Kupang, NTT — PT Telkom Indonesia mendorong pengembangan inovasi berbasis teknologi Internet of Things (IoT) melalui kegiatan 2026 IoT NTT Bootcamp dan Challenge yang melibatkan 100 peserta dari 25 sekolah menengah kejuruan (SMK) di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sahid mulai 12 Oktober 2026 ini menjadi wadah bagi siswa dan guru untuk mengembangkan keterampilan teknologi, menciptakan produk inovatif, serta menghasilkan solusi atas persoalan nyata di masyarakat, termasuk keterbatasan air dan tantangan sektor pertanian.
Pelatihan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teknologi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan membuka peluang kewirausahaan.
Bupati Kupang Yosef Lede, dalam sambutannya pada Selasa (13/10/2026), berharap kegiatan pelatihan dan kompetisi tersebut dapat memunculkan gagasan baru, terutama untuk mendukung pengembangan pertanian berbasis digital.
Menurut Yosef, pemanfaatan teknologi perlu diperluas agar tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau desa-desa yang masih menghadapi keterbatasan akses jaringan komunikasi.
Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kupang telah menjalin kerja sama dengan Telkom. Namun, ia berharap program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Telkom dapat memberikan dampak langsung bagi pengembangan teknologi digital di dunia pendidikan dan masyarakat desa.
"Kami berharap program-program Telkom ini juga menyentuh daerah-daerah desa, tidak saja terfokus di Kota Kupang dan wilayah lainnya," kata Yosef.
Ia menilai, perkembangan teknologi menuntut masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus beradaptasi. Karena itu, pelatihan dan kompetisi digital diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan generasi muda.
Executive Vice President Regional III Telkom Indonesia, Rahmat Dwi Hartanto, mengatakan 2026 IoT NTT Bootcamp dan Challenge merupakan bagian dari upaya Telkom mendorong digitalisasi di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Rahmat, pengembangan teknologi digital tidak cukup hanya dengan membangun jaringan dan infrastruktur telekomunikasi. Teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, membuka kesempatan, mendorong inovasi, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
Ia menyoroti pentingnya ketersediaan konektivitas internet agar berbagai teknologi yang dikembangkan dapat berfungsi dengan baik.
Karena itu, Telkom membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra usaha untuk mencari solusi atas keterbatasan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah.
Rahmat menjelaskan, pemilihan SMK sebagai sasaran program didasarkan pada harapan agar pendidikan vokasi mampu melahirkan solusi baru melalui pemanfaatan IoT dan teknologi digital lainnya.
"Harapannya, dunia vokasi mampu menciptakan solusi-solusi baru menggunakan teknologi IoT dan teknologi digital, sekaligus menciptakan nilai tambah serta menumbuhkan kewirausahaan," ujar Rahmat.
Ia menambahkan, talenta digital dapat lahir dari berbagai daerah, termasuk Kupang, Timor, Flores, Sumba, Alor, dan Rote. Hal yang dibutuhkan adalah kesempatan, akses, fasilitas, pendampingan mentor, dan kepercayaan untuk mengembangkan kemampuan.
Rahmat juga mengungkapkan bahwa Telkom sebelumnya telah menyelenggarakan pelatihan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi 200 guru di Kupang pada Agustus 2026.
Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan yang berdiri sendiri.
Melalui program ini, siswa didorong agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
"Mulailah dengan pertanyaan, solusi apa yang bisa saya ciptakan?" ujarnya.
Rahmat menyebut sejumlah sektor yang berpotensi dikembangkan melalui inovasi digital di NTT, antara lain pertanian, peternakan, pengelolaan air, energi, lingkungan, dan mitigasi bencana.
Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta dapat diteruskan setelah mereka kembali ke sekolah masing-masing.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, mengatakan pengembangan inovasi teknologi di lingkungan SMK sejalan dengan tiga fokus utama pendidikan, yakni penguatan karakter, peningkatan kemampuan akademik, dan pengembangan keterampilan kewirausahaan.
Menurut Ambrosius, proses menghasilkan produk membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Siswa juga perlu memiliki kemampuan akademik yang baik, termasuk dalam pemrograman dan penguasaan teknologi.
Namun, pembelajaran berbasis teknologi tidak seharusnya berhenti setelah siswa berhasil menciptakan sebuah produk. Produk tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut agar memiliki nilai tambah dan berpeluang dipasarkan.
Ambrosius mencontohkan pemanfaatan IoT untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air di NTT, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan air dan sesuai dengan kondisi wilayah yang rentan mengalami kekeringan.
"SMK bisa memberikan peran dan kontribusi di situ," katanya.
Ia juga mendorong pengembangan program One School One Product (OSOP) agar tidak hanya menghasilkan produk makanan olahan atau kerajinan, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi teknologi terapan.
Menurut Ambrosius, siswa SMK perlu didorong untuk menghasilkan produk yang menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, peternakan, energi terbarukan, pengelolaan air, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan demikian, pendidikan vokasi tidak hanya mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan menciptakan usaha secara mandiri.
Guru pendamping dari SMK Negeri 1 Kalabahi, Wahyu Yudha, berharap 2026 IoT NTT Bootcamp dan Challenge tidak menjadi kegiatan terakhir.
Ia menginginkan adanya pertemuan dan program lanjutan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi.
Wahyu juga berharap pengembangan teknologi berikutnya dapat mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan Internet of Things (IoT).
Integrasi kedua teknologi tersebut dikenal sebagai Artificial Intelligence of Things (AIoT).
Ia berharap SMK Negeri 1 Kalabahi kembali memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan serupa sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat terus dikembangkan.
Sementara itu, Bernadeta Liai Nome dari SMK Anugerah Soe mengaku senang dapat mengikuti kegiatan 2026 IoT NTT Bootcamp dan Challenge.
Menurut Bernadeta, pelatihan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan materi yang telah dipelajari di sekolah menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia mengatakan, ide dan potensi siswa perlu dikembangkan agar dapat menghasilkan produk yang mampu membantu menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
Salah satu persoalan yang disorotnya adalah keterbatasan air di NTT. Selain itu, masih terdapat wilayah yang menghadapi keterbatasan pemanfaatan teknologi karena masyarakat belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai penggunaannya.
Bernadeta berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan oleh siswa dan guru serta diteruskan kepada generasi berikutnya.
Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang mampu berinovasi dan berkontribusi bagi pembangunan daerah, sehingga NTT semakin maju dan berkarakter serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas.
Melalui 2026 IoT NTT Bootcamp dan Challenge, pengembangan teknologi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan produk inovatif, tetapi juga membuka peluang kewirausahaan, memperkuat pendidikan vokasi, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
✒️: kl
