Manggarai Timur NTT, 23 September 2026— Bunyi gong dan gendang menggema di Kampung Gorong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Di tengah suasana syukuran hasil panen, masyarakat adat setempat kembali menghidupkan salah satu warisan budaya Manggarai: Tarian Caci.
Kegiatan adat tersebut berlangsung selama dua hari, Senin 21 hingga Selasa 22 September 2026. Masyarakat adat tampak antusias berkumpul menyaksikan para penari Caci beradu ketangkasan di tengah arena.
Bagi masyarakat Manggarai, Caci bukan sekadar pertunjukan. Tradisi ini menjadi bagian dari ungkapan syukur atas hasil usaha dan kerja masyarakat selama satu musim panen.
Pimpinan Adat Kampung Gorong, Antonius Latong, menjelaskan Caci merupakan salah satu tradisi masyarakat adat Manggarai yang biasanya digelar dalam berbagai kegiatan adat.
Caci, kata Antonius, kerap dilakukan dalam acara Penti dan Hang Woja, yakni rangkaian syukuran atas hasil panen.
Selain itu, Caci juga dapat digelar dalam acara Pukang Mbaru Gendang atau Lonto Mbaru Gendang, serta berbagai kegiatan adat lainnya.
“Acara syukuran ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta dan para leluhur atas rahmat dan berkat-Nya, sehingga apa yang diusahakan dan dikerjakan masyarakat bisa memperoleh hasil yang memadai,” jelas Antonius.
Menurut penuturan Antonius, tradisi Caci memiliki akar sejarah yang kuat dalam kebudayaan Manggarai. Ia menyebut tradisi tersebut berasal dari Desa Todo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai.
Nama Caci sendiri, lanjutnya, berasal dari kata “Ca” yang berarti satu dan “Ci” yang berarti uji. Karena itu, Caci dimaknai sebagai sebuah uji ketangkasan antara dua orang yang berhadapan satu lawan satu.
Antonius mengatakan Caci juga dikenal sebagai simbol kejantanan dan keberanian laki-laki Manggarai.
Karena itu, dalam tradisi tersebut para penarinya adalah kaum pria.
Keunikan Caci terlihat dari berbagai perlengkapan dan pakaian yang digunakan. Di antaranya larik atau pecut, nggiling atau perisai, panggal sebagai penutup kepala, serta koret sebagai alat penangkis.
Penari mengenakan celana putih yang dibalut kain songke Manggarai. Pada bagian pinggang, kain tersebut diikat dengan selendang Manggarai.
Di bagian belakang pinggang juga terdapat untaian nggiring-nggiring yang menghasilkan bunyi mengikuti gerakan penari.
Sementara bagian wajah penari ditutupi kain destar bermotif batik. Bagian mata tetap terbuka agar penari dapat melihat arah gerakan maupun pukulan lawannya.
Salah seorang penari Caci asal Kampung Gorong, An, menjelaskan bahwa tradisi tersebut pada awalnya merupakan kebiasaan masyarakat adat Manggarai, khususnya kaum laki-laki, untuk menguji keberanian dan ketangkasan.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi sebuah kesenian yang memiliki gerakan, lagu, serta iringan musik yang saling berkaitan.
Namun, menurut An, tidak semua orang bisa wau Caci atau turun ke arena untuk mengikuti pertarungan Caci.
Sebab, ketika seseorang sudah memasuki arena Caci, ia harus memahami risiko dan konsekuensi yang mungkin terjadi.
“Tari Caci ini sama halnya dengan perang satu lawan satu yang bertarung menggunakan cambuk dan perisai,” ujar An.
Dalam arena, seorang penari bertindak sebagai penyerang dengan menggunakan cambuk. Sementara penari lainnya berperan sebagai penangkis dengan menggunakan perisai.
“Berani jadi penari Caci, harus bisa menerima luka dan kalah,” tegasnya.
Dalam pagelaran Caci, terdapat sejumlah istilah lokal yang menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Paki merupakan orang yang berperan sebagai pemukul, sedangkan Ta’ang adalah orang yang bertugas menangkis pukulan.
Ada pula istilah Beke, yakni kondisi ketika larik atau cambuk mengenai bagian wajah penari.
“Seorang itu dikatakan kalah dalam tarian ini apabila pemukul mengenai area wajah atau mata seorang penangkis,” jelas An.
Selain pertarungan, Caci juga tidak terlepas dari irama musik tradisional.
Ada istilah Lomes, yakni gerakan penari yang mengikuti irama gong dan gendang.
Di sela-sela tarian, para penari juga melantunkan pantun atau syair yang dikenal dengan istilah Paci.
Sebelum memasuki arena dan menari sambil bernyanyi, terdapat pula tradisi Tuak Bakok, yakni meminum minuman tradisional Manggarai untuk membangun semangat para penari.
Bagi masyarakat adat Kampung Gorong, pelaksanaan Caci dalam rangka syukuran hasil panen bukan sekadar hiburan.
Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus menjaga hubungan dengan warisan leluhur.
Dari bunyi gong dan gendang, gerakan para penari, hingga syair yang dilantunkan, seluruh rangkaian Caci menunjukkan bahwa budaya Manggarai masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Semua istilah yang terdapat dalam tarian Caci ini mengisyaratkan lekatnya budaya tradisional masyarakat adat Manggarai,” pungkas An.
✒️: ***
