Kota Kupang, NTT — Dinas Kesehatan Kota Kupang menyampaikan perkembangan kasus baru HIV yang ditemukan melalui pelayanan kesehatan di 12 puskesmas selama 2024 hingga 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang, Tiurmasari E. Saragih, S.KM., M.Sc., mengatakan data tersebut merupakan kasus baru yang ditemukan pada masing-masing tahun, sehingga tidak tepat jika seluruh angka langsung dijumlahkan sebagai jumlah penderita HIV yang masih aktif saat ini.
“Jangan ditotal, karena ini kasus-kasus baru yang ditemukan,” kata Tiurmasari saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Kupang, tercatat 226 kasus baru pada 2024, kemudian 225 kasus pada 2025, sedangkan pada 2026 tercatat 136 kasus berdasarkan periode pelaporan yang tersedia.
Menurut Tiurmasari, angka tersebut menunjukkan perkembangan yang relatif stabil.
“Stabil, kami melihatnya stabil,” ujarnya.
Data Dinas Kesehatan juga mencatat kasus baru HIV berdasarkan puskesmas.
Puskesmas 2024 2025 2026
Pasir Panjang 30 32 22
Kupang Kota 25 19 4
Alak 28 65 6
Sikumana 12 22 8
Bakunase 161 32 14
Oepoi 54 3 24
Oesapa 15 24 30
Naioni 3 3 5
Penfui 6 12 6
Oebobo 11 3 11
Manutapen 3 12 3
Penkase Oeleta 16 30 12
Dari data tersebut, terlihat jumlah kasus baru pada setiap puskesmas mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Penkase Oeleta, misalnya, mencatat 16 kasus pada 2024, meningkat menjadi 30 kasus pada 2025, kemudian tercatat 12 kasus pada 2026.
Sementara itu, data di Alak menunjukkan 28 kasus pada 2024 dan meningkat menjadi 65 kasus pada 2025, sebelum tercatat 6 kasus pada 2026.
Tiurmasari juga meluruskan pemahaman mengenai skrining HIV.
Menurutnya, skrining merupakan upaya deteksi dini, bukan diagnosis bahwa seseorang telah terinfeksi HIV.
Skrining dilakukan terhadap populasi atau warga yang dinilai memiliki risiko, termasuk kelompok tertentu seperti warga binaan pemasyarakatan. Selain itu, pasien tuberkulosis (TB) juga menjadi kelompok yang mendapatkan skrining HIV sesuai prosedur pelayanan.
“Penderita TB, dia positif dengan TBC, maka dia juga akan kami screening HIV,” jelasnya.
Karena itu, menurut Tiurmasari, jumlah orang yang menjalani skrining tidak dapat langsung disebut sebagai jumlah penderita HIV.
“Bukan berarti dengan hasil screening menjamin seseorang itu terinfeksi HIV. Itu baru upaya deteksi dini,” katanya.
Tiurmasari mengatakan kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining HIV saat ini semakin baik.
Masyarakat yang merasa pernah berada dalam situasi berisiko dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui status kesehatannya.
“Kesadarannya sangat baik sekarang. Dengan meningkatnya screening, masyarakat sudah mulai tidak takut lagi mau screening,” ujarnya.
Ia berharap informasi mengenai HIV disampaikan secara tepat agar masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan.
Menurutnya, deteksi dini penting agar seseorang dapat mengetahui status kesehatannya dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Dinas Kesehatan Kota Kupang memiliki 12 puskesmas yang telah mampu memberikan pelayanan HIV, termasuk pengobatan.
Pelayanan juga tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan lainnya. Namun, Tiurmasari mengatakan belum seluruh rumah sakit memberikan layanan HIV secara lengkap sehingga koordinasi dan komunikasi dengan fasilitas kesehatan terus dilakukan.
Ia menambahkan, upaya penanggulangan HIV tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan perilaku hidup sehat.
“Pola penularannya adalah dari seksual, utamanya. Berperilakulah seksual yang sehat,” pungkasnya.
✒️: kl
