Maumere, NTT— Bernadus Pajung (69), warga Dusun Hebar, Desa Mahe Tana, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di rumah berdinding pelupu bambu yang lapuk dan berlantaikan tanah. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia bersama istrinya, Rosalia Etalia (59), harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan tujuh anak.
Kondisi rumah yang memprihatinkan dan lahan berbatu yang sulit diolah menjadi tantangan bagi keluarga tersebut untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Bernadus mengandalkan tanaman di lahan sekitar rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, hasilnya belum mampu memberikan kepastian ekonomi bagi keluarganya.
“Saya tinggal di sini tanah saja tidak seberapa, tanah penuh batu semua. Tanaman juga hanya untuk memenuhi kebutuhan,” tutur Bernadus, Kamis (15/10/2026).
Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan yang masih dihadapi sebagian warga di pelosok Kabupaten Sikka, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa tempat tinggal yang layak.
Rumah Bernadus menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian. Dinding pelupu bambu yang mulai lapuk dan lantai tanah menunjukkan kondisi hunian yang perlu mendapat penanganan.
Sekretaris Desa Mahe Tana, Rikarson Eduardus Toa, membenarkan bahwa kondisi Bernadus termasuk yang paling memprihatinkan di Dusun Hebar.
Menurut Rikarson, pemerintah desa telah mengetahui kondisi keluarga tersebut dan melakukan pendataan terhadap warga yang membutuhkan bantuan.
“Kondisi Bapak Bernadus Pajung itu memang yang paling memprihatinkan di Dusun Hebar. Beliau lansia 69 tahun dengan tujuh anak tanggungan, rumahnya dinding pelupu sudah lapuk, lantai tanah, dan lahan di sekitarnya penuh batu. Kami di desa melihat sendiri, beliau sangat membutuhkan perhatian segera,” ujar Rikarson.
Ia mengatakan, pemerintah desa berupaya membantu warga sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. Namun, keterbatasan keuangan desa membuat penanganan rumah tidak layak huni belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Persoalan rumah tidak layak huni di Desa Mahe Tana ternyata tidak hanya dialami keluarga Bernadus.
Rikarson menjelaskan, masih terdapat sejumlah kepala keluarga di tiga dusun yang membutuhkan perhatian serupa.
“Kalau dilihat dari segi rumah tidak layak huni, masih ada beberapa KK juga yang harus diperhatikan dari tiga wilayah dusun di Desa Mahe Tana. Untuk sementara dari pihak desa hanya mampu mengintervensi satu rumah layak huni, sesuai kemampuan keuangan desa,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah desa berharap adanya dukungan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk membantu warga yang belum mendapatkan penanganan.
Menurut Rikarson, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama untuk program perbaikan rumah tidak layak huni.
Kondisi yang dialami Bernadus menjadi perhatian terkait pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah pelosok.
Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT diharapkan dapat menindaklanjuti informasi tersebut melalui pendataan dan verifikasi lapangan, sehingga keluarga yang membutuhkan dapat dipertimbangkan untuk memperoleh bantuan sesuai ketentuan program yang tersedia.
Bagi Bernadus dan keluarganya, rumah yang aman dan layak merupakan kebutuhan mendasar untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
Di tengah keterbatasan yang dihadapi, keluarga tersebut masih berupaya memenuhi kebutuhan hidup dengan mengandalkan kemampuan yang ada.
Perhatian pemerintah dan dukungan berbagai pihak diharapkan dapat membuka peluang bagi keluarga Bernadus untuk memperoleh hunian yang lebih layak, sekaligus membantu warga lain yang menghadapi kondisi serupa di Desa Mahe Tana.
✒️: Albert Cakramento
