederhana yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang memasak untuk saudaranya, ketika warga membantu menyiapkan sebuah kegiatan, ketika petani, nelayan dan pedagang duduk bersama tanpa melihat perbedaan, maka sesungguhnya nilai persaudaraan sedang dibangun.
“Kadang kita berbicara terlalu jauh tentang toleransi. Padahal toleransi itu bisa kita lihat dari hal-hal sederhana. Ada orang yang bekerja di dapur untuk memastikan saudaranya makan.
Ada yang membantu tanpa bertanya apa agamanya. Itu toleransi yang hidup,” katanya.
Yons Ebit menilai, semangat seperti ini merupakan kekuatan yang harus dijaga oleh TMI. Sebab, perjuangan membangun kesejahteraan petani tidak mungkin dilakukan sendirian.
TMI, kata dia, membutuhkan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat. Petani membutuhkan nelayan, nelayan membutuhkan pedagang, pedagang membutuhkan konsumen, dan seluruhnya membutuhkan semangat gotong royong.
Karena itu, TMI tidak boleh hanya dipandang sebagai organisasi yang berbicara tentang pertanian. TMI harus menjadi ruang perjumpaan masyarakat, tempat berbagai kelompok dapat duduk bersama, berdiskusi dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kalau kita ingin membangun daerah, jangan pernah menjadikan perbedaan sebagai tembok. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi,” tegas Yons Ebit.
Ia juga mengajak seluruh pengurus TMI yang baru dilantik untuk tidak hanya bekerja membangun struktur organisasi, tetapi benar-benar turun ke tengah masyarakat.
Pengurus Korcam dan Kordes harus mampu menjadi penghubung antara petani dengan berbagai program pemberdayaan, membuka ruang komunikasi dengan pemerintah, serta mendorong kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Yons Ebit, keberhasilan organisasi bukan diukur dari seberapa besar struktur yang dibangun, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Jangan hanya ada nama dan kepengurusan. Harus ada kerja. Harus ada keberpihakan kepada masyarakat. Dan yang paling penting, harus ada persatuan,” ujarnya.
Pelantikan TMI di Flores Timur pun akhirnya memiliki makna yang lebih luas.
Ia tidak hanya menjadi momentum memperkuat barisan organisasi, tetapi juga memperlihatkan bahwa masyarakat Flotim mampu menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
Dari dapur kegiatan, terlihat tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Dari sawah, terlihat petani yang menggantungkan harapan pada hasil bumi. Dari laut, nelayan terus berjuang mencari penghidupan. Dari pasar, pedagang menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Semuanya memiliki peran.
Dan ketika seluruh elemen tersebut bertemu dalam satu semangat kebersamaan, maka yang lahir bukan sekadar sebuah kegiatan organisasi, melainkan sebuah kekuatan sosial.
Yons Ebit berharap semangat tersebut terus dipelihara dan menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat Flores Timur.
“Jangan sampai persatuan hanya hadir ketika ada kegiatan. Persatuan harus menjadi kebiasaan.
Kita berbeda-beda, tetapi kita adalah saudara. Kalau kita bersatu, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk Flores Timur,” tuturnya.
Pelantikan Korcam TMI Flores Timur pada akhirnya meninggalkan satu pesan kuat: toleransi bukan sekadar ucapan, persatuan bukan sekadar slogan, dan gotong royong bukan sekadar tradisi.
Semuanya harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dari dapur hingga sawah, dari laut hingga pasar, Flores Timur menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah.
Justru dari keberagaman itulah kekuatan persaudaraan tumbuh.
