Kota Kupang, NTT — Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi mulai memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hal itu terlihat dari aktivitas Bank Sampah Unit KGC Liliba yang dalam dua bulan berhasil mengumpulkan hampir dua ton sampah sekaligus mencatat tabungan warga hingga lebih dari Rp2 juta.
Hal tersebut disampaikan Joseph Leonard Kale atau yang biasa disapa Jonard Kale, usai membawakan materi tentang pengelolaan sampah dan kebersihan di Kelurahan Fontein, Kota Kupang, Rabu (2/9/2026).
Jonard menjelaskan, Bank Sampah Unit KGC Liliba baru berjalan sekitar dua bulan, terhitung sejak 20 Juni 2026. Meski masih dalam tahap awal, masyarakat mulai menunjukkan antusiasme untuk memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah.
Menurutnya, salah satu alasan warga mulai tertarik adalah karena sampah yang sebelumnya dibuang kini dapat memiliki nilai ekonomi.
“Sekarang mereka semangat untuk kumpul sampah karena sampah tidak dibuang lagi, tetapi ada nilai uangnya,” ujar Jonard.
Jonard mengatakan, manfaat ekonomi tersebut mulai dirasakan sejumlah warga. Sampah yang dikumpulkan dan ditimbang kemudian dicatat sebagai tabungan melalui aplikasi SiLiba.
Ia mencontohkan, terdapat warga yang nilai tabungan sampahnya telah mendekati Rp500 ribu. Ada pula warga yang menggunakan hasil tabungan tersebut untuk kebutuhan pendidikan maupun membayar token listrik.
“Ada satu warga nilainya sudah hampir Rp500 ribu. Karena dia pilih tabungan pendidikan, nanti untuk kebutuhan sekolah baru bisa dicairkan,” jelasnya.
Ia juga menyebut ada warga yang melakukan penarikan melalui aplikasi untuk kebutuhan pembayaran listrik.
“Secara manfaat dia merasakan bahwa ternyata dari hasil sampah saya bisa membantu ekonomi rumah tangga, misalnya untuk isi listrik,” katanya.
Jonard menegaskan, hasil dari sampah memang tidak serta-merta membuat masyarakat mendapatkan uang dalam jumlah besar. Namun, jika dilakukan secara rutin, hasilnya dapat terkumpul dan membantu kebutuhan keluarga.
“Memang sedikit, tapi namanya orang menabung itu kan sedikit, sedikit, sedikit baru menjadi banyak. Tidak langsung jadi kaya,” ujarnya.
Berdasarkan data yang disampaikan Jonard, saat ini terdapat 183 anggota yang telah terdaftar dalam sistem SiLiba.
Anggota tersebut berasal dari beberapa kelompok, antara lain warga, anak sekolah minggu, keluarga dari tiga RT yang menjadi wilayah layanan awal, anak PAUD, serta warga dari luar wilayah Liliba.
Dari 183 anggota tersebut, total nilai tabungan yang tercatat mencapai Rp2.105.652.
Sementara itu, dalam periode sekitar dua bulan, Bank Sampah Unit KGC Liliba telah mengumpulkan sekitar 1.859,7 kilogram atau 1,85 ton sampah.
Sampah yang diterima terutama merupakan material yang dapat masuk ke industri daur ulang, seperti plastik jenis PET, berbagai jenis plastik, gelas plastik, serta kertas.
Sedangkan sampah logam seperti besi tua dan kaca belum menjadi bagian dari jenis sampah yang mereka ambil.
Jonard menjelaskan, harga sampah yang diberikan kepada masyarakat disesuaikan dengan harga dari bank sampah induk. Bank Sampah Unit KGC Liliba mengambil sampah dari masyarakat, kemudian meneruskannya ke bank sampah induk.
Selisih harga tersebut menjadi bagian dari keuntungan pengelolaan bank sampah.
Ia mencontohkan, jika bank sampah induk membeli rak telur dengan harga Rp400 per kilogram, maka pihaknya dapat membeli dari masyarakat sekitar Rp300 per kilogram.
“Biasanya range-nya tidak boleh lebih dari seribu. Kita juga lihat supaya jangan terlalu rendah, sehingga masyarakat tidak merasa harganya terlalu di bawah,” jelasnya.
Menurut Jonard, pola tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi yang diterima warga dan keberlanjutan operasional bank sampah.
Bank Sampah Unit KGC Liliba saat ini beroperasi di Jalan Sagittarius, RT 38, Kelurahan Liliba.
Meski terbuka bagi masyarakat secara umum, pelayanan penjemputan sampah masih difokuskan pada tiga RT sebagai tahap awal.
Jonard mengatakan, Kelurahan Liliba memiliki 51 RT. Dengan keterbatasan sumber daya manusia dan armada transportasi yang saat ini baru tersedia satu unit, pihaknya belum dapat langsung melayani seluruh wilayah.
“Kami masih tiga RT dulu. Nanti kalau fondasinya sudah kuat, baru kami perluas lagi,” katanya.
Penjemputan sampah dilakukan berdasarkan jadwal, sementara masyarakat juga dapat mengantarkan sampah secara langsung ke lokasi bank sampah.
Jonard mengajak masyarakat mulai memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, sumber utama sampah berasal dari rumah tangga sehingga tanggung jawab pengelolaannya juga perlu dimulai dari masyarakat.
“Pesan saya yang pertama, masyarakat mulailah untuk memilah sampah dari rumah. Karena sumber sampahnya adalah dari kita. Sampah adalah tanggung jawab kita,” tegasnya.
Ia menilai, kebiasaan memilah sampah tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi meskipun nilainya bertahap.
Dalam kegiatan sosialisasi di Kelurahan Fontein, pengelolaan sampah juga ditekankan sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Jonard mengatakan, perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat dalam menangani sampah.
Bank Sampah Unit KGC Liliba sendiri merupakan bagian dari gerakan Kupang Green and Clean yang berbasis masyarakat. Forum tersebut telah memiliki SK sejak 9 Maret 2026, sedangkan peluncuran aplikasi dan pengembangan kegiatan bank sampah mulai berjalan pada 20 Juni 2026.
Dalam pengembangan dan sosialisasinya, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga.
Dengan semakin banyak warga yang memilah sampah, Jonard berharap sampah tidak lagi dipandang semata sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang dapat dikelola sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
Bagi masyarakat, memilah sampah berarti menjaga lingkungan. Bagi keluarga, sampah yang dikelola dengan baik juga dapat berubah menjadi tabungan dan tambahan nilai ekonomi..
✒️: kl
